Kamis, Maret 4, 2021

Modernisasi Sensus Penduduk

Islam Masalahnya?

Pernahkah anda mempertanyakan kenapa islam selalu menjadi “subjek” ketika terjadi suatu pertentangan atau perdebatan baik dari gejala-gejala yang baru terjadi akhir-akhir ini maupun dari...

Prostitusi, Hak Asasi, dan Standar Moral Kita

Saya percaya bahwa seseorang dapat hidup tanpa agama, tapi sebaliknya ia tak akan dapat hidup tanpa sebuah komune. Komune adalah segala nilai (sekaligus masyarakat...

Masa Depan Perda Syari’ah

Setelah Indonesia merdeka dan menyepakati Pancasila sebagai dasar negara, tidak berarti bahwa perjuangan kearah negara Islam berhenti. Perjuangan terus digelorakan diberbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah...

Indonesia Bubar 2030, Realita, Fiksi, atau Fiktif?

Pidato Prabowo Subianto mengenai Indonesia bubar 2030 memunculkan berbagai argumentasi yang beragam di masyarakat. Indonesia diklaim bubar 2030 ini merujuk pada salah satu novel...
Ulul Azmi Afrizal Rizqi
Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku

Satu dasawarsa telah berlalu. Tepat sepuluh tahun lalu, terakhir kali dilaksanakan Sensus Penduduk. Salah satu kegiatan pencatatan data-data kependudukan secara menyeluruh. Melalui sensus inilah, berapa jumlah penduduk dapat diketahui.

Tak hanya di Indonesia, hampir seluruh negara di dunia menyelenggarakan sensus penduduk. Karakteristik penduduk berdasarkan wilayah tempat tinggal hingga kepadatan penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat teridentifikasi. Tujuannya untuk apa? Jelas, demi perencanaan pembangunan Indonesia yang lebih baik lagi.

Pertanyaannya, mengapa harus menunggu sepuluh tahun sekali untuk melaksanakan sensus penduduk? Alasan pertama jelas dari sisi biaya. Kegiatan sensus dilaksanakan secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia, hingga level lingkungan masyarakat terendah sekalipun. Implikasinya akan membutuhkan banyak petugas untuk melakukan pendataan.

Sebagai gambaran, di Indonesia terdapat 75.436 desa dan 8.444 kelurahan (Pendataan Potensi desa 2018). Berapa banyak petugas yang dibutuhkan untuk melakukan sensus? Berapa besar biaya untuk membayar honor petugas tersebut?

Alasan kedua yaitu waktu. Pendataan sensus secara menyeluruh memerlukan waktu yang tidak singkat. Mulai dari perencanaan hingga hasil sensus dipublikasikan tidak cukup selesai dalam tempo satu-dua tahun saja.

Faktor penggunaan teknologi juga mempengaruhi lama tidaknya tahapan pelaksanaan sensus. Misalnya, di negara maju sebagian besar telah memanfaatkan data registrasi penduduk. Artinya, tidak perlu turun ke lapangan untuk memperoleh data. Waktu pelaksanaan sensus menjadi lebih singkat.

Lalu pelaksanaan sensus penduduk di Indonesia seperti apa? Sensus penduduk di Indonesia terakhir kali dilaksanakan tahun 2010. Metode yang digunakan sepenuhnya menggunakan kuesioner kertas.

Hal itu juga berlaku pada pelaksanaan sensus penduduk periode sebelumnya (1961, 1971, 1980, 1990, 2000). Tahun ini, sensus penduduk akan kembali dilaksanakan. Namun, apakah sensus penduduk masih dilakukan menggunakan kuesioner kertas?

Memang pelaksana kegiatan sensus penduduk adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Namun kita semua harus turut berbangga. Pasalnya, Sensus Penduduk 2020 akan menggunakan metode kombinasi (sebelumnya tradisional).

BPS akan memanfaatkan data kependudukan yang dimiliki Dirjen Dukcapil sebagai “pintu masuk” dalam melakukan pendataan lapangan. Berbekal data-data Dukcapil, petugas lapangan sensus akan melakukan konfirmasi dan pendataan kepada seluruh penduduk. Selain itu, ada gebrakan baru pada Sensus Penduduk 2020, yaitu sensus online.

Sensus online yaitu pengisian data-data kependudukan secara mandiri oleh masyarakat kapanpun dan dimanapun. Asal terjangkau fasilitas internet dan memiliki perangkat untuk membuka halaman web sensus online, siapapun dapat berpartisipasi. Pelaksanaan sensus online dimulai tanggal 15 Februari hingga 31 Maret 2020. Partisipasi dalam sensus online sedikit banyak akan membantu petugas dalam sensus lapangan pada bulan Juli 2020.

Itulah mengapa kita sebagai penduduk Indonesia patut berbangga dengan adanya lompatan baru dalam pelaksanaan sensus penduduk. Indonesia telah selangkah lebih maju dibandingkan negara berkembang lainnya. Harapannya, pelaksanaan sensus periode mendatang (2030) telah sepenuhnya menggunakan skema registrasi layaknya negara maju.

Menuju Satu Data Kependudukan

Selain inovasi dalam metode dan perangkat yang digunakan, Sensus Penduduk 2020 akan mendorong terciptanya Satu Data Kependudukan. Selama ini, seringkali terjadi perdebatan mengenai jumlah penduduk baik di level wilayah terendah hingga nasional. BPS, Dukcapil, BKKBN, KPU, dan instansi lain memiliki data kependudukan versi masing-masing.

Bagi masyarakat hal ini jelas membingungkan, data mana yang akan digunakan. Adanya Satu Data Kependudukan diharapkan meminimalisir perbedaan data hingga hanya ada satu sumber data. Hal itu diperkuat oleh Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia.

Dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan demi terwujudnya Satu Data Kependudukan. Sensus Penduduk hanyalah salah satu motor menuju kesana (Satu Data Kependudukan). Peran dari BPS, Kemendagri, dan instansi terkait tak berarti tanpa dukungan seluruh masyarakat. Feedback bagi masyarakat tentu paket kebijakan dan program pemerintah demi terwujudnya kesejahteraaan rakyat.

Memang setelah didata maupun mengisi sensus online tidak ada manfaat secara langsung yang diterima. Namun, data-data yang kita berikan akan menjadi pijakan pemerintah dalam membangun jalan, jembatan, sekolah, perumahan, sarana kesehatan, hingga penyediaan lapangan pekerjaan.

Bukankah biaya yang digunakan untuk sensus juga berasal dari masyarakat sendiri. Sudah semestinya, kita semua turut menyukseskan Sensus Penduduk 2020. Telah tiba waktunya Mencatat Indonesia.

 

Ulul Azmi Afrizal Rizqi
Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.