OUR NETWORK

Mudik, Arus Balik, dan Kelangkaan Air

Teringat novel Pulang (2012) karya Leila S. Chudori yang menceritakan Dimas Suryo kehilangan status kewarganegaraan Indonesia karena sejarah silam G30/S.

Sewaktu sebagian besar masyarakat kota berbondong-bondong pulang memasuki desa-desa untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1440 Hijriyah dengan sanak saudara dan handai taulan di kampung halaman.

Saya secara pribadi juga tak ingin melewatkan ritus kebudayaan ini begitu saja tanpa melakukan perjalanan pulang ke desa. Perjalanan mudik saya kali ini setelah lebaran tahun kemarin di Desa Plesan, Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo yang tercemar polusi udara zat kimia berbahaya adalah Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang.

Berangkat dari titik inilah saya sebagai manusia urban yang tidak mempunyai kampung halaman mencoba pulang ke kampung halaman melalui tradisi mudik. Dengan maksud mencari kampung halaman yang hilang dari budaya kosmopolitan.

Perjalanan mudik saya tiba di Desa Tegaldowo yang saat itu sedang menyelenggarakan Kupatan Kendeng 2019. Ketika berada di lokasi ternyata saya tidak sendirian melakukan mudik kali ini. Banyak di antara teman-teman dari Jakarta, Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta pulang ke Rembang saling bersilaturahmi dan mengingatkan untuk ibu bumi.

Serangkaian agenda digelar seperti temon banyu beras, arak-arakan kupat dan lepet, lamporan, serta pagelaran wayang kampung sebelah. Faktanya keberadaan pabrik semen menyatukan tali persaudaraan kita dari bahaya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penambangan batu karst di wilayah Pegunungan Kendeng Utara.

Senada dengan Tajuk Rencana Solopos edisi 4 Juni 2019 bahwa lebaran adalah kultur mengingat asal-usul yang dalam makna lebih dalam bisa sampai pada memahami bahwa asal manusia sama, yaitu dari kekuasaan Tuhan yang maha pencipta.

Sehingga lebaran menjadi instrumen bangsa Indonesia untuk memperbaiki diri dari kerusakan sosial. Bagi saya momen lebaran selain merupakan aktivitas yang profan bagi umat manusia dalam mempererat ikatan persaudaraan. Sesungguhnya lebaran juga mengandung unsur-unsur sakral mengenai jarak antara kehidupan dan kematian seseorang yang mempunyai tanah kelahiran.

Teringat novel Pulang (2012) karya Leila S. Chudori yang menceritakan Dimas Suryo kehilangan status kewarganegaraan Indonesia karena sejarah silam G30/S. Sehingga ia tidak bisa pulang ke kampung halamannya dengan tuduhan eksil politik oleh rezim Orde Baru.

Kerinduan kampung halaman yang ia ingin rasakan bahkan mengisyaratkan kematian dengan mencium aroma bau tanah pemakaman di Indonesia. Dengan demikian kehendak pulang ke tanah kelahiran adalah sisi manusiawi bagi setiap orang dimanapun ia berada. Sungguh, ekstase kemanusiaan itu telah melampaui ruang dan waktu kehidupan Dimas Suryo pada suatu zaman yang ingin ia lahirkan.

Pulang kampung tahun ini ke Desa Tegaldowo sungguh mengejutkan saya dengan perubahan-perubahan lanskap kehidupan yang sangat drastis terjadi di lingkungan sekitar. Tahun 2017 ketika saya melakukan penelitian lapangan untuk kebutuhan skripsi pada perguruan tinggi di tempat yang sama.

Keberadaan tanaman jagung yang hijau menghampar sepanjang kawasan lindung Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, kini kondisi tanamannya menguning karena debu pertambangan menutupi daun dan pohon sehingga pembuahan tidak berjalan maksimal.

Dahulu saya melihat saat warga mencari rumput untuk pakan hewan peliharaanya di atas kawasan CAT Watuputih, kini saya menyaksikan warga hilir-mudik di jalan desa membawa rumput dari bawah CAT Watuputih. Sementara yang paling mengejutkan bagi saya adalah dahulu ketika berkunjung ke rumah-rumah warga air minum masih disuguhkan dengan kendi yang menyegarkan itu, kini air minum disediakan dalam bentuk botol-botol air mineral yang dibeli dari toko.

