Senin, Maret 8, 2021

Mewujudkan Kembali KTT AS-Korut

Pencalonan Caleg Perempuan ala PSI

Perempuan seringkali dianggap sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kesetaraan hak dengan laki-laki dalam bidang pekerjaan. Pola pikir masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa...

“Tuhan” Investor, “Agama” Investasi

Pemerintahan Jokowi telah melakukan berbagai cara mendongkrak investasi. Ia mulai serius menggodok rencana menghapus persyaratan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Izin Mendirikan Bangunan...

Redam Konflik Melalui Komunikasi Berbasis Local Wisdom

Disiplin ilmu sosial adalah mengenal manusia sebagai makhluk sosial. Sebab, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia selalu memerlukan bantuan orang lain untuk membantu memenuhi...

Darurat Perbaikan Layanan Publik di Desa

Seorang Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi, tiba-tiba merasa heran, bagaimana mungkin warganya yang notabene mampu secara ekonomi, ternyata masih ada yang...
Fathin Nawwar Marhadi
Seorang pelajar yang ingin menjadi seorang yang bisa menulis sesuatu

Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional adalah terwujudnya Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un.

Namun, Trump pada Kamis 24 Mei 2018 secara tiba-tiba membatalkan KTT, yang dijadwalkan untuk 12 Juni di Singapura. Trump menyebutkan “Kemarahan luar biasa dan permusuhan terbuka” yang dilakukan Korea Utara baru-baru ini membuat pertemuan bulan depan sulit terealisasi sehigga dia memilih untuk membatalkan itu.

“Sayangnya, berdasarkan kemarahan yang luar biasa dan permusuhan terbuka yang ditampilkan dalam pernyataan terbaru Anda, saya merasa waktunya tidak tepat pada saat ini untuk mengadakan pertemuan yang telah direncanakan selama ini,” kata Trump dalam surat yang ditujukan langsung kepada Kim Jong-un.

Walaupun orang nomor 1 di negara Super Power itu secara langsung membatalkan pertemuan antara kedua orang tersebut, dari Pemerintah Korea Utara dan Pemerintah Amerika Serikat sendiri berusaha untuk mewujudkan kembali pertemuan antara Donald Trump dengan Kim Jong-Un.

Dari pemerintah Korea Utara sendiri, menyatakan bahwa Korea Utara masih terbuka untuk melakukan pembicaraan guna menyelesaikan ketegangan dengan Amerika Serikat terkait program senjata nuklirnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Kim Kye Gwan mengatakan Pyongyang “terkejut” dengan pembatalan pertemuan tersebut. Dia menjelaskan bahwa sikap keras yang dilakukan oleh Korea Utara kepada Washington dalam beberapa pekan terakhir hanyalah sebuah bentuk “protes” terhadap retorika Amerika Serikat dan hal itu menunjukkan pentingnya pembicaraan antara kedua negara.

“Untuk mengumumkan KTT dibatalkan adalah kejutan bagi kami dan kami tidak merasa itu sangat disayangkan,” kata Kim sebagaimana dilansir Reuters, (25/5/2018).

Kim Kye Gwan menjelaskan bahwa tujuan dan keinginan Korea Utara adalah melakukan segalanya demi perdamaian dan stabilias yang ada di Semenanjung Korea serta umat manusia. Korea Utara pun selalu bersedia memberikan waktu dan kesempatan pada Amerika Serikat untuk menyelesaikan masalah antara kedua negara.

Di kubu Amerika sendiri, tidak lama setelah pengumuman pembatalan, Trump kemudian mengutarakan bahwa rencana pertemuan itu “belum berubah” dan dirinya masih berharap pertemuan masih bisa digelar.

Perkembangan tersebut kemudian disusul dengan pertemuan mendadak antara pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, pada Sabtu (26/05). Pertemuan antara kedua pihak ini sesungguhnya dipelopori oleh Amerika Serikat sendiri.

Juru bicara Persiden Moon mengatakan bahwa kedua pemimpin menjalin dialog “terbuka” yang berlangsung sekitar dua jam. Langkah ini dilaporkan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali rencana pertemuan puncak pemimpin AS-Korea Utara.

Dikatakan, Kim Jong-un telah berterima kasih kepada Moon Jae-in karena “telah banyak berusaha” untuk mengatur pertemuan puncak Korea Utara dan Amerika Serikat di Singapura.

Ditambahkannya bahwa pemimpin Korea Utara berkeinginan agar pertemuan dengan Presiden Trump tetap dapat terlaksana.

Dalam perkembangan lain juga, Gedung Putih mengukuhkan bahwa pihaknya mengirim tim aju ke Singapura akhir pekan ini, sesuai dengan jadwal semula, untuk menyiakan pertemuan puncak.

Konferensi Tingkat Tinggi antara Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump diharapkan nantinya dapat meredakan masalah antara kedua negara tersebut. KTT ini juga nantinya akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan negara yang bersangkutan dan sistem internasional itu sendiri.

Fathin Nawwar Marhadi
Seorang pelajar yang ingin menjadi seorang yang bisa menulis sesuatu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.