Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Mewaspadai Sontoloyo

Kasus Cerpen LGBT di USU: Kampus Perlu Ganti Rektor dengan Uskup

Akibat penayangan cerpen berjudul ‘Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya’ itu, situs daring suarausu.co sempat ditutup selama hampir sepekan oleh rektorat Universitas Sumatera Utara...

Pengembangan Masyarakat Desa di Revolusi Industri 4.0

Konsep Revolusi Industri 4.0 dikenalkan oleh Prof. Klaus Schwab seorang ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) dalam...

Menyoal RUU Permusikan

Belakangan ini sedang ramai di media sosial soal RUU permusikan yang digagas oleh komisi X DPR RI. RUU ini menuai banyak kontra dari para...

Mewaspadai dan Mengatasi “Post Truth”

Kemenangan Jokowi kalau menurut hasil Quick Count itu di luar prediksi. Hanya selisih 10% dari kandidat lawannya Prabowo. Angka itu tidak jauh berbeda dari...
Halili MA
Pegiat Kebangsaan di Universitas Negeri Yogyakarta dan SETARA Institute

Term ‘sontoloyo’ hari ini kembali popular gara-gara Presiden Joko Widodo mengingatkan kita semua untuk mewaspadai politikus sontoloyo. Ke-sontoloyo-an para politisi secara faktual harus diakui sebagai patogen demokrasi kita hari ini, sejak reformasi. Namun, ada kesontoloyoan lain dalam cara kita meletakkan pemahaman keagamaan dalam keindonesiaan, yang sebenarnya sudah sejak tahun 1930-an digalaui oleh Bung Karno.

Hari-hari ini kita mendapati begitu banyak gangguan serius atas kegiatan-kegiatan pelestarian kebudayaan nusantara. Penolakan tersebut pada umumnya didasarkan pada justifikasi doktrin keagamaan, terutama mengenai syirik, bid’ah, dan lain sebagainya.

‘Sweeping’ Kebudayaan

Gelaran upacara adat labuhan pisungsung jaladri (secara popular sering juga disebut sedekah laut) di Pantai Baru Bantul mendapatkan serangan dari sekelompok orang. Pada malam sebelum acara, sekitar 50-an orang pria bercadar menggeruduk lokasi, mengobrak-abrik, dan membubarkan persiapan gelaran acara. Ujungnya, sebagian besar rangkaian acara batal dilaksanakan pada sabtu keesokan harinya (13/10/2018).

Sebelum pembubaran acara tersebut, sebagaimana screenshoot surat yang viral di media sosial, Majelis Mujahidin (MM) DIY mengeluarkan peringatan (tadzkirah) kepada Bupati Bantul Drs H Suharsono yang berisi penolakan atas acara sedekah laut tersebut. MM DIY mengingatkan Bupati untuk tidak melestarikan budaya-budaya yang bernuansa tahayyul, kesyirikan, dan mengundang kemaksiatan, sambil memberikan konteks bencana di Lombok Nusa Tenggara Barat dan Palu Sulawesi Tengah.

Selain di Bantul, penolakan terhadap tradisi sedekah laut juga terjadi di Cilacap pada hari Jumat (12/10/2018) yang lalu. Seratusan lebih banner beridentitas FUI Cilacap berisi penolakan terhadap acara budaya tersebut tersebar di sudut-sudut Kabupaten Cilacap. Salah satu narasi utama dalam banner tersebut berbunyi “Jangan Larung Sesaji Karena Bisa Tsunami”.

Sebelumnya, resistensi serupa juga terjadi di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Seperti surat dalam tangkapan layar yang viral di media sosial, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Sumenep menyatakan menolak gelaran tradisi turun temurun rokat tasék (semacam ‘ruwat segara’). Jadi, ‘sweeping’ kebudayaan berlangsung sistematis di beberapa daerah.

