OUR NETWORK

Muruah Ulama dan Citra Islam

Penganut, pengamal, dan penghayat Islam meyakini agama ini shâlihun li kulli makânin wa zamânin, yakni kompatibel untuk segala tempat sepanjang zaman. Sementara kita hidup tidak di ruang hampa yang kedap perubahan. Zaman tak henti berubah seiring dinamika manusia yang terus bergerak.

Benteng terakhir umat Islam di tangan para ulama. Jika muruah ulama baik, Islam akan baik. Jika muruah ulama bopeng, Islam pun akan bopeng. Premis ini tentu bukan dalam konteks Islam sebagai ajaran, melainkan untuk konteks citra yang memberikan warna bagi kehidupan beragama. Sedangkan Islam sebagai ajaran akan terus autentik selama berpijak pada sumber utamanya, yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Islam diyakini telah sempurna sebagai ajaran begitu al-Quran tuntas diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw dalam waktu relatif singkat, yakni lebih-kurang 22 tahun (610-632 M). Bagi umat muslim, al-Quran adalah pedoman dan Nabi Saw panutan. Selama al-Quran dipedomani dan Nabi Muhammad Saw diteladani, insya-Allah Islam menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘âlamîn).

Islam sejati memanifestasikan al-Quran sebagai ajaran dan mengaktualisasikan kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai anutan. Kita bisa mengibaratkannya Perangkat Operasional atau Operating System (OS) dari kehidupan beragama. Jadi, seseorang yang menganut dan mengamalkan ajaran Islam sama dengan mengoperasionalkan Islam dalam kehidupannya.

Penganut, pengamal, dan penghayat Islam meyakini agama ini shâlihun li kulli makânin wa zamânin, yakni kompatibel untuk segala tempat sepanjang zaman. Sementara kita hidup tidak di ruang hampa yang kedap perubahan. Zaman tak henti berubah seiring dinamika manusia yang terus bergerak.

Generasi pun silih berganti; sejak era pembentukan formal (formalisasi) agama wahyu terakhir ini semasa hidup Nabi Muhammad Saw, lalu era sahabat, era pascasahabat (tâbi‘în), era tâbi‘ tâbi‘în, era modern, dan hingga kini era milenial. Tiap-tiap era memiliki karakter dan citranya sendiri-sendiri seturut cara para penganutnya mengamalkannya.

Citra Islam

Seperti dikemukakan, Islam sebagai ajaran dan anutan ibarat OS dari kehidupan beragama. Citranya seturut cara para penganutnya mengamalkannya. Di era pembentukan, Islam murni diwarnai pembawanya, Nabi Muhammad Saw. Lalu di era sahabat, Islam mulai diejawantahkan melalui kebijakan-kebijakan (ijtihad) para sahabat seturut tuntutan untuk pengembangan. Di akhir-akhir era ini mulai terjadi pewarnaan (coloring) terhadap citra Islam dengan rona kekuasaan.

Selanjutnya di era tabi‘în, citra Islam diwarnai dinamika politik kekuasaan serta ilmu pengetahuan. Dua dinasti besar mewarnai era ini, yakni berturut-turut Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah. Sejarah mencatat dua dinasti ini—dengan segala dinamika yang menyertainya—mewarnai citra Islam dengan politik kekuasaan atas dunia.

Lalu mengiringi citra kekuasaan dan politik, gereget umat muslim terhadap ilmu pengetahuan pun meluas. Di era ini, lahir metodologi berbagai ilmu keislaman di tangan ulama-ulama mumpuni tak tertandingi di berbagai bidang. Ilmu-ilmu keislaman berasimilasi dengan ilmu-ilmu lain, dan terjadi proses spesialisasi.

Berbagai madzhab dalam bidang fikih dan kalam serta ilmu-ilmu hadits, tafsir, dan tasawuf maupun ilmu-ilmu sosial dan eksakta mulai berkecambah di era ini, dan terus berkembang hingga ke era berikutnya (tâbi‘ tâbi‘în dan sesudahnya). Ulama-ulama terkemuka zaman itu mewarnai citra Islam dengan kemodernan ilmu pengetahuan dan budaya disertai dasar-dasar teknologi.

Kemudian memasuki era modern—dalam konteks ini kemodernan mengacu pada kebangkitan Barat (Eropa)—citra Islam mulai “babak belur,” dan diwarnai perpecahan karena pelbagai konflik kepentingan dalam tubuh umat disertai rongrongan imperialisme bangsa-bangsa Barat ke dunia Timur. Sejak itu, umat muslim terhuyung oleh pertikaian internal plus rongrongan eksternal. Ijtihad mandek, citra kekuasaan dan keilmuan Islam pun memudar.

