Sabtu, Desember 5, 2020

Merebut Spirit Perdamaian dari Istilah Hijrah

Langkah Ciamik Gus Ipul Menggandeng Via Vallen-Nella Kharisma

Memasuki tahun 2018, sebanyak 171 daerah, yang terdiri dari 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota akan menyelenggarakan Pilkada langsung dan serentak. Pilkada serentak...

Ijtima Ulama Bukan Acuan Politik Kaum Muslim?

Momentum Pilpres 2019 sungguh luar biasa. Hampir seluruh stake holder bangsa ini mencurahkan energinya dalam menyambut pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali....

Akankah Puffery Politik Semakin (Gila) di Bulan Ramadhan?

Bukan seorang politisi namanya jika tidak mempunyai rencana yang sangat baik untuk terus berusaha dalam menciptakan reputasi positif di mata publik. Tak pelak jika...

Menjadi Pendamping Desa Bukanlah Kebanggaan

Teringat ketika mengikuti sebuah lomba yang di ikuti oleh PLD tingkat Jawa Barat, saya pernah melontarkan sebuah pernyataan bahwa "Menjadi seorang pendamping bukanlah sebuah...
Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun

Perkembangan dunia digital dan teknologi`bersamaan dengan tingkat kecepatan popularitas atau trending sebuah pembahasan. Topik tertentu akan dengan mudah dan cepat menjadi pokok pembicaraan warga dunia maya melalui lini masa media sosial. Termasuk di dalamnya topik-topik tentang kegamaan. Salah satu yang sedang “viral” adalah gerakan hijrah.

Akan tetapi istilah hijrah yang sedang “viral” ini memiliki makna baru dalam pemahaman umat Islam saat ini. Hijrah dimaknai sebagai perubahan seorang muslim kepada kehidupan yang dianggap “lebih islami”. Kelompok muslim yang “terjangkit” fenomena hijrah tidak lagi memahami hijrah sebagai sebuah peristiwa historis di era Nabi melainkan sebagai perubahan gaya hidup dengan tampilan busana yang dianggap “lebih islami”.

Sehingga istilah hijrah telah mengalami pergeseran makna dari sebuah peristiwa yang historis menjadi peristiwa sosiologis sekaligus psikologis. Dianggap sebagai fenomena sosiologis, karena orang yang telah berhijrah membentuk identitas dalam sebuah komunitas sosial muslim yang membedakan dengan mereka yang belum berhijrah.

Baik dari cara berpenampilan dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Secara psikologis, ada semacam keyakinan bagi mereka yang telah berhijrah telah berpindah memasuki dunia yang sesuai dengan ajaran agama.

Sedangkan kalau dilihat dalam sejarah Islam, para sarjana muslim memiliki beragam pandangan terhadap peristiwa hijrah. Secara umum, hijrah dipahami sebagai sebuah peristiwa historis yang menandai perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah. Selanjutnya untuk mengkaji dan mengambil hikmah dari peristiwa hijrah, para sejarawan menyajikan perspektif yang menjernihkan dalam memahami maksud hijrah.

Tidak seperti pemaknaan hijrah pada saat ini yang cenderung mempunyai dampak perpecahan yang kuat, hijrah menurut sejarawan semacam Albert Hourani (Sejarah Bangsa-bangsa Muslim, 1991; 65) lahir dari sebuah upaya menyelesaikan konflik.

Dalam catatan sejarah, ada sekelompok orang dari Yatsrib yang datang untuk bertemu Muhammad di Makkah. Mereka dari dua kabilah besar yang sedang mengalami konflik kesukuan dan membutuhkan seorang mediator.

Dari sinilah langkah awal menuju perdamaian dimulai. Kondisi umat Islam yang semakin terdesak oleh kafir Quraisy di Mekkah beririsan dengan sebuah perjalanan mulia untuk berpindah sekaligus mewujudkan sebuah perdamaian.

