Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Mudik, Balik, dan Ilusi Urbanisasi

Mas Tommy Mongabay yang Saya Kenal

Saat awal mula saya dan kawan-kawan mahasiswa live in di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo untuk menolak PT. Rayon Utama Makmur (RUM) karena limbah udara...

Mempertanyakan Kesaktian Pancasila, Jargon Tanpa Pemaknaan

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang “tidak lupa” terhadap peristiwa-peritiwa penting dalam perjalanannya sebagai sebuah bangsa. Salah satu bentuknya yaitu adanya sebuah peringatan terhadap...

DPR dan Aktor Utama UU MD3

Masih dalam hiruk pikuk pemberitaan tentang revisi UU Nomor 17 Tahun 2017 tentang MPR, DPR, DPRD, DPD (MD3) yang salah satu pembaharuannya adalah perihal...

Indonesia dan Piala Dunia 2030

Piala Dunia 2030 memiliki konsep yang sedikit berbeda, di mana terdapat 48 negara yang akan bersaing untuk memperebutkan Piala Emas tiap 4 tahunan itu....
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Perpindahan masyarakat dari daerah ke perkotaan menjadi hal yang lumrah terjadi. Peristiwa yang diistilahkan dengan urbanisasi ini menjadi pilihan beberapa kalangan masyarakat setidaknya karena beberapa sebab.

Sebab tersebut diantaranya yaitu, keinginan masyarakat untuk merasakan keadaan kehidupan di perkotaan, baik itu untuk mencoba pertaruhan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak atau memang memiliki keinginan yang kuat untuk tinggal dan hidup di daerah perkotaan, dan mungkin juga ada hal lain yang menjadi alasan memilih menjadi kaum urban.

Masyarakat Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dalam pemilihan momen untuk melakukan urbanisasi. Meskipun kapan saja atau setiap waktu masyarakat bisa saja memilih meninggalkan desa atau kampung halaman untuk pindah ke kota, namun ada momen atau waktu tertentu masyarakat akan dengan sangat masif terlihat melakukan urbanisasi.

Syawal, ya momen lebaran idul fitri menjadi waktu yang seakan dianggap paling tepat untuk melakukan urbanisasi.  Salah satu alasan mengapa lebaran menjadi waktu yang dipilih adalah fenomena mudik dan balik lebaran.

Mudik, adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Fenomena tahunan ini menjadi hal yang seakan wajib dilakukan oleh sebagian masyarakat. Momen lebaran menjadi alasan terkuat masyarakat untuk berusaha sebisamungkin untuk mudik atau pulang kampung untuk berlebaran bertemu dangan sanak saudara menyambung silaturahmi.

Secara tidak langsung momen mudik ini menjadi momen para pemudik untuk menceritakan suka duka menjalani kehidupan jauh dari kampung halaman. Di sinilah pemantik itu terjadi, tidak sedikit sanak keluarga yang akhirnya tertarik untuk melakukan urbanisasi. Para pemudik mengajak sanak keluarga, jiran tetangga untuk balik ikut ke kota, bahkan dengan ajakan sekedar untuk mengadu nasib.

Bayang-bayang indah, mimpi-mimpi manis mulai tersirat dalam benak.  Kehidupan ditengah kota yang seakan begitu indah, bayangan lowongan pekerjaan yang begitu menggiurkan ditambah dengan keadaan di kampung halaman yang begitu-begitu saja.  Hal ini lah yang akhirnya membulatkan tekad untuk berangkat meninggalkan kampung halaman menuju perkotaan.

Bayang-bayang yang sebenarnya bisa saja realitanya nanti akan berbalik.  Mimpi manis akan menjadi kenyataan pahit, bayang-bayang indah akan mengundang gundah.

Berdasarkan fakta yang ada, bagaimana penghidupan perkotaan yang begitu keras.  Daerah perkotaan yang sudah padat dengan datangnya masyarakat dari daerah semakin menambah padatnya penduduk.

Secara tidak langsung juga akan menambah semrawut kota, bertambahnya tempat tempat kumuh. Datang dengan bangga dan senang hati karena melihat kota dengan gedung-gedung tinggi, namun nantinya akan tersadar setelah melihat kenyataan dibalik megahnya gedung berderetnya pencakar langit ada tempat kumuh yang sangit.

Rumah bedek mungkin masih lebih baik daripada mereka yang tinggal di kolong-kolong jembatan, di trotoar jalanan, di emperan toko dan pasar, tuna wisma menjadi hal yang dengan mudah ditemukan.

Urbanisasi memang peristiwa yang lumrah terjadi.  Akan tetapi harus dengan modal, skill keahlian dan mental yang kuat untuk menaklukkan kehidupan kota yang keras. Tidak hanya karena sekedar ilusi, mengikuti keinginan dan nafsu karena tertarik oleh cerita dan dongeng manis dari sanak saudara, jika demikian maka sudah bisa ditebak keadaan yang akan dijalani akan begitu berat.

Hal ini juga menjadi bukti bagaimana pemerataan belum terjadi. Ruang-ruang atau lapangan pekerjaan yang tidak merata. Otonomi daerah belum mampu benar-benar mewujudkan pemerataan sesuai dengan yang di cita-citakan.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.