Senin, Maret 8, 2021

“Moral Hazard” dan Fitrah Mahasiswa

Imajinasi Konversi Kampanye Politik Digital

Kampanye digital adalah inovasi terbaru dalam kampanye politik. Model kampanye digital ini mengubah banyak elemen dari kampanye konvensional dengan rotasi yang lebih cepat dan...

Dibalik Pengusiran Diplomat Rusia

Kritisnya mantan petugas intelijen militer Rusia, Sergei Skripal di Salisbury telah menimbulkan berbagai spekulasi di berbagai negara belahan dunia. Pasalnya, Sargei beserta putrinya, Yulia...

Setelah Lombok Diguncang Gempa, Lalu Apa?

Setelah diguncang gempa 6,5 Skala Richter pada Minggu (29/7/2018) dan gempa utama berkekuatan 7 SR sepekan berikutnya (6/8/2018), saudara-saudara kita di Lombok tampaknya harus...

[Masih Soal] Perppu Ormas dan Problem Ideologi

Hingga memasuki bulan September 2017, pembahasan mengenai Perppu Ormas sudah masuk agenda rapat internal DPR-RI, dan hendak dibahas melalui rapat paripurna DPR-RI mulai tanggal...
Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Sudah menjadi fitrah setiap manusia ingin lebih baik daripada manusia lainnya, menjadi orang yang berkuasa terhadap manusia yang lainnya, menjadi kaya daripada manusia lainnya tetapi yang membedakan antara manusia yang bijak dengan yang kurang bijak yaitu terlihat dari tanggapannya terhadap fitrah yang ditanamkan dalam dirinya.

Manusia yang bijak akan mempunyai akar pemikiran bahwa walaupun sudah diberikan fitrah bukan menjadi sebuah pembenaran untuk melakukan sesuatu yang berlebihan dan tanpa batas.

Secara etimologis ‘moral hazard’ berarti ‘jebakan moral’. Dalam kamus bahasa Inggris ‘moral hazard’ dijelaskan sebagai ‘the hazard arising form the uncertainty or honesty of the insured’, jadi ‘moral hazard’ dipakai sebagai ketidak jujuran atau kejahatan di bidang asuransi. Contoh dari Moral Hazard yang ada di Indonesia adalah perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme.

Perilaku ini adalah perilaku yang mempunyai multiplier effect, diantanya adalah merugikan negara dan mengganggu stabilitas keuangan negara sehingga rencana rencana jangka panjang dan menegah akan terhambat karena negara mengalami kerugian dibidang keuangan.

Sejatinya apa yang sedang diperjuangkan mahasiswa saat ini adalah bukan ingin tampil mengganggu fitrah para manusia manusia yang ingin berkuasa ataupun saling beradu kepintaran. Bukan, Mahasiswa Hadir Karena Takut Ayah dan Abang abangnya Defisit Integritas. Keresahan akan hal tersebut hadir ketika fitrah itu tidak dilaksanakan secara bijak.

Sudah jelas Indonesia adalah negara yang kaya. Tapi apakah kekayaan itu termasuk kekayaan akal pikiran? Apakah kaya akan orang orang baik? Belum tentu, Maka dari itu mari kita jaga Indonesia dengan banyak berdialog, Katakan tidak pada baperan.

Jangan sampai Moral Hazard mu membuat bangsa ini pecah karena anak anak ibu pertiwi diadu domba, Untukmu Ayah dan Abang abangku kurangilah egomu itu, apakah hidup dengan ratio gini yang rendah tidak nyaman bagimu? Hidup seperti apa yang kalian inginkan? Kekuasaan akan lenyap abang abangku. Seharusnya sebagai Ayah ataupun Abang yang kami tuntut dalam hal ini kalian semua bisa meluangkan waktu untuk berdialog secara langsung, Kami hadir sebagai pengingat kami hadir membawa kepentingan yaitu kepentingan rakyat, kami hadir agar mulut manismu ketika kampanye tidak membuat Ayah dan Abang abang semua defisit integritas. Kami Sayang Kalian semua Kami sayang Negeri ini

Aksi massa menjadi jawaban dari keresahan yang ditimbulkan oleh sebuah kebijakan yang saling bertentangan dan jauh dari amanat reformasi. Selasa 24 September 2019 menjadi hari dan tanggal bersejarah bagi gerakan mahasiswa, yakni pada hari itu mahasiswa layaknya macan yang tertidur lama dan kemudian bangun dengan auman yang sangat keras. Banyak yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa telah ditunggangi, bahkan sekelas Menteri Yasona Laoly dalam sebuah acara televisi nasional mengatakan demikian.

