OUR NETWORK

Mudik dan Kehidupan

Mudik juga bisa diartikan sebagai napak tilas, sebuah perjalanan ke masa lalu.

Mudik, pulang, atau dalam bahasa inggris “home”, yang biasa juga digunakan untuk menunjuk arti rumah, atau tempat tinggal sesungguhnya. Orang-orang yang mudik juga begitu. Kita pulang ke rumah sebenarnya, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan, atau tempat dimana kaki-kaki kecil kita dipahat, sehingga bisa menapaki masa kini dengan kokoh.

Mudik juga bisa diartikan sebagai napak tilas, sebuah perjalanan ke masa lalu. Saat mudik kita bertemu dengan Ibu, rahim kehidupan kita, dan tiang kebahagian kita dunia-akhirat. Kita juga bertemu dengan “ayah”, yang dalam bahasa arab diartikan sebagai tanda, atau tanda kehidupan. Setiap kita, pasti membawa tanda kehidupan dari ayah.

Berkilo-kilometer kita berjalan hanya untuk mencium kedua tangan suci ini. Beratus-ratus ribu, bahkan berjuta uang rupiah kita gelontorkan untuk kembali (mudik/home).

Sebagaimana proses turunnya kenabian dalam arus sejarah, bertahap dan berjenjang. Proses kehidupan kita pun demikian. Dengan turunnya Nabi Muhammad SAW, tidak berarti kenabian Ibrahim AS menjadi tak berguna.

Dengan kata lain, turunnya Nabi Ibrahim AS bukan sebagai batu lompatan bagi turunnya Muhammad SAW. Sebab bila Ibrahim AS adalah batu lompatan, maka saat tugas kenabian sampai pada Muhammad SAW, pernah ada atau tidaknya Ibrahim AS, dalam masa Muhammad SAW sudah tidak berpengaruh lagi. Sebagaimana batu lompatan, maka saat kita sudah di seberang sungai, ada atau tidaknya batu itu lagi, tidak penting.

Proses turunnya kenabian dalam sejarah umat manusia lebih mirip seperti jenjang sekolah. Saat masuk SMP, kita tetap membutuhkan ilmu-ilmu yang kita dapat di SD, begitu seterusnya.

Demikian juga dengan masa lalu – baik atau buruk menurut kita – meskipun saat ini kita sudah lebih pintar, lebih sadar dan lebih kuat, masa lalu adalah sesuatu yang inheren dengan kehidupan kita. Tidak bisa kita melepasnya, meskipun masa lalu itu sangat kita benci. Kita menghadapi masa kini dengan sistem perangkat kehidupan kita. Begitupun kita menghadapi masa depan.

Maka mudik mungkin dapat juga diartikan sebagai upaya untuk menghimpun kembali secara utuh perangkat kehidupan tersebut agar harmonis dengan semua aspek kehidupan yang sedang kita jalani sekarang dan sejajar dengan kebutuhan kita di masa depan. Orang yang kembali, akan lebih berpotensi untuk memahami hidupnya secara lebih utuh daripada yang tak pernah kembali. Hal ini juga yang dilakukan oleh Muhammad SAW dalam misi kenabiannya.

Beliau menghimpun semua unsur kenabian dalam dirinya, dan menyempurnakan sistem masyarakat yang sudah dipersiapkan oleh rangkaian pendidikan para nabi sebelumnya. Sehingga kurang dari umur satu generasi (25 tahun), beliau sudah menyelesaikan misi kenabian seluruhnya, dan umat manusia seluruhnya sudah siap mencapai tangga tertinggi dari potensi kemanusiaannya.

Saat mudik, kita melihat satu-demi satu fregmen kehidupan kita. Perjalanan mudik seperti perjalanan mengumpulkan mozaik kehidupan yang berserak.

Selama ini kita mencari guru kehidupan dan nasehat dari orang-orang bijak untuk dijadikan pegangan. Padahal, setiap jejang kehidupan kita tak lain kumpulan nasehat yang tak kalah banyak hikmahnya dari setumpuk buku kearifan.

