OUR NETWORK

Mungkin Kita Menilai DPR dengan Premis yang Salah

Saya sarankan benar-benar, tidak usah ke TPS, beli tinta sendiri, celupkan kelingking anda lalu cari promo gratis ke restoran terdekat sambil berucap “Pie? Penak aku Tho?”.

Mungkin bukan sesuatu yang tabu, Ketika menyebut kata DPR, besar kemungkinan kolega atau teman di sekitar kita pasti akan menyambut dengan “alis terangkat”. DPR (mungkin) adalah lembaga negara dengan citra paling buruk.

Memang menyedihkan melihat bahwa lembaga yang seharusnya menjadi simbol supremasi rakyat justru tidak dipercaya oleh sebagian besar masyarakat yang mereka wakili.

Jika mendengar soal DPR, yang seringkali kita tangkap saat melihat pemberitaan media mengenai kinerjanya, adalah tidak jauh dari diksi “pemalas”, ”tidur”, “koruptor” dan lain sebagainya. Stigma yang bisa saya tangkap, mereka seolah digaji buta diatas penderitaan rakyat. Saya mungkin setuju demikian, namun saya tidak percaya sepenuhnya kalau semua anggota DPR tidak bekerja.

Mungkin selama ini kita keliru setiap kali kita mendengar anggota DPR melontarkan pernyataan kontroversial dan berpikir, “Ini DPR bodo banget!”, tanpa mencerna lebih dulu, ataupun tanpa argumen yang “berimbang”, yang ada nyinyiran, cenderung ad hominem; bermodal sebal saja? Bila benar demikian, berarti selama ini kita mungkin memandang politisi dengan premis yang salah.

Berangkat dari keresahan tersebut, Saya mengunjungi kantor DPRD di kota saya beberapa minggu lalu dengan harapan dapat menemui para dewan supaya memahami bagaimana proses berpikir mereka.

Dari memahami, kita bisa mendapat gambaran yang lebih akurat untuk menemukan common grounds (persamaan). Tentu saja, saya bukanlah siapa-siapa, bukan orang penting, ataupun memiliki relasi personal dengan para dewan itu sendiri. Kalau anda menganggap lucu bila saya menggunakan istilah “tabayyun”, mungkin verifikasi adalah kata yang ekuivalen

Kesan pertama saat menginjak pertama kali, nampaknya anggapan eksklusif ketika melihat mahasiswa berdemonstrasi di depan gedung dengan pagar tinggi, kawat berduri di media nampaknya perlu direvisi. Saya sama sekali tak mengalami kesulitan, cenderung santai. Bahkan tidak ada satpam yang berjaga untuk menanyakan kepentingan saya apa.

Meski pada akhirnya saya gagal bertemu satupun dengan anggota DPRD karena rapat (ya maklum spontan dan mengenal siapa anggota DPR-nya saja besarnya tidak lebih dari nol). Namun saya tetap diterima dan disambut baik oleh ketua tata usaha dewan disana, pak Agus Trilaksono. Saya mengobrol dengan beliau sekitar hampir 45 menit.

Kesimpulan saya setelah mengobrol, saya mendapat banyak wawasan baru yang sebelumnya saya takpernah tahu. Meski banyak sebenarnya dari statement beliau bisa digali lebih dalam, namun kealpaan saya dalam mencari bukti (yang sudah sewajarnya sebagai masyarakat mengawasi) untuk menyokong argumen tentang stereotip mengenai kinerja kongkret DPR misalnya, dapat dibantah dengan mudah dan dijelaskan dengan sabar oleh beliau.

Mungkin saja DPR bukan orang dungu yang sering kita kira. Meminjam kata pangeran, bisa saja mereka cerdik cendekia luar biasa. Sehingga setiap kali kita dengan prematur menuding mereka “bodoh”, sebenarnya kita kehilangan kesempatan mengoreksi apa yang sedang mereka rencanakan dan inginkan dengan manuver politiknya tersebut. Kita seakan berpasrah kepada kenyinyiran kita sebagai obat penyembuh untuk dewan supaya dapat berbuat benar ketika menurut kita salah.

Siapakah dewan yang mewakili anda?

Saya mencoba meraba-raba dengan bertanya mengenai kinerja DPR di lingkungan saya. Hampir kesemuanya kompak menjawab buruk. Namun ketika ditanya lebih lanjut, siapa anggota parlemen yang mereka coblos pada Pemilu 2014, mereka menjawab tidak tahu. Apalagi yang menang mewakili Dapil mereka dan kini kinerjanya seperti apa, responden yang saya tanyai menjawab sama.

