Kamis, Januari 21, 2021

Messi: Don’t Cry For Me Argentina

Cinta dari Rusia: Antara Politik dan Sepak Bola

Kompleksitas hubungan antara sepak bola dan politik membelit Piala Dunia 2018 menyusul ancaman boikot diplomatik Inggris dan sejumlah negara lain. Rusia membutuhkan dialog dan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Perlunya Menjadi Corong Suara Islam

Amal Kassir punya niat mulia. Gadis warga Negara Amerika ini cukup mafhum bahwa setelah beberapa jam dalam penerbangan tentu aroma mulut seseorang sudah tidak...

Menjadi Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Geografi yang Paripurna

Di akhir tahun 2018 lalu ada berita yang menggeltik perasaan saya. Bukan berita nasional, hanya berita kampus yang diangkat oleh lembaga pers mahasiswa kampus,...
Desvian Bandarsyah
Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah

Tulisan ini pertama, untuk menghormati talenta terbaik dalam jagad sepak bola. Kedua, untuk memenuhi janji saya terhadap seorang sahabat di dunia maya, Prof. Subdan. Dan ketiga, demi menegakkan objektivitas dan mungkin juga subjektivitas dalam sepak bola.

Don’t cry for Me Argentina, lagu yang dinyanyikan penyanyi kondang Madonna, kini bergema kembali di Argentina. Gema lagu ini akan semakin keras jika Argentina dalam partai terakhir melawan Nigeria di fase grup nanti mengalami kekalahan lagi atau bahkan seri.

Talenta

Lionel Messi, adalah talenta terindah dalam dunia sepak bola. Lahir dalam keadaan miskin yang menyebabkan ia kurang gizi dan mengalami gangguan pertumbuhan fisik, seolah olah tidak mengurangi bakat alamiah dan kemampuannya dalam bermain bola.

Barcelona yang “menyelamatkan” bakatnya dari kejamnya kemiskinan hidup. Klub Catalan itu membentuk fisik dan prestasi seorang Messi, yang disebut sebut anak emas dari para “dewa bola di Olympia”.

Prestasinya mencorong, bak berlian kelas wahid yang mewah akibat proses alamiah alam. Prestasi yang mencorong itu diperkaya dengan mewahnya oleh reputasi ia dalam membobol gawang lawan. Belum habis puja dan puji, juga semakin lengkap dan kemampuan Messi meliuk-liuk diantara banyak lawan dalam upaya membobol gawang lawan atau “sekedar” memberi asist dengan cara yang sangat mudah di mata para penontonnya.

Prestasi yang mewah di klub dibarengi juga dengan sikap “tawadhu” yang mencerminkan kerendahan hati dan permainan yang bersih. Singkatnya sosok ini memang seperti Mesiah dalam sepak bola yang digambarkan oleh para pengamat bola.

Segala daya upaya klub dan Messi menjadikan Barcelona meraih prestasi yang tidak tertandingi di era siapapun. 2 kali menciptakan trebel atau 3 gelar dalam satu musim. Peraih gelar pencetak gol hampir setiap musim, yang hanya diselingi oleh pesaing utamanya, Cristiano Ronaldo.

Peraih Balon D’ior sebagai pemain terbaik dunia 5 kali yang lagi-lagi hanya bisa diselingi oleh pesaing utamanya Cristiano Ronaldo. Maka tidak heran, jika seorang Neymar mengatakan, bahwa ia adalah pemain terbaik dunia, sedangkan Messi dan Ronaldo adalah pemain dari planet lain. Semua itu memberikan secara utuh talenta seorang Lionel Messi.

Antara Barca dan Argentina 

Di Barcelona, Messi adalah cerita sukses dengan gelimang prestasi. Di dukung oleh seluruh kekuatan Barcelona, terutama para pemain di lapangan. Tokoh “pewayangan” ala Barcelona, seperti Xavi Hernandes, Adreas Iniesta dan lainnya, telah membuat Messi bekerja menjadi “lebih mudah”.

