Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Siapa Yang Kampungan Di Stasiun MRT?

Pemilu 2019: Suatu Pertentangan Antar Faksi Borjuis

Laporan investigasi majalah Tempo, edisi 08/06, beberapa waktu lalu, membuka tabir politik yang selama ini mengendap. Laporan tersebut menyadarkan kita kalau lebih dari dua...

Tidak Semua ‘Kampret’ adalah ‘Kampret’

Stabilitas sosial sering dianggap hal yang lumrah: apa yang terjadi sekarang pasti akan terjadi besok, hal yang sekarang wajar besok pun akan tetap begitu....

Mengapa Socrates Membenci Demokrasi

Kita sudah terbiasa berpikir positif tentang demokrasi dan berpikir positif pula tentang Athena kuno, sebagai peradaban yang melahirkan demokrasi. Partenon bahkan hampir sudah dijadikan...

Aksara, Bom, dan Keberanian Membongkar Narasi

Belajar Dari Aksara Bangsa Andes Dua jam sebelum kabar pertama tentang bom di sebuah gereja di Surabaya (berikut di beberapa lokasi lain), saya menerima ledekan...
pratamamaulana
Acehnese. Penyuka Diskusi. Kalau Bisa Nulis Dikit-Dikit

Jakarta dan sekitarnya tentu boleh berbangga diri. Kebanggaan ini dapat diungkapkan melalui semacam alat yang sebenarnya sudah agak lama di gaungkan, namun baru terealisasi dan dikemas dengan rasa yang baru. MRT yang sudah lama menjadi impian dan janji-janji kampanye, akhirnya terealisasi dan sudah mulai beroperasi.

Jokowi dan kolega bergegas masuk dan merasakan sensasi MRT. Bersamaan dengan itu turut hadir pula Anies Rasyid Baswedan selaku pengampu jabatan gubernur DKI Jakarta untuk ikut nimbrung didalam suasana yang bisa dikatakan bersejarah bagi majunya sebuah peradaban ibukota. Yah, begitulah DKI Jakarta tempat orang bersuka ria dan bermuram durja.

Ini menjadi sebuah progress yang cukup dinanti oleh penggemar transportasi publik. Di tengah semrawutnya jalanan ibukota, yang macet seakan dikultuskan menjadi kolega dan identitas. Barangkali, masyarakat Jakarta agak heran dan terkekeh jikalau melihat jalanan ibukota lengang dan tidak macet. “jangan-jangan saya bukan di Jakarta”. Atau, “jangan-jangan saya tersesat ini”. Begitu barangkali pikirnya.

Bersamaan dengan itu tentu penulis yang bukan merupakan bagian ibukota, dan tidak memegang KTP Jakarta, agaknya gatal dan ingin mengungkapkan sedikit keluh kesah. Maklum penulis yang berasal dari tataran pedesaan mungkin agak sedikit kikuk kalau disuruh menaiki MRT. Mengingat MRT walau dinegara lain bukan sesuatu hal yang baru, tapi di Indonesia cenderung diperbincangkan beberapa hari terakhir ini.

Sepertinya, MRT menjadi komoditi transportasi yang bisa dikatakan “mewah”, mengingat transportasi kita selama ini, masih berkutat dalam tataran transportasi darat berbasi jalan raya. Ambil contoh, TransJakarta, MetroMini, Angkot dan seterusnya. Begitupun dengan trasnportasi berbasis online, seperti Go-Jek, Grab dan seterusnya. Mungkin kehadiran MRT pada absen menjadi semacam semangat baru dan motivasi baru.

Di tengah padatnya aktivitas ibukota, mungkin MRT bisa menjadi salah satu alternatif transportasi. Demi menghemat biaya dan menghemat waktu para pekerja-pekerja, mahasiswa-mahasiswa dan siapapun, bisa agak sedikit lega menjajali ibukota. Bahkan, yang menariknya perbincangan MRT ini akan terus mengalir sampai ke tingkat tongkrongan-tongkrongan anak muda, kantin-kantin kampus, dan di cafe-cafe hits ibukota. Itu yang penulis yakini setidaknya.

Akan tiba masanya, dimana orang-orang akan coba “memprsentasikan” keunggulan yang dimiliki ibukota hari ini. “coba liat nih Jakarta, udah ada MRT, “daerah lau udah ada apaan?”. Percakapan-percakapan yang seperti ini akan terus muncul. Bagaimanapun, pandangan penulis selaku “orang luar” ibukota, melihat sudah seyogyanya ibukota mempercantik diri dan memoles diri. Inilah hakikat ibukota. Yang harusnya menggoda sebagaimana kebiasaan para primadona.

