Rabu, April 14, 2021

Modernitas, Meaningless dan Keterasingan Manusia Modern

UNBK: Antara Kejujuran, Gengsi, dan Digitalisasi Pendidikan

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ajaran 2017/2018 sudah mulai dilaksanakan. Untuk jenjang SMK telah terlaksana 2-5 April 2018. Sedangkan jenjang SMA/MA dilaksanakan 9-12...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Puasa dan Kuasa

Ramadhan merupakan bulan kebaikan dan pahala. Euforia Ramadhan disambut secara meriah dan serentak mulai dari pelosok desa sampai penjuru kota. Sebagai bulan yang penuh...

Demokrasi yang Malas Berkontemplasi

Memang bangsa ini terlalu bangga dengan sistem politik demokrasi yang selalu dianggap lebih baik daripada sistem politik yang lain. Nampaknya kita juga sudah dimabuk...
Anugerah Zakya
Mantan mahasiswa

Modernitas ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat yang rasional dan perubahan yang dinamis, selain itu modernitas juga ditandai oleh globalisasi dimana semuanya serba terkoneksi. Modernitas juga membawa kemudahan-kemudahan dalam mengenal orang asing melalui sebuah aplikasi tanpa harus bertemu langsung. Namun, di balik itu semua modernitas membuat lubang menganga yang bernama “keterasingan” atau yang biasa kita sebut dengan alienasi.

Pengalaman keterasingan ini sering dialami sebagian atau bahkan kebanyakan orang namun mereka cenderung kurang menyadari apa yang menyebabkan mereka terasing oleh dunia mereka. Mari mundur sejenak, pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa di antara banyaknya orang kita cenderung merasa sendiri? Atau bahkan kita berpikir “ini bukan yang aku kehendaki, tapi kenapa aku melakukan ini”? Sebelum menjawab itu mari kita urai apa yang terjadi pada dunia modern saat ini supaya kita tahu akar penyebabnya.

Dunia modern selalu menawarkan perubahan yang dinamis sekaligus cepat, ini diawali oleh runtuhnya pemahaman tradisional berupa mitos yang selama ini kita yakini sebagai sebuah kebenaran mutlak dan digantikan oleh rasio dimana kebenaran empiris memainkan peran sentral. Lebih jauh dari itu, pemikiran itu menjadikan semua hal dapat dikalkulasi dan harus bersandar pada kebenaran empiris, hal ini juga berlaku pada ilmu pengetahuan terutama ilmu sains. Seakan-akan kultur saintisme adalah mitos baru yang dianut masyarakat modern.

Kebenaran sains adalah kebenaran temporer atau relatif, kebenaran dimana teori-teori yang ada digugurkan lewat fakta-fakta, hal ini menjadikan kebenaran selain bersifat relatif tapi juga bersifat dinamis. Masyarakat modern menjunjung tinggi pemikiran seperti ini karena mereka merasa sains dan rasio dapat menjawab sekaligus menjelaskan fenomena serta segala permasalahan yang ada.

Kebenaran yang dinamis dan relatif ini meninggalkan lubang menganga dalam setiap diri masyarakat modern, mereka merasa gelisah dengan perubahan yang begitu cepat dan tidak terkontrol. Kepercayaan-kepercayaan terhadap mitos atau agama yang yang tak pernah tergoyahkan dalam diri masyarakat modern kini tercerabut dari akarnya, dimana kepercayaan tersebut mendasari setiap keputusan atau sebagai pelarian dari dunia yang tidak bisa mereka kendalikan kini tergantikan oleh kepercayaan-kepercayaan semu berupa saintisme.

Bagi sebagian masyarakat modern kebenaran sains tidak memberikan cukup ketenangan dalam skala tertentu karena sifatnya yang terus berubah, ini lah salah satu sebab kenapa masyarakat modern cenderung gelisah atau merasa dirinya meaningless dan terasing dari dunia. Mereka menginginkan sebuah keyakinan absolut yang dapat memberikan keteduhan rasa dan membimbing mereka, keyakinan yang selalu memberikan harapan di tengah keputusasaan atau sekedar pelarian dikala mereka dihimpit ketidakpastian.

Selanjutnya, keterasingan masyarakat modern juga ditandai dengan adanya pasar bebas, dalam hal ini kapitalisme memegang kendali. Apa hubungan kapitalisme dengan meaningless atau keterasingan kehidupan masyarakat modern? Bisa dikatakan kapitalisme adalah yang membentuk hasrat masyarakat modern, dimana pasar bebas tidak memberikan pembaruan fungsi dalam setiap hasil produksi, selain itu kapitalisme membawa masyarakat modern jauh dari refletivitas diri.

