Rabu, Januari 20, 2021

Mungkinkah Sistem Zonasi “Universitas” Dibuat

Perspektif Hukum Kasus Meiliana

Saya melakukan sedikit riset pemberitaan media mengenai kasus Meiliana. Hasilnya cukup memprihatinkan. Pemberitaan kasus ini diframing secara sepotong-sepotong, yang kemudian dijadikan bahan bakar perdebatan. Secara...

PSBB dan Lepas Tangan Negara?

Sebuah adagium menyatakan bahwa hebat tidaknya figur pimpinan akan teruji manakala institusi yang dipimpinnya sedang dalam keadaan darurat. Di masa darurat inilah sosok pimpinan...

Masyarakat Adat dan Upaya Inklusi Sosial

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyebutkan 2.332 komunitas adat di Indonesia yang memiliki kekhasan identitas sosial berdasarkan tradisi, yang menjadi basis cara pandang dan...

Tasyabuh Bil Kuffar, Pemilu, dan Tahun Baru

Tasyabbuh bil kuffar kayaknya menjadi isu kekinian khususnya bila menyangkut atribut natal ataupun perayaan tahun baru. Lebih lebih beberapa waktu lalu Ustadz Abdul Shomad...
Dayat Salam
Mahasiswa akhir UIN Jakarta

Dalam mempraktikkan format baru  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tentu menuai banyak kritikan. Walupun sistem zonasi sudah berlaku tahun lalu, namun dengan adanya pengesahan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 14 Tahun 2018 kembali menegaskan berlakunya sistem zonasi untuk tahun 2018. Perbedaan sistem lama PPDB sebelumnya ialah siswa yang diterima menggunakan sistem Nilai Ebtanas Murni (NEM).

Dengan menggunakan sistem zonasi, jumlah keseluruhan siswa yang diterima di sekolah minimal 90 persen yang berdomisili pada zona terdekat sekolah tersebut. Untuk lima persen diberikan kepada siswa berpretasi dan sisanya untuk siswa pindahan. Dikutip dari laman cnnindonesia.com orang tua murid menyoroti sistem ini dalam beberapa poin seperti tidak banyak pilihan sekolah karena jumlah sekolah yang sedikit disetiap satu zonasi.

Tujuan pemerintah menerapkan sistem ini adalah untuk menghapus istilah kastanisasi yang sudah mendarah daging dalam dunia pendidikan kita. Tak dipungkiri kita sering mendengar dengan istilah sekolah “favorit”. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu dan punya kelebihan materi. Sistem ini pun berkembang pesat di daerah perkotaan.

Perlahan sistem kastanisasi sekolah telah dihilangkan dengan memunculkan istilah sistem zonasi. Namun sistem ini hanya terjadi di sekolah SD/SMP/SMA. Tapi bagaimana dengan siswa yang telah lulus dari SMA sederajat dan ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi?

Tiap tahunnya jutaan siswa SMA sederajat lulus dan berhak untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Pemerintah pun telah memfasilitasi siswa yang lulus untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Mulai dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sampai dengan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Lebih lanjut berbagai jenis jalur mandiri yang disediakan oleh perguruan tinggi negeri.

Sistem SNMPTN maupun SBMPTN ini sendiri tiap tahun mendapat evaluasi. Hasilnya penyebutan jenis nama ujian yang disediakan oleh pemerintah berganti-ganti. Diawali dengan Sekertariat Kerjasama Antar Lima Universitas (SKALU) pada awal 70an. Tiga tahun berselang kemudian berubah menjadi Proyek Perintis sampai tahun 1983. Selanjutnya ada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU). Pada sistem ini pula terdapat jenis penerimaan mahasiswa baru tanpa ujian yang dikenal dengan PMDK.

Walaupun  dalam dua dekade terakhir terdapat sedikit perubahan dalam istilah penamaan, namun untuk sistem masih sama yaitu tedapat ujian tulis dan jalur undangan. Sekarang, sistem penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh pemerintah  ialah dengan menggunakan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Sistem SNMPTN sendiri menggunakan persyaratan akreditasi sekolah. Maksudnya siswa yang telah lulus dan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri harus bersekolah yang terakeditasi. Hal ini agar kemungkinan dia diterima oleh perguruan tinggi semakin besar peluangnya. Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengatur besaran peluang siswa yang diterima melalui SNMPTN.

Bagi sekolah yang memiliki akreditasi A mendapat kouta 50 persen, sedangkan akreditasi B  mendapat kouta 30 persen dan akreditasi C mendapat kouta 10 persen.  Berlakunya sistem  seperti ini terus memakan korban bagi siswa yang tidak bersekolah yang disebut “sekolah favorit”.

Belum lagi persaingan yang sangat tinggi di perguran tinggi negeri. Hal tersebut justru harus mengubur impiannya melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi swasta memerlukan biaya yang sangat mahal. Belum lagi perekonomian masyarakat ke bawah untuk memenuhi kebutuhannya saja pas-pasan apalagi untuk biaya sekolah.

Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem zonasi sekolah membawa angin segar dalam perubahan dunia pendidikan kita. Pemerintah pun harus serius dalam menjalankan kebijakan ini. Apalagi janji untuk menghapus sekolah yang dicap “favorit” harus ditepati. Agar pendidikan kita merata.

Lebih lanjut kebijakan ini hanya berjalan pada pendidikan di tingkat SD/SMP/SMA.  Kebijakan ini perlu juga diterapkan di tingkat pendidikan tinggi. Harus ada keselarasan antara kebijakan Kemendikbud dan Kemenristekdikti. Apalagi sistem penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh pemerintah masih dengan sistem “kastaniasasi”. Yang mana untuk sekolah favorit lebih diuntungkan dan mempunyai peluang yang cukup besar. Selain itu perguruan tinggi masih berpusat di pulau jawa. Hampir semua perguruan tinggi negeri yang berkualitas berpusat di pulau jawa.

Dayat Salam
Mahasiswa akhir UIN Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.