Bahkan per momentum dalam kehidupan kita dapat menjadi nasehat yang berharga untuk diri kita, dan menjadi pelipur lara disaat lelah. Begitu banyak hikmah yang terkandung dalam rangkaian masa lalu kita, yang sebagiannya kita genggam, sebagiannya lagi kita simpan, dan ada juga yang kita buang.

Mudik bukan hanya perjalanan materi melintasi ruang, tapi lebih mirip sebagai perjalanan melintasi waktu, perjalanan mengingat atau perenungan. Jarak ruang yang kita lintasi, mungkin tidak seberapa. Namun rangkaian tindakan yang terekam dalam waktu, begitu banyak di sepanjang jalan tersebut. Sehingga jiwa hanya bisa pasrah menerima semuanya, dan mengalirlah air mata saat memasuki gerbang kampung halaman.

Saat ditempat kerja, kita hanya bisa mengingat masa lalu kita, namun ketika kita langsung menapaki jalan-jalan yang pernah kita lalui saat kecil di kampung halaman, aroma masa lalu tersebut tergambar begitu nyata. Seolah terobjektifikasi dalam kesadaran, semua jejak kehidupan kita berkumpul dalam diri, mendesak dijadikan sebagai kekuatan progresif.

Dilihat dari arti mudik lainnya, home, bisa diartikan sebagai pulang ke rumah sebenarnya. Sebagaimana dirumah, kita menemukan jati diri yang sesungguhnya. Kita tidak perlu memakai “make-up” di rumah. Kita tidak harus menggunakan sepatu saat berjalan didalamnya. Kita bisa berekpresi dengan apa adanya tanpa perlu dibuat-buat.

Di rumah.., kita menjadi diri kita yang sungguhnya. Kita tidak perlu khawatir pada ancaman apapun di rumah, sebab kita bersama ibu yang kasih sayangnya sudah teruji dalam kehidupan kita. Kita besama ayah yang akan melindungi kita dari berbagai ancaman dari luar rumah.

Kita bersama kakak dan adik yang sekandung dan sesusuan dengan kita. Bahkan sekalipun kita menutupi diri kita saat di rumah, mereka tetap akan mengenal kita dan memahami keadaan kita. Kita tetap akan telanjang, meskipun kita menutupi keadaan kita yang sungguhnya. Maka tak ada gunanya bersandirwara, bermake-up, dan bersepatu dirumah. Sebab suka atau tidak, saat pulang, kita akan tetap hadir sebagaimana keadaan kita yang sebenarnya.

Dikaitkan dengan pesan ied, atau “kembali” dipenghujung ramadhan, mungkin bisa diartikan sebagai pulang ke rumah sesungguhnya, atau lazim disebut fitrah. Fitrah kita, adalah fitrah Allah. Kembali pada fitrah, mungkin juga dapat diartikan sebagai kembali keharibaan Illahi. Dihadapan-Nya kita akan telanjang. Kita tak mungkin menutupi apapun dari-Nya yang menciptakan kita.

Sebagaimana ibu dan ayah yang senang saat kita kembali, demikian juga Tuhan, yang pasti menyukai orang-orang yang kembali. Bila orang tua saja mau memaafkan semua kesalahan kita di masa lalu dan membuka pintunya saat kita mengetuk setelah lelah menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk mencium tangannya, tidak mungkin Ar Rahman mengusir kita dari pintu ampunan Nya saat kita mengetuk, apalagi setelah kita berjalan tertatih disepanjang ramadhan untuk mencapai pintu ampunan-Nya.

Seorang ibu saat membayangkan perjalanan jauh yang ditempuh oleh anaknya selama perjalanan mudik, dia akan terharu dan bahagia. Dia pasti akan membuat masakan kesenangan kita, dia akan menyiapkan tempat tidur kita, dan dia akan membersihkan rumah agar kita nyaman saat beristirahat disana.

Bagaimana dengan Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim? sungguh saya tak bisa membayangkan jamuan-Nya. Sungguh, betapa nikmat jiwa-jiwa yang telah kembali (beridul fitri), setelah lelah menempuh perjalanan ramadhan. Betapa bahagianya mereka, berada dalam pangkuan Yang maha kasih. Sedang dipangkuan ibu saja, hati ini begitu tentram dan damai, bagaimanakah rasanya terkulai diharibaan Ar Rahman?

Pemerhati sosial dan kemasyarakatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…