Mengutip penjelasan Anthony Giddens, Giddens menjelaskan bahwa dunia modern sebagai refleksif, “refleksivitas modernitas meluas ke dalam inti diri”, diri menjadi sesuatu yang direfleksikan, diubah bahkan dicetak. Dalam dunia modern, tubuh ditarik ke dalam organisasi refleksif kehidupan sosial. Kita tidak hanya bertanggung jawab atas diri kita, tapi juga bertanggung jawab atas tubuh kita.

Tubuh juga merupakan subjek dari verietas “pengaturan-pengaturan” yang bukan hanya membantu individu mencetak tubuh mereka, tapi juga menyumbang refleksivitas-diri dan juga bagi refleksivitas modernitas secara umum. Hasilnya, secara keseluruhan ialah suatu obsesi dengan tubuh kita dan diri kita dalam dunia modern, secara umum Giddens ingin mengatakan bahwa tubuh juga diatur oleh modernitas dimana kita terikat dengan modernitas itu sendiri, bahkan jika ditelaah lebih jauh hasrat kita pun telah diatur oleh dunia modern.

Katakan saja sebagian orang menginginkan tubuh yang indah, entah itu tubuh atletis untuk pria atau tubuh langsing untuk perempuan. Sebenarnya tubuh atletis atau tubuh seksi bukanlah hal esensial yang dibutuhkan orang, mereka lebih membutuhkan tubuh yang sehat. Namun, kapitalisme selalu mengiklankan bahwa tubuh atletis dan seksi adalah dambaan setiap orang dan mereka yang memiliki tubuh ini terlihat lebih spesial di depan mata orang lain. Sehingga masyarakat modern cenderung tidak punya kontrol terhadap hasrat atau tubuh mereka.

Penjelasan Giddens seakan-akan menambah daftar panjang keterasingan masyarakat modern atas dirinya sendiri, bahkan masyarakat modern tidak punya kontrol penuh atas dirinya sendiri. Selain itu dalam msyarakat pra modern, ruang didefinisikan sebagai kehadiran fisik dan oleh karena itu ruang-ruang dapat dilokalkan dengan sekat-sekat tertentu. Lantas modernitas datang dengan segala perubahannya, modernitas menghapus definisi ruang –dalam pengertian pramodern– dan menghapus segala sekat ruang tersebut.

Hancurnya sekat-sekat ruang tersebut menjadikan interaksi sosial atau bahkan interaksi budaya tidak memerlukan kehadiran fisik, masyarakat modern begitu dinamis dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia di luar dirinya sehingga membentuk sebuah unit yang terhubung melalui jaringan yang saling terikat.

Terhapusnya batas-batas ruang tersebut menjadikan masyarakat modern lebih hidup dan konsen dengan ruang barunya yang dinamakan “jaringan”. Internalisasi “jaringan-jaringan” tersebut hanya dapat dilakukan bagi individu yang terikat dengannya dan mendiskualifikasi individu dengan citra atau ruang sosial secara fisik di sekitarnya. Hal ini menjelaskan kenapa masyarakat modern begitu rentan terhadap hidup yang meaningless, gelisah atau bahkan merasa kesepian dalam kelompok sosialnya.

Ambil contoh saja banyak orang lebih akrab dengan orang yang mereka kenal di media sosial dari pada dengan masyarakat sekitarnya, jika mereka mengalami suatu masalah maka mereka merasa tidak cocok dengan lingkungannya. Hal ini dikarenakan tidak ada keintiman individu dengan lingkungannya dan lebih intim dengan media sosialnya.

Keterikatan kuat masyarakat modern dengan “jaringan”nya menjadikan mereka seakan membentuk kelompok sosial bukan karena kedekatan emosional, kesamaan rasa atau bahkan kesamaan pemikiran tapi lebih dikarenakan terbentuk atas kebersamaan mereka mendiami ruang fisik yang sama. Permasalahan ini jika ditarik lebih radikal akan memunculkan sikap anti empati atau bahkan apatis terhadap anggota kelompoknya.

Modernitas memang menjanjikan segala perubahan besar yang membawa dampak positif kepada masyarakat modern tapi modernitas juga seperti pisau bermata dua, ada konsekuensi-konsekuensi baik dalam sekala makro ataupun mikro yang harus dibayar masyarakat modern untuk perubahan tersebut. Hal ini lah yang terkadang membuat masyarakat modern terasing dari dunianya.

Anugerah Zakya
Mantan mahasiswa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.