OUR NETWORK

Musik di Asian Games Kurang Berdaulat

Tentu hal tersebut patut dibanggakan, terutama sebagai tuan rumah di perhelatan pesta olahraga terbesar se-Asia.

Asian Games telah mencapai purnanya pada 2 September kemarin di Gelora Bung Karno. Upacara seremoni penutupan tersebut berjalan dengan gemilang: tak kalah meriah dengan seremoni Pembukaan.

Pada pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno – Sabtu, 18 Agustus 2018 menuai tanggapan positif dari berbagai pihak dalam maupun luar negeri.

Tentu hal tersebut patut dibanggakan, terutama sebagai tuan rumah di perhelatan pesta olahraga terbesar se-Asia.

Pada Pembukaan Asian Games kemarin, pihak penyelenggara mematok harga tiket – kategori C Rp750.000, kategori B Rp1.500.000, kategori A Rp5.000.000 –  dengan menyuguhkan gelaran tari juga musik.

Wishnutama, selaku Creative Director, menunjuk Addie MS dan Ronald Steven sebagai Music Director. Dalam prosesnya Addie MS lebih fokus pada penggarapan untuk orkestra, serta bekerjasama dengan City of Prague Philharmonic Orchestra, sebuah grup orkestra yang berasal dari Praha, Ceko. Sedangkan Ronald Steven berfokus pada musik-musik tradisional untuk tarian.

Hasil kolaborasi kedua orang tersebut ialah paduan musik tradisional, sentuhan musik rock dan jazz, serta dibalut dengan iringan orkestra.

Tidak berbeda jauh untuk seremoni Penutupan Asian Games kemarin. Pihak penyelenggara mematok harga tiket – kategori C Rp.450.000, kategori B Rp. 1.000.000, kategori A Rp. 2.000.000, serta VIP yang dipatok Rp.3.500.000 – dengan suguhan yang secara umum sama: musik dan tari.

Sebuah pernyataan dilemparkan Septian Dwi Cahyo (25) – komponis muda yang baru menyelesaikan studinya di Graz, Austria – pada sebuah postingan di media sosial. Menurutnya, penggarapan musik untuk acara sebesar Asian Games seharusnya lebih mengedepankan idiom-idiom tradisional, baik dari wilayah instrumen maupun bahasa musiknya secara utuh. Baginya, justru dengan mengedepankan nilai-nilai musikal tradisional secara utuh, kita semakin meneguhkan jati diri sebagai bangsa yang berdaulat.

Atas dasar itu, saya menghubungi Septian sebagai upaya untuk mengorek lebih dalam tentang pandangan, serta sikapya – terkait kedaulatan musik tradisi kita dan peluangnya.

Pernyataan Anda perihal musik di Asian Games 2018 bakal lebih ‘berdaulat’ seandainya memakai instrumen tradisional Indonesia secara keseluruhan, seperti – yang Anda contohkan: karya Indonesia National Orchestra (INO) dari Franki Raden. Bisa dijelaskan lebih rinci?

Ya, Indonesia itu negara yang berdaulat. Kenapa tidak semakin mengukuhkan kedaulatan itu dengan memamerkan kedaulatannya secara utuh; penggunaan instrumen, dan bahasa musik-musik daerah yang kaya tanpa harus direduksi – misal: sebuah komposisi piano, alih-alih berbau tradisional, dengan penggunaan nada pentatonis, justru mereduksi kekayaan bahasa musik-musik tradisional Indonesia.

Apakah iya sistem tuningnya sama dengan sistem well-tempered? Kenapa enggak pakai aja langsung instrumen aslinya?

Selain itu menurut saya akan memperlihatkan rasa percaya diri sebuah bangsa terhadap ‘jatidiri’-nya. Selain itu, sayang aja, kekayaan bahasa dan bentuk musik-musik bangsa sendiri tidak ditampilkan secara maksimal di acara kenegaraan sebesar ini.

Kalau sekiranya sudah berdaulat, konsep komposisi yang ideal menurut Anda?

Itu tergantung yang mau dicapai. Sulit untuk mengidealkan atau membakukan harus gimana dan diapakan, seperti, misalnya: lagu kebangsaan itu aturannya boleh atau tidak untuk diotak-atik.

Ya, kalau berkaitan dengan Asian Games kemarin, saya pikir bisa lebih diekspos kekayaan musik-musik daerah Indonesia. Masalah cara kan itu tergantung kreativitas komponis yang terlibat.

Bagaimana pendapat Anda tentang Indonesian National Orchestra (INO)?

INO adalah sebuah langkah yang besar! Walaupun pastinya akan ada yang tereduksi – misal dengan digabung seperti itu, apakah masih bisa mengekspos secara rinci bahasa musik per daerah yang dilibatkan. Tapi sekali lagi, apa yang dilakukan INO bisa menjadi representasi atas keragaman dan kekayaan musik yang Indonesia miliki.

Bagaimana peluang konsep musik dengan muatan tradisional secara utuh dapat menemukan posisinya di gelaran internasional, katakanlah semacam Asian Games, Sea Games, dan sebagainya?

Wah, ini saya enggak tau. Misalnya seperti Franki Raden itu. Kenapa konsepnya belum bisa muncul ke ranah/acara pemerintahan macam Asian Games, ya, saya kurang tau. Mungkin soal proyek, atau mungkin juga karena bentrok jadwal. Saya kurang paham soal itu.

Kalau dari pengamatan Anda sendiri, mengapa wacana seperti yang Anda andaikan sangat sulit untuk disalurkan?

Ada banyak anak bangsa yang peduli dengan musik daerahnya, misalnya: Nursalim Yadi Anugerah bersama dengan Ensamble Balaan Tumaan yang sedikit demi sedikit meriset musik-musik Kalimantan; Franki Raden dengan INO, dan lain-lain. Tapi sepertinya memang untuk acara/proyek seperti ini ada tendensi ‘siapa dekat dia dapat’. Ya, saya pikir, mungkin pemerintah kurang rajin melirik potensi yang lain.

Ada kemungkinan komponis-komponis semacam Anda, Franki Raden, dan lain-lain, menghindar diri dari gelaran semacam ini?

Saya pikir tidak juga. Misal, jika saya tidak salah ingat, ketika saya nonton INO di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) tahun 2011/2012, itu atas kerjasama dengan pihak dinas pariwisata; atau bahkan Nursalim ikut proyek Seniman Mengajar yang diadakan oleh Kemdikbud. Mestinya lewat jalur ini, pusat bisa memantau orang-orang potensial lainnya.

Berdasarkan video teaser latihan orkestra untuk Pembukaan Asian Games, semua pemainnya diimpor dari luar. Pendapat Anda bagaimana?

Ya, gimana, ya? Miris juga sih kalau emang gitu. Kayak enggak punya Sumber Daya Manusia (SDM) lokal yang kompeten aja. Banyak, lho, musisi dan komponis Indonesia yang berprestasi di luar Indonesia, dan sangat dihargai di sana.

Mungkin seperti yang saya bilang sebelumnya, pusat kurang rajin memantau potensi-potensi anak bangsanya sendiri.

Apakah kualitas pemain orkestra kita memang masih jauh dari kata cukup?

Dari sekian banyak musisi di Indonesia masa enggak bisa bentuk orkestra yang mantap? Dan ada banyak pemuda-pemudi yang potensial. Adrian Prabava karirnya malah bersinar di luar negeri, dan banyak musisi hebat lainnya begitu.

Kenapa tidak panggil mereka pulang buat ‘membina’? ***

Music Writer

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…