Yatsrib merupakan wilayah dengan komposisi suku yang beragam dan konflik berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj (Yusliani Noor, Sejarah Timur Tengah (Asia Barat Daya), 2014; 58). Sehingga kedatangan Nabi ke Yatsrib (hijrah) cenderung merupakan permintaan dari 72 orang Yatsrib yang datang ke Mekkah, bukan pelarian dari kelaliman kafir Quraisy.

Kehidupan di Yatsrib telah kehilangan rasa damai. Para penduduk yang mewakili rakyat Yatsrib berduyung-duyung datang ke Mekkah menemui Nabi Muhammad. Melalui haji, mereka berbaiat setia menjadi muslim kepada Muhammad untuk saling menjaga dan tidak menebar permusuhan. Kemudian satu demi satu keluarga muslim pindah menuju Yatsrib pada tahun 622 M.

Hijrah menandai era baru dalam perjuangan Nabi Muhammad. Menurut Karen Armstrong dalam Islam: A Short History, Hijrah merupakan satu langkah revolusioner yang dipilih Nabi. Menurutnya, hal ini dikarenakan tradisi Arab pra-Islam yang menjunjung tinggi kesukuan, yang juga menjadi penyebab konflik dua suku besar di Yatsrib, menjadi sirna dengan ikatan yang disepakati tanpa adanya pemaksaan memeluk sebuah keyakinan tertentu.

Para sejarawan merekam dengan baik bahwa seorang Muhammad beserta kelompoknya (muhajirin) telah berhasil merumuskan sebuah kesepakatan yang berisi perjanjian untuk saling menjaga dan tidak menyerang antara umat Islam, kaum pagan dan Yahudi. Kisah hijrah pada dasarnya adalah inspirasi dalam menjaga perdamaian masyarakat dunia yang beragam ini. Yatsrib yang sebelum peristiwa hijrah adalah kota yang penuh konflik kesukuan berubah menjadi Madinah sebagai simbol kota yang berkeadaban.

Pemaknaan peristiwa hijrah secara historis penting dipahami oleh generasi umat Islam. Sehingga kekeliruan secara terminologis dalam memahami hijrah menemukan pemahaman yang memadai. Tingkat literasi umat Islam menyebabkan kegagalan memahami istilah secara jernih.

Kondisi keberagamaan yang merosot dengan didukung tingkat literasi yang minim membuat umat Islam terlihat gagap dan terbawa arus gerakan hijrah. Apalagi hanya karena merasa sudah berhijrah, kadang seseorang bisa sampai saling menyalahkan dan bermusuhan hanya karena model jilbab yang berbeda misalnya.

Mereka yang belum berhijrah dianggap belum menjadi muslim yang taat pada ajaran Islam. Meskipun yang dimaksud hijrah tersebut hanya sebuah perubahan yang semula tidak berjilbab menjadi berjilbab misalnya. Bahkan terkadang perbedaan atribut atau tampilan seseorang dengan mudah dapat menyebabkan seseorang menganggap salah kepada yang lain.

Disini lah letak awal persoalannya. Istilah hijrah telah menjauhi spirit kesejarahannya. Sikap menyalahkan yang lain pada puncaknya dapat menyebabkan permusuhan di antara sesama umat Islam. meskipun tidak semuanya akan mengarah pada konflik sesama, tapi ada potensi yang harus dicegah.

Hari ini, istilah hijrah dimaknai secara ahistoris. Hijrah dipersempit maknanya hanya sebagai perubahan simbolik penampilan lahiriyah. Semestinya, jika kita hendak menggalakkan gerakan hijrah, bukankah semestinya kita memetik hikmah dari sejarah peristiwa hijrah yang bermula untuk membangun jalan perdamaian. Maka, jika kita mengaku telah berhijrah, sudahkah kita menggalakkan perdamaian dalam bingkai keberagaman?

Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.