OUR NETWORK

Muhammad Dalam Kacamata Orientalis

Kajian orientalisme terhadap Islam tidak hanya terbatas pada satu bidang saja.

Dalam perkembangan tradisi keilmuan, terdapat ilmuan barat yang mempunyai concern terhadap dunia Timur dikenal sebagai  orientalis. Kaum orientalis ini mengkaji dunia Timur (termasuk Islam) berdasarkan sudut pandang Barat.

Kajian orientalisme terhadap Islam tidak hanya terbatas pada satu bidang saja. Menurut hemat penulis, hal semacam ini termasuk sebuah gagasan fantastis dan imajiner bagi kaum orientalis yang di tempa dengan semangat apolegetik. Sebab mereka ingin membuktikan bahwa kaum Muslimin secara politik lebih superior, tetapi secara religi memiliki keyakinan penuh bid’ah yang sangat inferior.

Setelah mengkritik dan mendekonstruksi Bible, kaum orientalis berhasil mendulang berbagai prestasi akademis yang telah diakui. Dari berbagai cendekiawan, scientis, dan filosof yang berbondong-bondong  menyumbangkan karyanya dalam bidang ini. Kaum orientalis menganggap bahwa melakukan penelitian dan pengkajian terhadap Al-Qur’an merupakan tantangan baru. Pun mereka mengkaji melalui aspek tafsir, pengambilan hukum dan juga orisinalitas teks Al-Qur’an. Khusus dari aspek yang terakhir disebutkan muncul seorang tokoh orientalis, yaitu Theodor Noldeke. Dalam pembahasan yang singkat ini, penulis ingin membahas tentang pemikiran Theodor Noldeke dalam studi Al-Qur’an.

Theodore Noldeke adalah seorang tokoh orientalis yang  berasal dari Jerman. Ia memiliki reputasi besar dalam studi Al-Qur’an. Ia lahir pada tanggal 2 Maret 1837 di kota Hamburg, Jerman. Pendidikan tingginya ia tempuh di Universitas Gottingen dengan bekal penguasaan bahasa Latin dan Bahasa Semit.

Ia belajar bahasa Semit kepada salah seorang sahabat ayahnya yang bernama H. Ewald dengan materi bahasa Arab, Persia beserta sastranya. Studinya terhadap bahasa-bahasa semit ia lanjutkan dengan mempelajari bahasa Suryani kepada H. Ewald, dan bahasa Arami, yang ia gunakan dalam mengkaji kitab-kitab suci, kepada Bartheau.

Ia mempunyai motivasi tinggi terhadap studi al Qur’an. Hal ini terbukti dengan ia mengikuti perlombaan dalam penelitian mengenai sejarah al Qur’an. Tawaran hadiah sebesar 1.333 lebih Franc Prancis menjadi motivasi awal mengikutsertakan karyanya dalam lomba penulisan artikel yang diadakan oleh Akademi Inskripsi dan Sastra Paris.

Ia berangkat dalam penelitiannya dengan asumsi bahwa al Qur’an bukanlah kitab suci yang orisinal bagi agama Islam. Al Qur’an hanyalah sebuah kitab hasil penduplikatan Muhammad dari kitab-kitab terdahulu dan menuduh Muhammad hanyalah seorang impostor dan bukan seorang nabi, seperti yang selama ini diyakini umat muslim.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa motivasi yang digunakan Noldeke dalam penelitiaanya adalah dengan menggunakan pendekatan kritik-historis, dengan maksud ingin menyatakan bahwa semua kitab suci yang ada adalah palsu, sedangkan yang benar adalah kitab suci agamanya sendiri yaitu Bible.

Pendekatan ini tertuju kepada data kebenaran informasi mencakup perbandingan antara sejarah dan legenda, antar fakta dan fiksi, antar realitas dan mitos. Indikatornya bisa jadi kontradiksi dari sumber informasi dengan sumber lainnya, variasi dan inkonsistensi berbagai versi meskipun berasal dari sumber yang sama.

Hal ini tidak mengherankan karena semua kalangan orientalis mengkaji Islam dengan dasar kebencian dan dendam, sehingga itu yang menjadi landasan berfikir mereka dalam melakukan serangan terhadap benteng keyakinan umat Islam yang disponsori oleh Gereja dan Universitas Barat.