Kalau kita bahkan tak-tahu nama anggota DPR dari Dapil kita, bagaimana kita bisa berkata bahwa mereka tidak bekerja? Mungkin saja beliau memang tidak bekerja, namun bagaimana jika ternyata Ia bekerja? Anda tidak akan tahu karena namanya saja anda memang tak mencari tahu?

Ada 560 anggota DPR yang kita gaji di Senayan. Berapa banyak yang namanya sering eksis di media-massa? 50? Bahkan saya saja hanya tahu 10. Mereka ini yang mungkin akrab syuting didepan layar ataupun seringkali namanya dikutip di berita. Masih ada sekitar 500 lebih anggota DPR lain yang jarang muncul di media. Mereka mungkin saja bekerja. Mungkin saja tidak.

Di DPRD yang saya kunjungi, terdapat 50 anggota DPRD, apabila anda warga sidoarjo, apakah anda mengenal salah satu saja diantara mereka? Lalu bagaimana anda bisa mencaci maki di sosial media, dan mengklaim pejabat dan dewannya ga becus, bila kita saja taktahu secara pasti apa yang mereka kerjakan untuk Sidoarjo?

Mengatakan bahwa anggota DPR itu pemalas, sebenarnya adalah (tabiat) gampang kita untuk menilai suatu perkara yang justru merugikan kita sebagai masyarakat. Setiap kali kita dengan cepat melakukan justifikasi terhadap DPR, tanpa asumsi detail, sesungguhnya kita justru luput memberikan koreksi kita sebagai masyarakat atas tindakan-tindakan mereka. Setiap kali kita menuding dengan cepat, “Ah, si F itu bodoh, males aku ngeliatnya?!” saat itu pula kita justru kehilangan kesempatan untuk memperkirakan lebih dalam apa sebenarnya yang sudah Ia lakukan atau apa yang akan Ia lakukan.

“Ah, soktau!”. Saya menulis ini bukan berarti saya mengatakan bahwa anggota DPR sudah bekerja dengan baik dan kebal kritik. Tidak, Bukan begitu cara pikirnya. Justru DPR adalah lembaga yang harus diawasi benar-benar. Kita takkan bisa melakukan pengawasan jika belum apa-apa kita sudah terjebak dalam rectoverso parsial dan langsung mengambil simplifikasi simpulan bahwa anggota DPR pemalas, tidak guna. Mungkin saja memang demikian, tapi bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bila kita saja tak tahu siapa saja mereka?

Anda boleh saja mengumpat ketika melihat kasus korupsi Setya Novanto. Namun kita harus menerima fakta bahwa Setnov bisa terpilih menjadi dewan hingga pucuk pimpinan, bukan atraksi sulap semata. Terdapat orang yang memilih dirinya. Siapa? Kita semua, masyarakat. Bagaimana bisa kita memastikan dewan itu tidak melakukan korupsi, kalau dari awal saja anda tidak memverifikasi terlebih dahulu dewan pilihan anda.

Pertanyaan untuk kita

Berbekal metode yang dilakukan Pangeran. Jadi, usai membaca tulisan ini, mari bertanya pada diri sendiri : Siapa anggota DPR yang mewakili Anda di parlemen? Jika belum tahu, silakan dicari tahu.

Jika Anda sudah tahu, yang harus dilakukan selanjutnya, cari tahu apa yang sudah mereka kerjakan. Darisitu, silakan Anda nilai apakah memang telah bekerja dengan baik atau tidak. Jika sudah baik, bagaimana agar bisa lebih baik dan jika belum baik, mari tuntut agar mereka bekerja dengan baik.

Pemilu caleg tinggal setahun lagi, demokrasi akan memberikan hasil yang terbaik ketika masyarakatnya melek politik dengan baik juga.

Atau jika anda tetap bersikukuh melestarikan paradigma usang yakni “Nyinyir dahulu, memahami kapan-kapan”. Saya sarankan benar-benar, tidak usah ke TPS, beli tinta sendiri, celupkan kelingking anda lalu cari promo gratis ke restoran terdekat sambil berucap “Pie? Penak aku Tho?”.

Professional Fulltime Jobless(TM) | Pemerhati amatir yang terkadang merubah keresahan menjadi tulisan | Pendukung gerakan literasi "Baca sebelum Bacot"

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…