“Kulihat ibu pertiwi…Sedang bersusah hati…Air matamu berlinang…Mas intanmu terkenang…” Kutipan nyanyian para mahasiswa yang memenuhi stasiun pamerah yang membuat merinding, seakan akan lagu itu bertanya apa yang telah kamu berikan untuk ibu pertiwi?

Di siang itu semua mahasiswa dari berbagai kampus menaruh harapan kepada Perwakilannya di senayan memenuhi tuntutannya, tapi apalah daya ketika dimalam harinya stasiun palmerah menjadi tempat yang seakan akan seperti neraka, gas air mata ditembakkan kedalam stasiun kemudian mahasiswa mahasiswa berhamburan dan sampai sampai melompati jendela stasiun.

Begitulah cerita ketika fitrah seorang mahasiswa yang ingin menumpas moral hazard di negeri ini dimatikan dengan menggunakan alat negara yang notabenenya kalau kita tarik kembali dan melihat dengan “helicopter view” yaitu anak anak bangsa sedang diadu domba oleh moral hazard para penguasa dan oligarki oligarki yang ada.

Menjadi hal yang tidak tepat jika negara menuduh gerakan intelektual mahasiswa dikatakan ingin mengganggu peristiwa konstitusional yang ada yaitu pelantikan presiden. Seperti yang dikatakan Wiranto, Menko Polhukam“ Mereka ingin menduduki DPR dan MPR. Tujuan akhirnya adalah menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih”.

Dengan pernyataan ini negara menjadi layaknya sebuah musuh bagi gerakan murni mahasiswa, penuh dengan tudingan dan ujaran ketidakpercayaan terhadap generasi muda yang ingin menyelamatkan negeri ini dari perilaku moral hazard yang ada. Negara harus bijak dalam melihat mana gerakan murni dan gerakan yang tidak murni seperti yang dilontarkan kepada mahasiswa.

Seharusnya bukan gerakan mahasiswa yang dituding ditunggangi dan ingin mengacaukan proses konstitusional negara tetapi negara harus lebih menanggapi substansi dari gerakan mahasiswa pada saat ini, mengenai dugaan ditunggangi dan gerakan yang ingin mengacaukan tadi negara seharusnya menjaga hal tersebut dan tidak melakukan tudingan kepada mahasiwa agar tidak mematikan gerakan mahasiswa dan menunjukkan seakan akan negara sedang panik.

Ketika pasal pasal dalam KUHP benar merupakan aspirasi dari rakyat Indonesia, seperti penjelasan terkait pasal yang mengatur Ayam/Bebek/Hewan Peliharaan yang mengganggu benih benih petani pada dasarnya mengakomodir saudara saudara kita di desa/Petani yang mana banyak benih dan biji bijian yang mereka tanam dirusak akibat unggas yang dimiliki tetangga.

Mungkin bagi orang kota pasal ini tidak terlalu penting, tapi percayalah hal ini banyak terjadi di desa dan sangat merugikan. Penjelasan terkait pasal pasal yang seperti ini saat sekarang perlu dicerdaskan karena pada dasarnya gerakan mahasiswa kemarin adalah gerakan yang mengharapkan terjadinya dialog antara perumus kebijakan dengan rakyat Indonesia secara langsung.

Kami mengharapkan terjadinya komunikasi antara berbagai elemen yang ada di Indonesia terkhususnya disaat sekarang Mahasiswa menginginkan terjadinya dialog secara langsung lewat stasiun televisi.

Hal tersebut adalah kunci kembalinya situasi damai dan hal tersebut sangatlah mudah ketika tidak ada yang ditutup tutupi oleh para perumus kebijakan, Indonesia saat membutuhkan seorang negarawan yang muncul memberikan penjelasan terkait situasi yang terjadi dan kebenaran yang sesungguhnya itu seperti apa. Kami menunggu negarawan tersebut. Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia.

Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.