Terhadap fenomena tersebut, beberapa hal patut menjadi catatan kita bersama. Pertama, peristiwa pembubaran dan perusakan di Pantai Baru berkaitan dengan acara sedekah laut, seperti yang juga terjadi di Cilacap dan Sumenep, menegaskan menguatnya fenomena konservatisme keagamaan yang antara lain ditandai dengan pengentalan identitas yang dibarengi dengan pengerasan resistensi terhadap identitas yang berbeda, monopoli dan dominasi atas klaim kebenaran dengan cara menegasikan perspektif yang berbeda dan menihilkan (denial) eksistensi liyan.

Penguatan Basis Sosial

Kedua, mengutip data yang dicatat SETARA Institute dari berbagai riset yang telah dilakukan, terjadi penguatan basis sosial bagi konservatisme keagamaan, radikalisme dan bahkan ekstremisme kekerasan (violent extremism). Riset SETARA di DKI Jakarta dan Bandung Raya (2015-2016), misalnya, mengungkap fakta banyaknya pelajar di sekolah-sekolah menengah atas negeri yang beranggapan bahwa cara-cara kekerasan dan pembumihangusan yang dilakukan oleh ISIS layak didukung.

Padahal sebagaimana diketahui, ISIS sejak awal gerakannya di Irak dan Suriah mengglorifikasi panji-panji keagamaan antara lain dengan cara menghancurkan situs-situs kebudayaan dan warisan kebudayaan dunia (world cultural heritage).

Di Suriah saja, menurut data Asosiasi Perlindungan Situs Bersejarah Suriah, lebih dari 900 monumen dan bangunan bersejarah telah dihancurkan oleh ISIS. Belum lagi di Irak, situs-situs super hitoris warisan zaman Mesopotamia (Sebelum Masehi) hingga Zaman Nimrud abad ke-13 Masehi hampir seluruhnya menjadi butiran debu.

Penguatan tersebut harus diwaspadai dan diintervensi secara preventif. Sebab hal itu dapat menjadi ancaman di level sosial terhadap penyelenggaraan berbagai kegiatan-kegiatan pelestarian kebudayaan nusantara. Gelaran-gelaran budaya tersebut dapat dibubarkan oleh kelompok-kelompok radikal dan ekstremis dengan berbagai dalih doktrin agama.

Keempat, pemerintah daerah dan aparat keamanan tentu tidak boleh tinggal diam menghadapi gejala di atas. Penegakan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh segerombolan warga itu harus dilakukan secara serius.

Selain itu, pemerintah hendaknya merancang strategi-strategi sosio-kultural untuk mengantisipasi penguatan konservatisme yang dapat mengganggu pelestarian budaya, merusak harmoni dan kohesi sosial, serta melanggar hak dasar seluruh warga atas rasa aman.

Di atas itu semua kita, juga mesti merefleksikan keresahan yang pernah dikemukan oleh Bung Karno, salah satu pendiri bangsa, mengenai fenomena keberislaman warga kita saat itu. Dalam tulisan berjudul Islam Sontoloyo (1940) Sukarno gelisah dengan gejala memudarnya ‘api Islam’.

Umat Islam Indonesia—dalam setting ruang dan waktu saat itumudah melakukan pengkafiran terhadap yang lain, melakukan taqlid buta, dan tak melek sejarah agama serta mengutamakan fikih tapi melupakan visi etik Al-Qur’an. Fenomena tersebut merupakan sebagian dari watak ‘sontoloyo’ dalam keberislaman orang-orang Indonesia pada zaman itu, yang lebih sibuk dengan ‘asap, abu, dan debu’-nya Islam, bukan ‘apinya’ Islam.

Hari ini, watak-watak demikian kembali mengemuka. Penguatan konservatisme terjadi dimana-mana. Kita harus mewaspadai penguatan kembali watak-watak sontoloyo versi Bung Karno itu. Sebab lama kelamaan kita bisa kehilangan begitu banyak kearifan kultural dan identitas nusantara, bila perspektif sontoloyo itu dibiarkan merebut ruang absolutisasi di hadapan kebudayaan kita.

Sumber foto: https://jateng.antaranews.com/berita/202449/meski-ada-penolakan-nelayan-tetap-akan-gelar-sedekah-laut

Halili MA
Pegiat Kebangsaan di Universitas Negeri Yogyakarta dan SETARA Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.