Senin, Maret 1, 2021

Merenungi Gegap Gempita Ramadan

Fanatisme Politik dan Kebiadaban terhadap Pers

Tidak berbeda dengan masa lampau, pada saat ini juga masyarakat melihat atau bahkan mengalami di mana pers sudah benar-benar dialihfungsikan sebagai media yang selalu...

Indonesia, Multikultural dan Konflik

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang unik karena memiliki ribuan adat-istiadat. Memiliki apa yang disebut sebagai SARA (Suku, Agama dan Ras) yang menyebar dari Sabang...

Menjadi Guru di Era Digital

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin cepat dewasa ini secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dunia pembelajaran, baik pada...

—–

----
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Ramadan selalu penuh gegap gempita. Dirayakan secara besar-besaran. Membersihkan dan mengecat masjid. Membuat program-program kegiatan Ramadan. Mencetak spanduk – spanduk. Membuat hiasaan-hiasan di jalan-jalan kampung, di masjid. Merencanakan akan menjual makanan apa saja. Membuat video-video ucapan yang menarik. Mencipta lagu-lagu. Memproduksi konten ramadhan baik berbentuk tulisan, audio, video.

Ramadan memang bukan jalan sunyi. Dia mempersilakan mereguk cintanya secara massal. Itulah bukti dari setan dibelenggu.

Suasana kondusif yang diciptakan-Nya tak selalu direspon baik oleh manusia. Gegap gempita sering tidak berakhir pada mereguk cinta-Nya. Alih-alih semakin menikmati “lapar”, manusia semakin benci lapar.

Begitu adzan maghrib berkumandang, mulut diganjar oleh makanan yang perut sebenarnya tak muat menampungnya. Tidak hanya itu, puasa baru berjalan beberapa jam, hati sudah pergi jauh ke waktu lebaran. “Ayo belanja pakaian sekarang, besok menjelang lebaran terlalu ramai.”

Selalu saja, puncaknya tak ada perubahan apa-apa pasca ramadhan. Bukan akal dan hati yang semakin berdaulat, tapi nafsu.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang dikehendaki manusia dalam hidupnya? Dia berpuasa. Maka Dia mencipta. Dia yang tak terbatas merelakan diri membuat batas – batas di dalam dirinya.

Kita bisa mengidentifikasi sebuah ciptaan karena ciptaan itu ada batasnya. Yang paling kasat mata adalah bentuk. Yang tidak terlihat adalah kecenderungan. Manusia dipandang sebagai manusia karena memilik organ-organ tubuh dengan ciri sebagaimana yang kita sepakati. Selain itu manusia diberi perangkat non fisik seperti akal, hati, nafsu.

Selain manusia, ciptaan-Nya yang lain sudah melaksanakan fungsinya secara terbatas. Ayam berkokok. Anjing menggonggong. Kucing mengeong. Tanaman tumbuh mengikuti arah matahari. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.

Sebagaimana ciptaan yang lain, manusia seyogyanya berlaku dengan batas. Batas paling jelas menurut Sang Pemilik seratus persen saham kehidupan adalah menjadi ‘abdullah’ (hamba-Nya) dan ‘khalifatullah’ (Wakil Allah di Bumi).

Sejarah mencatat, dalam urusan itu banyak kegagalan terjadi. Nyawa yang dikorbankan sebagai harga untuk membayar ‘kekuasaan’ sudah tak terhitung lagi. Alam yang dirusak sebagai harga untuk membayar ‘kesejahteraan’ (individu) sangat tidak sedikit.

Dan nampaknya hal – hal itu akan terus ada selama manusia masih punya akal, hati, nafsu. Oleh karenanya acuan utama hidup bukan pada hasil, tetapi proses.

Kita secara arogan sering menandai sebuah peradaban berhasil karena meninggalkan bangunan – bangunan mewah. Padahal keberhasilan utama yang seringkali tidak terdokumentasi dengan baik adalah apakah masyarakatnya mempunyai semangat untuk berusaha hidup sesuai dengan kehendaknya atau tidak.

Kita bisa lihat dokumentasi sejarah yang begitu bertolak belakang di dalam Al-Qur’an dengan buku – buku sejarah yang dibuat oleh manusia. Di Al-Qur’an kaum ‘Ad bisa dikatakan termasuk kaum yang gagal. Menyakiti kekasih-Nya, Hud dan kemudian dibinsakan oleh-Nya. Kalau saja ada peninggalan fisik yang bisa dipelajari bisa jadi buku sejarah manusia akan menyebutnya sebagai sebuah keberhasilan. Karena diceritakan dalam Al-Qur’an bahwa kaum ‘Ad pandai membuat bangunan tinggi yang belum pernah dibuat bangsa lain dan sebelumnya.

Al-Qur’an mencatat keberhasilan suatu kaum berdasarkan tingkat keimanan. Dibuktikan dengan perilaku manusianya kepada para Nabi yang diutus di wilayahnya.

Buku sejarah manusia mencatat keberhasilan suatu bangsa berdasarkan peninggalan kasat mata. Yang bisa diukur.

Cara pandang itulah yang oleh zaman modern disebut sebagai scientific, ilmiah, berdasarkan data yang dijadikan acuan dalam banyak hal di kehidupan modern. Dan seringkali gagal menilai sesuatu.

Kita bisa lihat dari dunia pendidikan. Seorang anak sekolah nilai agamanya bagus jika di dalam ujian praktik berhasil melaksanakan ritual ibadah, gerakan dan bacaan secara lengkap sesuai prosedur. Walau di luar ujian itu anak tersebut tak pernah melaksanakan ritual ibadah tersebut. Pun akhalknya tidak baik.

Cara pandang yang mengagungkan pengukuran material begitu mudah digunakan untuk hal yang tidak seharusnya. Supaya dianggap baik seorang pemimpin menunjukkan hasil kepemimpinannya dengan bukti fisik. Sebuah laporan dianggap baik kalau sudah melampirkan bukti fisik. Padahal hal semacam itu rentan manipulasi.

Salah satu akibatnya. Ramadhan menjadi gegap gempita. Tak ada lagi menyendiri di gua hira. Yang ada menyatu dengan gemuruh pasar.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.