Perubahan lanskap kehidupan tidak berhenti sampai disini saja. Kondisi lahan di kawasan CAT Watuputih yang hampir sebagian luasannya ditambang oleh perusahaan semen, membuat tingkat kesuburan tanah berkurang dan sulit untuk ditanami kembali. Kini sebagian besar warga lebih memilih menjual tanahnya dan membeli kembali lahan di kontur wilayah yang lebih rendah.

Kenyataannya permukaan tanah yang lebih rendah tidak menjamin ketersediaan air itu ada untuk proses penanaman di lahan pertanian, kecuali mengandalkan curah hujan yang turun secara tidak menentu di kawasan tersebut. Kelangkaan air dan kerusakan lingkungan hidup akibat pembangunan pabrik semen dan penambangan karst ini, mengindikasikan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya terutama dalam hal ini lebaran terampas oleh pabrik semen.

Kelangkaan Air

Saya selaku manusia urban yang pulang ke kampung halaman di desa melalui tradisi mudik ini melihat kelangkaan air di Pegunungan Kendeng Utara. Terlebih pasca lebaran kecenderungan arus balik yang besar juga banyak ditentukan oleh dinamika ekonomi. Hal ini secara langsung menimbulkan konsekuensi yang tidak ringan ketika dampak perubahan iklim sudah benar-benar menjadi norma.

Menurut Thomas Dietz (2009) pergerakan migrasi besar-besaran manusia menuju pantai terjadi karena secara umum prospek ekonomi lebih baik ketimbang di daerah pedalaman. Di Indonesia, faktanya nyaris seluruh kota besar berada di pantai dengan tingkat urbanisasi begitu tinggi dan kecenderungannya terus menigkat.

Maka bagi warga desa di Indonesia, perubahan iklim bisa berakibat luas dan fatal. Para ahli memperkirakan bahwa tidak lama lagi permukaan air laut akan meninggi yang kelak menggenangi wilayah pesisir dan merusak persediaan air tawar di sumur dan lahan yang bisa ditanami.

Kemarau kian panjang menyebabkan kekeringan dan curah hujan kian tinggi dengan musim hujan memendek dapat menghasilkan perubahan ekosistem, sehingga diperkirakan produksi pertanian akan menurun secara signifikan. Dengan demikian, desa-desa di Indonesia akan mengalami kehilangan lahan, harta, dan jiwa; sementara harga-harga akan terus melambung tinggi (Jhamtani, Wardana, dan Lisa 2009).

Disisi lain kebijakan pembangunan dan penerbitan izin-izin pertambangan di desa yang tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung suatu kawasan. Membuktikan bahwa krisis ekologi itu tidak menjadi prioritas pembangunan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah. Sebagai contoh kasus, terbitnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Tahap 1 yang merekomendasikan moratorium pembangunan pabrik semen dan penambangannya.

Tidak serta merta menjadikan pemerintah mempunyai kemauan politik untuk memperbaiki rencana tata ruang wilayah di kawasan tersebut. Maka tak perlu mengherankan jika perjuangan warga Desa Tegaldowo terus berlanjut tanpa kenal lelah meskipun usia rezim pemerintahan memasuki babak baru.

Artinya keterlibatan saya mengalami tradisi mudik ke Pegunungan Kendeng Utara dan arus balik ke Surakarta, merupakan pengakuan saya yang berkaitan dengan asumsi kelangkaan yang fundamental bagi kehidupan manusia yaitu air. Jika sumber-sumber mata air yang berada di desa tidak mengeluarkan air bersih untuk dikonsumsi, maka tidak menutup kemungkinan orang-orang kota akan mengalami dehidrasi akut yang menyebabkan kematian.

Karena kelangkaan air inilah mungkin lebaran tahun berikutnya kita tidak bisa mudik ke kampung halaman masing-masing, atau bahkan kehilangan asal-usul tempat lahir kita sebab tanah dan air sudah habis di desa-desa. Ironi.

Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…