Konteks Indonesia

Narasi tentang sejarah Islam masuk ke bumi Indonesia dikemukakan melalui beberapa teori dan pandangan, bisa dikerucutkan ke dalam dua teori: Makkah (Hijaz) dan Gujarat (India). Menurut teori Makkah, Islam masuk ke Nusantara ini langsung dari Arabia pada abad ke-7 M/1 H. Teori ini dipopulerkan terutama dari pandangan Prof. DR. HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Sedangkan menurut teori Gujarat, yang dibangun dari pendapat Prof. Snouck Hurgronje, masuk pada abad ke-13 M/7 H melalui para pedagang muslim dari India.

Namun tulisan ini tak hendak mendiskusikan soal mana yang lebih sahih dari dua teori tersebut. Jika kita berpegang pada teori Makkah, artinya sejak awal masa pertumbuhan, agama wahyu terakhir ini sudah memijak bumi Indonesia. M.C. Ricklefs mencatat dalam bukunya, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, 2005), “Dapat dipastikan bahwa Islam sudah ada di negara bahari Asia Tenggara sejak awal zaman Islam.”

Silsilah keilmuan ulama-ulama Nusantara kurun awal pun menambat ke tanah Arab (Makkah). Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916 M), misalnya, dikenal sebagai guru para ulama besar Indonesia. Dialah orang pertama dari Indonesia yang menjadi imam besar, guru besar, dan khatib Masjidil Haram sekaligus mufti Madzhab Syafi‘i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Makkah.

Banyak ulama besar berpengaruh di Indonesia adalah murid-muridnya. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy‘ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Kedua tokoh ini tak diragukan—dengan tidak menyampingkan ulama-ulama lainnya yang juga banyak berperan mencitrai Islam—merupakan lokomotif yang memberikan banyak citra positif bagi pergerakan dan perkembangan umat Islam Indonesia di era modern.

Muruah Ulama

Tantangan Islam dan umat muslim di era milenial alih-alih surut, justru makin kompleks. Citra kekuasaan dan keilmuan yang pernah mewarnai dunia Islam lebih sering tampil dan ditampilkan hanya sebagai serpihan-serpihan kenangan, tanpa agregasi. Disintegrasi umat muslim makin tak keruan, dan muruah ulama terus mengalami degradasi.

Masalah disintegrasi umat ini tak lepas dari muruah ulama. Dengan kata lain, degradasi muruah ulama menimbulkan segregasi di kalangan umat. Akibatnya, mereka seperti kehilangan pegangan sehingga mudah diombang-ambingkan oleh gencarnya arus informasi yang tersiar melalui jaringan teknologi.

Muruah terkait langsung dengan integritas, dan ulama sering disebut sebagai penerus misi para Nabi. Dalam kaitan ini, integritas ulama dituntut setara atau setidaknya mendekati integritas para Nabi. Bahkan dalam soal-soal tertentu, tantangan ulama kontemporer bisa jadi lebih berat dan lebih kompleks dari tantangan yang dihadapi para Nabi di era mereka.

Para Nabi dipilih langsung oleh Tuhan untuk menjalankan misi-Nya bagi umat manusia, dan untuk itu mereka diarahkan melalui perantara wahyu. Sedangkan ulama, apakah juga dipilih Tuhan? Jawabannya bisa diperdebatkan. Kenyataan menunjukkan tak semua aspek dari kehidupan ulama positif untuk diikuti. Maka ada term ulama sû’ (jahat), misalnya.

Para Nabi diberi tugas profetik menyampaikan misi Tuhan kepada sekalian umat manusia. Tugas itu pun ‘tuntas’ dengan berakhirnya masa kenabian Muhammad Saw. Lalu ulama dituntut meneruskan misi profetik ini kepada umat manusia jauh bahkan hingga ke akhir masa. Tidak cukup hanya dengan menyampaikan, mereka juga dituntut mampu mengelaborasi serta mengembangkan pesan dan ajaran kenabian dari Tuhan sesuai perkembangan zaman. Di sini, muruah ulama menentukan citra Islam kini dan ke depan.

Editor dan penulis lepas | Menjelajah dunia kata | Merangkai kalimat | Menemukan dan menyuguhkan mutiara makna

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.