Al-Quran merupakan kitab suci agama Islam yang menjadi rujukan dan standar utama dan pertama di dalam Islam. Oleh umat Islam, al-Quran telah diyakini orisinalitas, kebenaran, dan keterpeliharaannya. Al-Quran disepakati sebagai landasan dan sekaligus pedoman hidup di sepanjang sejarah Islam.

Akan tetapi, Theodore Noldeke, salah satu orientalis yang menggugat orisinalitas dan otentisitas al-Quran dengan harapan untuk mengurangi kekuatan dan peran dalam masyarakat. Theodore Noldeke menggambarkan al-Quran sebagai duplikasi dari kitab-kitab yang sudah ada sebelumnya dengan melacak hubungan dan analisis semantik mufradat al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya.

Theodor Noldeke, ingin membuktikan bahwa apa yang diyakini umat Islam selama ini adalah salah. Ia meyakini bahwa Muhammad bukanlah seorang yang ummi, melainkan ia sangat akrab dengan seni menulis yang saat itu dianggap sebagai derajat orang yang berilmu.  Maka dari itu, Muhammad mampu untuk menduplikasi agama-agama terdahulu. Ia menyatakan bahwa ajaran yang ia bawa bukanlah merupakan produk dirinya sendiri, melainkan adalah produk yang ia ambil dari Kristen dan Yahudi.

Predikat ummi yang cocok  untuk Nabi Muhammad, menurut Theodore Noldeke ialah tidak mengenal kitab-kitab suci terdahulu kecuali sedikit (hanya melalui keterangan wahyu). Ketidakpahaman Nabi Muhammad di buktikan pertama kali oleh Malaikat Jibril di gua Hira’. Dimana Nabi di paksa, dengan tegas Nabi menjawab ما انا بقارئ.

Muhammad sengaja tidak mau dianggap sebagai panutan yang mampu membaca dan menulis. Maka beliau mewakilkan kepada para sahabatnya untuk membaca al-Qur’an dan risalah-rislahnya. Muhammad juga sama sekali tidak pernah membaca kitab-kitab suci terdahulu dan informasi-informasi penting yang lainnya. Pendapat ini juga didukung oleh Muhammad ‘Abid al-Jabiri, menurutnya kata Ummi adalah kebalikan dari “ahl al-kitab”. “ummiyyun” ditujukan bagi orang-orang arab yang tidak faham terhadap kitab taurat dan injil, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat (QS. Al-Baqarah: 78; Ali-Imran: 20 dan al-Jumu’ah: 2).

Pun seni menulis pada masa itu sudah menjadi hal yang banyak di masyarakat Arab menurut Theodore Noldeke. Mereka menggunakannya dalam menuliskan hal-hal yang penting dalam sosial mereka. Perlu diketahui, bahwa nabi Muhammad belum mendapatkan wahyu kecuali saat umurnya mencapai 40 tahun. Dan selama itu beliau tinggal di Makkah, yang saat itu merupakan sebuah desa terpencil, dan penduduknya sebagian besar buta huruf, dan sangat jarang sekali ada yang membaca sebuah buku atau menulis tulisan. Sedangkan kemampuan menulis hanya terdapat pada beberapa pembesar dan penguasa Makkah waktu itu.

Kemudian fakta lainnya adalah, bahwa dakwah Islam mempunyai tujuan untuk merubah system masyarakat dalam hal kaitannya dengan aqidah, pemikiran, dan kemasyarakatan. Maka dari itu yang menjadi musuh dakwah Muhammad adalah mereka yang termasuk para pembesar dan penguasa, sedangkan pengikutnya adalah para masyarakat biasa.

Maka, jika Muhammad bisa membaca dan menulis, pastilah para pengikutnya adalah para pembesar-pembesar tersebut, karena Muhammad dianggap sebagai orang yang sederajat dengan mereka. Dengan fakta ini, bisa dikatakan pula, apabila al Qur’an merupakan karangan Muhammad, maka akan banyak sekali muncul kitab-kitab semisal pada masa itu, karena asumsinya bahwa al Qur’an merupakan buatan manusia yang sama dengan yang lain, dan pada waktu itu sya’ir menjadi tren yang digemari banyak kalangan.

Medan 09 Juni 1998 PUJAKESUMA - Puteri Jawa Kelahiran Sumatera Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…