Rabu, Januari 20, 2021

Milenial dan Virus Golput

Dilema Kaum Guru

Di Indonesia ada suatu pekerjaan yang penuh dengan resiko dilema. Resiko dilema ini bukan hanya berhubungan dengan pendapatan, tapi juga berkaitan dengan proses bekerja...

Politisi Islam Indonesia Belajarlah dari Natsir!

Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini, selain punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan juga punya andil dalam menopang jalannnya demokrasi. Kepercayaan akan Tuhan...

Kearifan Lokal Asian Games 2018

Asian Games memberikan sisi menarik bagi kearifan lokal Indonesia. Kultur adat, adab, dan jiwa sportivitas dalam bertanding menampilkan karakter jiwa masyarakat bangsa Indonesia. Pembukaan Asian...

Infomalisasi Tenaga Kerja di Era Digital

Perkembangan ekonomi digital saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Hampir seluruh sektor bisnis dituntut untuk mengikuti tren digital yang saat ini berkembang, diantaranya melalui...
Oman Baiturrahman
Penulis di PeaceLink (Peace Literacy Network) Malang

Dalam pusaran politik praktis, partisipasi politik kaum Milenial dalam meramaikan ruang demokrasi di Indonesia semakin masif. Terlihat banyaknya Milenial yang tebilang prematur berani menjadi caleg bahkan mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah.

Secara kuantitatif, seperti yang ditulis oleh Sekertaris Parennial Institute, Marianus Mantovany Tapung, 80 juta (30 persen-40 persen) dari 185.732.093 pemilih adalah kalangan milenial dengan rentang umur 17-35 tahun (Media Indonesia 15/03/19). Fakta ini bisa membangun sebuah spekulasi bahwa penentu kemenangan pada pileg dan pilpres adalah kalangan milenial ─pendapat ini tidak berlaku bagi sebagian orang.

Namun siapa sangka, spekulasi itu bisa dibantahkan dengan fakta dan data yang lebih objektif. Seperti ditulis oleh Priyo Handoko Komisioner KPU Provinisi Kepulauan Riau yang mengungkapkan kecenderungan tingkat partisipasi dari pemilu ke pemilu memperlihatkan penurunan. Tahun 1999 partisipan pemilu 92 persen menurun menjadi 84 persen pada pemilu 2004. Pada pemilu berikutnya tahun 2009  menjadi 71 persen dan naik sedikit menjadi 73 persen pada 2014 (Jawa Pos 13/03/2019).

Dominasi kaum Milenial dalam mengisi ruang demokrasi di Indonesia tak sejalan dengan fakta partisipasi pemilih milenial di Indonesia. Menurut data DPP Fisipol UGM terdapat kecenderungan pemilih Milenial memilih golpot sebagai jalan tengah demokrasi. Melalui media daring, 27 Januari 2019 – Februari 2019 terdapat 2.840 percakapan tentang golput.

Adapun di berbagai wilayah percakapan golput terbilang masif;  Jawa Barat 21,60 persen, DKI Jakarta 14, 94  persen, Jawa Timur 14, 64 persen, sementara Jawa Tengah dan Yogyakarta 9 persen, dan di wilayah lainnya 1 persen. Data ini dapat memberikan kesimpulan bahwa 70-80 persen pemilih Milenial, memilih golput sebagai pilihan (Media Indonesia 15/03/19).

Pemaparan data ini juga menunjukan permasalahan yang krusial di kalangan Milenial. Menurut Penulis ada bebrapa aspek yang melatar belakangi keapatisan kaum Milenial sehingga menjadikan golput sebagai pilihan; (1) Interpretasi Milenial tentang politik cenderung memaknainya dengan negatif, politik selalu diasumsikan sebagai alat merenggut kekuasaan, sehingga berbagai cara dilakukan politisi cenderung untuk memuaskan kepentinggan golongannya saja.

(2) Sikap para Politisi/Elit Pemerintah yang memperlihatkan ketidak dewasaan dalam berdemokrasi. Sikap ini sering menimbulkan polemik di kalangan grassroot ─bahkan hingga menimbulkan keos antar golongan di Masyarakat. (3) Arus media sosial yang semaikn masif, yang digunakan sebagai alat kampanye kebencian golongan tertentu, Dan mungkin masih banyak lagi masalah-masalanya yang menyebabkan Milenial malas berpartisipasi.

Keapatisan pemuda dalam meramaikan ruang demokrasi di Indonesia ini bisa menjadi boomerang bagi bangsa. Pasalnya, pada masa kolonial, banyak pemuda yang berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan ─sebut saja Syahrir, Soekarni, Choirul Saleh dll─ bahkan peristiwa tahun 1998 yang masih terngiang dalam benak masyarakat Indonesia di pelopori oleh para Mahasiswa. Kenyataan ini  berbanding terbalik dengan identitas sosial yang selama ini melekat pada pemuda yaitu sebagai Agent of Change.

Ungapkan Soekarno yang terkenal “Berikan aku sepuluh pemuda akan ku goncangkan dunia” ternyata hari ini hanya sebagai klise dan tidak bisa digunakan sebagai kenyataan empiris.

Dalam konteks demokrasi di Indonesia, masalah ini tidak bisa disalahkan seluruhnya kepada mereka yang lahir pasca Reformasi atau mereka yang disebut sebagai kelompok Milenial.

Karena pada dasarnya mereka lahir dari lingkungan yang membentuk cara hidup dan pola pikir di mana mereka hidup. Cara hidup dan pola pikir ini banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka. Dalam konteks politik di Indonesia, Adanya kelompok Elit Pemerintah ─Elit pengubar janji, Elit Koruptor, Elit yang haus jabatan─ yang tidak mencerminkan nuansa demokrasi yang sehat adalah contoh masalah krusial yang membuat Milenial malas berpartisipasi memilih dalam pusaran politik praktis.

Tulisan Franz Magnis Suseno ─tentang golput (baca: golput)─ patut untuk menjadi analisa dalam pembahasan ini. Kewajiban moral ─bukan kewajiban secara hukum─ yang melandasi seseorang harus memilih dalam pilpres mendatang, jika hanya untuk mencegah yang buruk berkuasa, dalam pandangan saya tentu akan menambah kaapatisan pemuda dalam memahami arti demokrasi di Indonesia Aprioritas.

Golput bukan hanya masalah pemuda atau mereka yang tidak mau memilih, tetapi golput juga masalah Elit Pemerintah dalam memberikan nuansa demokrasi yang sehat ─demokrasi yang sarat akan nilai kenegarawanan dan pemenuhan atas hak-hak warga negara.

Oman Baiturrahman
Penulis di PeaceLink (Peace Literacy Network) Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.