Rabu, Maret 3, 2021

Musik, Konser Amal, dan Polemiknya

Membangun Kebudayaan Melalui Dongeng Anak

Di tengah derasnya arus informasi digital penerbitan buku dongeng anak juga terus berkembang. Pada umumnya anak-anak gemar membaca dongeng. Tidak ada batasan kapan anak...

Gagal Paham Papua dan Kepentingannya (Bagian 2)

Selain itu jika diperhatikan ada persoalan proses integrasi yang lambat dan cenderung stagnan. Tanggung jawab integrasi sosial-politik dan budaya tidak bisa dituntut sebagai hanya...

Sastra sebagai prasyarat memahami Al-Qur'an

Memahami al-Qur’an di samping tidak lepas dari kaidah kebahasaan juga tidak tepas dari konteks kemasyarakatan. Kaidah kebahasaan tentu terkait dengan kesusastraan dan para pengkaji...

Agamaku, Labelku

Menjadi mayoritas di negeri majemuk yang indah ini tentu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Seseorang tentunya akan bahagia ketika apa yang dipercayainya menjadi kepercayaan orang...
Aris
Etnomusikolog, Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta

Di tengah pandemi, musisi bergerak menghimpun donasi. Musik tidak saja menjadi katalisator pemenuhan kebutuhan estetis, namun juga bermisi kemanusiaan. Tanggal 11 April 2020, Didi Kempot melakukan konser amal dari rumahnya di Solo. Disiarkan salah satu televisi nasional dan mendapatkan donasi sebesar 7,6 miliar rupiah.

Disusul kemudian konser bertajuk “Solidaritas Papan Atas” pada 10 Mei 2020, melibatkan kurang lebih 300 musisi (beberapa di antaranya; Iwan Flas, Agnez Mo, Via Vallen) dan meraup 12 miliar rupiah. Tanggal 16 Mei 2020, konser bertajuk “Solidaritas Jaga Indonesia” berhasil menghimpun 5 miliar rupiah.

Terbaru, konser yang diiniasi oleh Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan MPR-RI dan Gugus Tugas Covid-19 dengan tajuk “Bersatu Lawan Corona” pada 17 Mei 2020 berhasil mengumpulkan 4 miliar. Rentetan itu belum termasuk konser-konser mandiri yang dibuat musisi di rumahnya masing-masing dengan tujuan yang sama.

Tidak semua konser tersebut mendapatkan apresiasi positif dari pubik. Konser “Bersatu Melawan Korona” misalnya, kala itu dianggap menyinggung umat Islam yang sedang khusyuk menghadapi sepuluh hari terakhir ramadhan. Bahkan, pandangan demikian dengan segera dijadikan komoditas politik oleh sebagian politisi yang beramai-ramai mengutuk konser amal tersebut.

Pada konteks inilah kita melupakan bahwa, konser musik tersebut berlangsung secara “daring”, alias tidak sungguh-sungguh nyata ada di depan kita, tetapi lewat gawai di genggaman, laptop ataupun layar televisi di rumah. Peristiwa yang demikian menuntut pembacaan sekaligus pemaknaan lebih jauh tentang arti penting kata “hadir” bagi penonton di konser musik virtual itu.

Kuasa Penonton

Apa yang membedakan konser amal itu dengan sajian serupa di kanal-kanal media sosial semacam youtube, facebook, instagram muapun podcast? Tidak lain karena konser itu dilakukan secara langsung (live), sehingga memungkinkan penonton dapat menikmati detik itu juga.

Tetapi bukankah segera konser live itu juga menjadi sebentuk “rekaman” atau dokumentasi, yang kapanpun bisa kita nikmati ulang dengan sekali klik? Konser musik dalam situasi pandemi menihilkan peran pentonton secara langsung di panggung. Tubuh penonton itu direduksi menjadi angka-angka yang dapat kita baca di kanal youtube misalnya dengan nama “dilihat berapa kali” serta berapa yang suka (gambar jempol ke atas), berapa yang tidak suka (gambar jempol ke bawah), serta berapa yang berlangganan (subscribe). Kehadiran tubuh penonton mengecil, terwakili lewat satu sentuhan jari.

Ketidaknyataan konser di depan mata, dan tidak hadirnya tubuh penonton secara langsung, memungkinkankan konser tidak harus ditonton secara serius dan utuh dari awal hingga akhir. Dalam menikmati konser, publik tentu masih bisa memasak, menyapu, mengepel, mencuci dan makan es buah atau bahkan melihat sekilas untuk kemudian diganti aktivitas lain seperti membaca misalnya.

Sama seperti menyaksikan sinetron di televisi, kita bisa mengubah saluran kapanpun ataubahkan mematikannya. Sayangnya, tidak sedikit publik yang cenderung menganggap konser daring itu sebagai sebuah pertunjukan musik pada umumnya, di mana penonton seolah secara sadar hadir tepat di depan panggung, membeli tiket, ikut menyanyi dan bergoyang, sehingga waktu sepenuhnya tercurahkan untuk konser itu. Padahal realitasnya tidaklah demikian. Oleh karena itu, konser musik virtual yang dianggap menganggu kenyamanan sejatinya tidal lagi relevan.

Pemegang Kuasa

Penonton koser virtual adalah pemegang kuasa dan kontrol atas dirinya, terkait apa-apa yang boleh atau harus dilihat dan didengar. Kuasa itu berupa kemampuan dan kemauan untuk sekadar mematikan dan menghidupkan layar televisi dan gawai. Dan itu bukanlah sesuatu yang sulit.

Di satu sisi, konser musik virtual meringkas berbagai hal menjadi lebih efesien (walau belum tentu efektif) seperti tata panggung, lampu dan pengeras suara. Tetapi pada saat yang bersamaan menghilangkan kesan “performance scape” atau suasanya pertunjukan yang senyatanya.

Oleh karena itu, seringkali muncul pertanyaan, kenapa kita rela menonton pertunjukan musik Didi Kempot secara langsung kendatipun lagu-lagunya dengan mudah dapat kita temukan dan dengarkan di youtube misalnya. Hal itu tidak lain dikarenakan, bahwa kita tidak mau kehilangan suasana pertunjukan, ambiance atau getaran-getaran musikal seketika yang tidak dapat kita jumpai dalam konser daring.

Penikatan yang demikian membutuhkan konsentrasi penuh, yang terfokus pada apa yang dilihat dan didengarnya, tidak di luar itu. Sebaliknya, konser daring mendekonstruksi semua itu, penonton rentan dengan jemu dan kebosanan karena monoton berhadapan dengan layar yang tunggal. Dengan kata lain tidak memiliki kontrol atau kebabasan dalam daya penikmatan.

Panggung pertunjukan itu semacam ruang yang mempertemukan tubuh-tubuh penonton dalam hajat yang sama. Kebersamaan itu yang dirindukan, sebagaimana berjoget dan bernyanyi serempak. Kondisi pandemi, menjadikan penonton sebagai pemilik kuasa atas pertunjukan yang hendak dinikmatinya, dan hal ini tentu akan mengubah gaya pementasan musik ke depan.

Konser musik virtual yang bertujuan menggalang dana untuk kemanusiaan di hari ini, kendatipun menyisahkan banyak celah (baca estetis), sudah selayaknya dibaca dalam episentrum kultural, sebagai sebuah sikap kegotong-royongan membantu sesama yang sedang kesusahan. Tidak selayaknya pula harus dibenturkan dengan persoalan lain yang justru seringkali tak memiliki hubungan atau konteks keterkaitan secara langsung, apalagi untuk urusan yang cenderung politis.

Aris
Etnomusikolog, Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.