Fasilitas Publik dan Budaya Menggelitik

Tak dapat dipungkiri, bahwa manusia adalah makhluk yang jenaka. Terkadang, apa yang dilakukan mengundang gelak tawa. Sebagaimana yang juga terjadi pada persoalan issue MRT yang sedang booming-nya di ibukota nan jauh disana. Sepertinya, kejenakaan demi kejenakaan sudah melekat atau setidaknya identik dengan masyarakat kita Indonesia

Baru-baru ini ada fenomena yang membuat kita tergellitik dan agak sedikit terkekeh, dimana terdapat orang-orang yang kemudian bergelantungan layaknya senam aerobik demi mendapatkan angle foto masa kini. Uniknya, hal ini dilakukan dengan kesadaran penuh, dan persis berada fasilitas publik (MRT). Selanjutnya, beredar pula foto-foto orang yang menginjak kursi penumpang MRT dengan tujuan yang sama, apalagi kalau bukan untuk berfoto ria.

Disisi lain, di stasiun MRT, terdapat pula segerombolan orang yang duduk lesehan, lengkap dengan atribut makanan, layaknya di Pantai Pangandaran. Ini merupakan fenomena-fenomena unik yang barangkali hanya kita temukan di negara ini. Dan mungkin sudah menjadi budaya popular yang tidak bisa kita lepaskan dari peradaban masyarakat kita.

Baik, mari kita amplas satu persatu. Sejatinya, tidak ada yang salah dengan berfoto ria, membanggakan kehadiran kita pada suatu fasilitas publik yang kemudian menjadi salah satu ajang promosi secara tidak langsung. Namun, persoalan yang kemudian menjadi keresahan bersama, dimana hal ini juga menggambarkan sifat kenorakan yang seakan menjdi identitas diri.

Bagaimanapun, ia disebut fasilitas publik karena fasilitas tersebut memungkinkan untuk digunakan oleh khalayak ramai, dan statusnya pun kepemilikan bersama. Walau penulis sendiri bukan orangyang berasal dari Jakarta misalnya, tentu terbesit sedikit “rasa memiliki” atau setidaknya kebanggaan yang tersendiri.

Begitupun dengan memakan makanan di tempat umum, yang tentu dan sudah seharusnya berbeda dengan memakan makanan yang sudah pada tempat yang semestinya. Haruslah ada semacam kesadaran yang hadir dan melekat bahwa, atas dasar laparnya kita, jangan sampai membuat orang terganggu dan risih terhadap apa yang kita lakukan.

Hal-hal yang terebut itu sungguh termaktum secara komprehensif dalam logika dasar akal sehat, dan prinsip etika sosial. Pembelajaran-pembelajaran yang demikian itu sepertinya, sudah kita dapatkan dan disuguhkan pada tingkatan dasar sekolah formal yang tertuang dalam pembelajaran PPKN (pendidikan kewarganegaraan), yang materinya mencakup soal tenggang rasa dan adat berbudaya. Harusnya kesadaran-kesadaran itu tumbuh dengan dasar kepemilikan bersama dan kesadaran bersama terhadap fasilitas-fasilitas publik yang seyogyanya diperuntukkan bagi khalayak umum.

Jepang mungkin haruslah menjadi salah satu indikator negara yang dapat mengakulturasikan akal sehat, dan budaya dalam satu waktu. Dalam budaya Jepang sebagaimana yang kita ketahui, bahwa saling menghargai dan menghormati adalah ciri suatu bangsa sebagai suatu warisan. Kita juga tentu mengetahi, bahwa budaya antre juga merupakan bagian hidup orang Jepang. Mereka malu jikalau menerobos antrian, dan melakukan sensasi-sensai yang memuakkan.

Maka, sudah selayaknya Jakarta dan masyarakatnya harus berjalan beriringan sebagai representasi Indonesia dan masyarakat yang progresif. Masyarakat ibukota, sejatinya adalah masyarakat yang mempunyai peradaban maju, dan menjadi tolok ukur suatu bangsa. Hal ini harusnya bukan hanya dalam konteks berbudaya, namun dalam pelbagai aspek-aspek lainnya. Jangan sampai “citra” masyarakat dan Jakarta sebagai wajah Indonesi, tercoreng dengan kelakuan-kelakuan badui, dan menjadi omongan-omongan satire yang menggelitik.

pratamamaulana
Acehnese. Penyuka Diskusi. Kalau Bisa Nulis Dikit-Dikit
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.