Jumat, Februari 26, 2021

Merehabilitasi dan Merekonstruksi Sisi Progresif Pancasila

Ridwan Kamil dan Karma Politik

Karma tidak pandang bulu. Karma bisa menyerang siapa saja. Karma menyerang setiap orang yang terkesan menyengaja berbuat salah terhadap orang lain. Termasuk menyerang Walikota...

Kearifan Lokal yang Dilupakan

Kalau kita melihat bangsa-bangsa lain yang maju seperti Jepan, korea Selatan, China serta lainnya, mereka berpijak pada tradisi dan kearifan lokal yang berkembang di...

Pertahankan Keberadaan Ojek Non-Online di Muka Bumi

Satu perusahaan penyedia aplikasi jasa antar mencatat jumlah pengemudinya mencapai 175.000 orang, meningkat 9.000 orang dalam tiga pekan (Kemhub, Maret 2018). Data tak resmi lain...

Catatan Tabu Gojek Liga 1 Paruh Musim 2018

Akhirnya Gojek Liga 1 2018 sudah sampai pada putaran paruh musim, dengan Persib Bandung keluar sebagai juara paruh musim kompetisi kali ini, mengeser Madura...
Wahyu Eka Setyawan
Alumni Psikologi Universitas Airlangga, sedang mengerjakan media kooperasi Cokletif.com. Bagian dari Walhi Jawa Timur. Nahdliyin kultural.

Praktik perampasan ruang hidup yang semakin meluas dan masif, merengut banyak dari hak-hak masyarakat, baik kaum tani, kaum adat, buruh, kaum marjinal perkotaan dan bahkan perempuan itu sendiri. Menunjukan suatu kegentingan, sisi darurat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Banalnya wakil-wakil rakyat dengan sisi disruptif, koersif dan wujud predatorisnya. Secara tidak langsung menjadi suatu gambaran bagaimana demokrasi ini tidak lagi berbasis kemaslahatan umat, yang bertumpu pada civil society dan berorientasi pada sosio-nasionalisme, dan sosio demokrasi (demokrasi kerakyatan pancasila).

Mengapa ini terjadi? Apakah ada yang salah dari sistem yang kita jalani hari ini? Tentu proses tersebut merupakan buah dari hegemoni yang berlangsung cukup lama. Pasca tragedi berdarah 65, struktur republik ini telah bergeser menjadi milik segelintir orang. Di mana ada dominasi kuasa oleh elite politik yang berelasi dengan pemilik kekayaan, dengan disokong oleh militerisme, premanisme dan tentu praktik-praktik kolutif dan nepotis.

Gaung Pancasila yang disampaikan berbusa-busa melalui penataran ideologi bangsa, dengan tujuan sempit yakni menangkal radikalisme dan mengukuhkan NKRI. Telah menjadi wujud dari hegemoni itu sendiri.

Di mana ada upaya yang sistematis serta tersusun rapi dalam sebuah skema, untuk mengukuhkan dominasi kuasa serta bagian dari upaya mempertahakan status quo. Pancasila pasca reformasi yang diharapkan akan menjadi nilai progresif, tak ubahnya pancasila di orde baru. Yang mana menjadi wujud dari politik reaksioner, dengan entitasnya yang erat dengan represi dan koersi itu sendiri.

Artinya pancasila tidak menjadi sesuatu yang revolusioner, ia diubah menjadi sisi yang destruktif, digunakan untuk melanggengkan perampasan ruang hidup. Karena pancasila sendiri tidak dipahami secara utuh, dipisahkan dari marwahnya yakni kerakyatan. Pasca 65, pancasila dielaborasi sedemikian rupa menjadi falsafah yang koersif dan represif. Menjadi alat penting orde baru, guna melanggengkan perampasan demokrasi dalam wujud ruang hidup itu sendiri.

Pancasila telah dihilangkan sisi progresifnya, yakni sosio demokrasi dan sosio nasionalismenya, menjadi cukup otoriteristik. Banyak rakyat yang berjuang dihajar dengan dakwaan anti pancasila, anti republik Indonesia, hanya dikarenakan pemikirannya dianggap tidak sesuai pancasila, dan dituduh mengamalkan praktik komunisme atau sosialisme.

Padahal, secara struktur filosofi pancasila adalah entitas sosialisme itu sendiri. Sejalan dengan prinsip kemaslahatan umat, yang bertumpu pada Al Mashalih Ar Raiyah atau kesejahteraan rakyat. Namun sisi-sisi itu dihilangkan, dengan merubah struktur filosofi pancasilan, dengan konstruksi konservatisme.

Dengan demikian ada sesuatu yang hilang di sini, pancasila telah kehilangan ruh progresifnya. Melaui konstruksi sejarah yang panjang, di mana pemerintah otoriterisme orde baru berhasil menggubahnya sesuai dengan kepentingan kuasa mereka. Bahkan, di era reformasi tak ada perubahan yang cukup signifikan.

Di mana pasca Suharto lengser, kekuatan orde baru tak kunjung lenyap. Mereka berdiaspora menjadi kekuatan-kekuatan baru. Orde baru secara wujud telah hilang, tapi secara prinsip filosofi mereka tetap eksis. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan pancasila yang reaksioner.

Jika Yudi Latif dalam pemikirannya mengingkan revolusi pancasila, dengan merubah struktur dan filosofinya menjadi suatu entitas yang kembali pada marwah republikanisme, kedaulatan rakyat dan kuasa rakyat, serta menekankan pada civic nationalism (kewarganegaraan nasional) utuh.

Di mana jelas dalam pendudukan res publica (ranah umum) dan res privata, yang secara filosofis sudah diatur dalam pancasila. Maka keyakinan untuk mengembalikan pancasila sebagai entitas progresif akan terwujud, tentu hal ini akan melahirkan visi revolusi pancasila.

Perampasan ruang hidup rakyat merupakan wujud dari lemahnya pancasila, yang secara trayektori masuk dalam sisi banalitas hegemoni kekuasaan. Negara yang dikuasai oleh kartel politik dan oligarki, telah melemahkan pancasila dan berakibat pada perampasan ruang hidup itu sendiri. Maka upaya ini praktis sekarang ialah, bagaimana mengembalikan marwah pancasila, menjadi sisi progresif guna mengembalikan cita-cita luhur dari pancasila itu sendiri.

Upaya-upaya ini dapat dilakukan dengan memasifkan edukasi politik sebagai bagian dari transformasi sosial, dengan sosialisasi wacana masif guna mengembalikan prinsip pancasila. Tentu upaya ini merupakan bagian berat, dan perlu konsistensi. Tidak mudah memang mengembalikan prinsip republikanisme itu sendiri, yang sejalan dengan sisi revolusioner pancasila.

Wahyu Eka Setyawan
Alumni Psikologi Universitas Airlangga, sedang mengerjakan media kooperasi Cokletif.com. Bagian dari Walhi Jawa Timur. Nahdliyin kultural.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.