Gaya taka tiki mendikte liga di Spanyol dan Dunia. Masyarakat jagad sepak bola sebagai penikmat tentu saja terhibur dalam drama dan seni yang disuguhkan Messi dan Barcelona selama 2 × 45 menit pertandingan berlangsung. Singkat kata, dengan Barcelona segalanya telah diraih dengan sangat mewah dan megah.

Bagaimana dengan Argentina. Ceritanya berbading terbalik, bahkan sangat nestapa. Bersama Argentina, tim nasional dengan reputasi dua kali juara dunia, ditambah lagi dengan kemewahan talenta yang dimiliki rata rata squad tim Tango itu, Messi selalu menuai cerita duka. Tiga kali mencapai final, dengan tiga kali kalah di Final. Dalam kejuaraan Sepak Bola Piala Dunia, Messi selalu berurai air mata dan duka. Dalam Piala Dunia yang lalu, Argentina mencapai Final, tetapi dikalahkan Jerman. Menangislah Argentina.

Kini, dalam pesta yang sama pada fase grup duka membayanginya. Bermain seolah sendiri, tanpa dukungan dan kerjasama tim yang memadai, ia seolah mengejar kemenangan yang sia sia. Melawan Eslandia, Messi berusaha dengan keras menunjukkan gengsi Argentina. Alhasil penalti diperoleh karena manuver dan penetrasi personal seorang Messi. Sayang pinalti itu gagal dikonfersi menjadi gol.

Ia bermain tanpa dukungan dan semangat tim yang memadai. Talenta besar Kun Aguero, Angel Di Maria, Nicholas Otamendi, JMascherano, dan yang lainnya, ibarat warna warni yang cerah tapi tidak menyatu dalam harmoni. Maka menjadi kemuraman belaka.

Sebagai sebuah tim, talenta besar Argentina tidak mewujud di lapangan. Masuk arena pertandingan dengan wajah yang tegang dan asing satu sama lainnya. Akibatnya, bola tidak mengalir, umpan satu dua tidak muncul. Penguasaan bola yang dominan menjadi sia sia.

Melawan Kroasia semakin nampak beban itu. Wajah muram semakin nyata setelah 2 x 45 selesai. Kekalahan 0-3 memberi hantaman bagi Argentina dan Messi. Seolah kompetisi yang menyisakan satu kali pertandingan lagi bagi Argentina telah berakhir.

Apa yang salah dengan Argentina. Tim dengan bintang yang bertaburan hampir di semua lini itu begitu rapuh dan tidak mampu mengorganisir diri mereka dengan baik. Jawabannya adalah mereka tidak menyatu. Messi dan anggota tim lain tidak menyatu dan sesama anggota tim lainnya juga tidak menyatu. Komunikasi verbal dan terlebih lagi non verbal tidak muncul di lapangan.

Messi bukan tipe pemain manja. Dia biasa menjelajah lini tengah sampai ke depan gawang musuh, meski usianya sudah menua dan itu ia tunjukkan ketika melawan Eslandia. Messi juga bukan individu yang egosi. Ia biasa memberi umpan dan Asist kepada rekannya di Barcelona untuk mencetak gol. Maka terkenal Trio MSN di Barcelona, Messi, Suarez dan Neymar.

Di tim Argentina, situasinya berbeda. Bahkan sangat berbeda. Anggota tim tidak mengikat diri mereka ke dalam satu tim yang utuh. Maka hasilnya sebenarnya menjadi masuk akal jika gagal.

Nampaknya Lionel Messi akan memiliki karir cemerlang dalam jagad sepak bola, dengan cela tidak pernah mengangkat Piala Dunia. Trophy yang ia dambakan dengan keikhlasannya menukar dengan seluruh trophy kejuaraan yang ia menangi. Mungkin Messi akan berkata: “Don’t cry for me Argentina.”

Desvian Bandarsyah
Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.