in

Merawat Toleransi Dengan “Kutang”


Di suatu hari yang terik, saya berkunjung ke rumah salah seorang teman untuk mendiskusikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan konteks keindonesiaan. Sampai di tempat, ternyata teman saya sedang di luar.

Akhirnya, sambil menunggu ia datang, saya terilhami untuk merayapkan kaki menuju halaman atas rumah teman saya itu. Astaghfirullah. Baru saja tengok mata ke arah kanan, saya sudah dikejutkan dengan tirai siluman berwarna merah dengan dua bulatan indah nan menawan.

Ternyata itulah makhluk yang selama ini disebut kutang. Ya, kutang. Sejenak saya tatap tirai kutang itu dengan penuh kekhusyu’an. Sambil menatap saya mulai berpikir. Apakah dari kutang ini saya bisa membuat sebuah tulisan?

Saya terus memeras kepala, sambil mewaspadai bayangan isi kutang tersebut menggelayut di kepala secara bersamaan.
Dan ternyata,,, Aha!

Ternyata bisa!

Dari seekor kutang itu muncullah sebuah ide yang saat ini akan saya jadikan sebagai bahan tulisan. Tak disangka, dari seekor kutang saya bisa menemukan rumusan toleransi yang dalam konteks keindonesiaan saya kira masih sangat kita butuhkan.

Ya, melalui tulisan ini, saya akan merumuskan tips-tips untuk membangun toleransi melalui enam huruf yang merangkai kata kutang. K. U. T. A. N. G. Kutang!

Sekarang kita akan mulai dari huruf pertama dulu; huruf K, setelah itu kita susul dengan huruf-huruf yang lain.

Pertama, K. Kenalilah Agama atau mazhab yang berseberangan dengan Anda secara utuh, baik dan benar. Ya, kunci utama dalam membangun toleransi ialah adanya pengenalan. Bukan saja pengenalan terhadap keyakinan orang yang berlainan Agama, tapi juga pengenalan terhadap ajaran dan nilai-nilai yang termuat dalam Agama kita.

Orang yang mudah mengafir-sesatkan itu pada umumnya adalah orang-orang yang tidak mampu mengenal dan tidak memiliki pemahaman yang benar, baik menyangkut ajaran agamanya, apalagi agama orang yang bersebrangan dengan dia.

Lihatlah orang-orang berkeilmuan tinggi seperti Habib Luthfi, Gus Dur, pak Quraish Shihab, pak Nasaruddin Umar, dan ulama-ulama moderat lainnya. Pernahkah Anda melihat mereka teriak-teriak di jalan sambil mengibarkan spanduk “tolak pemimpin kafir”, misalnya? Semua orang pasti akan menggelengkan kepala.

Begitulah. Semakin luas wawasan seseorang semakin sulit dia untuk mengafirkan. Karena itu, dalam upaya merawat toleransi kita memerlukan adanya pengenalan dan pemahaman, baik terhadap agama sendiri maupun terhadap agama orang lain.

Orang-orang yang menuduh Islam sebagai Agama kebencian pasti adalah orang non-muslim yang tidak mengenal Islam. Sebagaimana orang Islam yang suka merendahkan orang-orang non-muslim juga pasti tidak mengenal dan memahami ajaran Islam.

Kedua, U. Utarakanlah nilai-nilai persahabatan kepada orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Perbedaan keyakinan tak mesti melemahkan semangat persaudaraan. Perbedaan keyakinan mestinya mendorong kita untuk saling mengenal dan saling memperkaya wawasan.


Orang Islam harusnya memahami Agama Kristen dengan benar. Sebagaimana orang Kristen juga perlu memahami Islam dengan pemahaman yang tidak salah. Demi apa? Demi menghindari terjadinya kecurigaan dan kesalah-pahaman.

Rapuhnya semangat persaudaraan kadang bermula dari kecurigaan dan kesalah-pahaman itu. Jika masing-masing Agama mampu memahami satu sama lain, niscaya sengketa dan permusuhan itu tak akan pernah kita saksikan.

Ketiga, T. Tolak segala macam bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Orang yang kita pandang menyimpang atau sesat tak seharusnya kita sikapi dengan keras sambil meluapkan kemarahan. Sebab, dengan luapan amarah dan kekerasan, kadang orang yang kita pandang sesat itu hanya akan semakin sesat bahkan cenderung memandang kesesatan yang diyakininya itu sebagai sebuah kebenaran.

Lalu apa solusinya? Solusi terbaik adalah dialog. Dialog adalah sebuah keniscayaan demi menghindari terjadinya kekerasan tersebut. Islam tak mengajarkan kekerasan kecuali kepada orang atau kelompok yang memang mengumandangkan permusuhan dan membuat keonaran.

Sejauh cara yang lembut-ramah bisa ditempuh, maka cara itulah yang kita jadikan pilihan, bukan kekerasan. Karena kekerasan hanya akan membuat seseorang semakin jauh dari kebenaran. Tapi kelembutan dan keramahan akan lebih mudah membuat seseorang sadar dan kembali pada jalan yang benar.

Keempat, A. Anggaplah orang yang berbeda keyakinan dengan Anda sebagai saudara kandung. Saya teringat dengan Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyeb, yang pernah mengilustrasikan Islam dan Kristen sebagai kakak-beradik. “al-Islam syaqiq li al-Masihiyyah” (Islam itu adalah saudara kandung Kristen). Kata beliau. Indah sekali, kan?

Memang faktanya kita ini bersaudara. Nabi Muhammad Saw sendiri yang pernah bersabda: Ana aula al-Nas bi ‘isa ibn maryam fi al-Dunya wa al-Akhirah (aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia dan di akhirat). Jika Nabi Muhammad Saw sendiri bersaudara dengan Isa, mengapa kita harus bermusuhan dan saling menebar kebencian kepada sesama umat manusia?

Baik dengan pengikut Isa, ataupun dengan para pemeluk Agama lainnya, kita semua adalah saudara kandung yang disatukan dalam ikatan kemanusiaan. Semua manusia berasal dari Adam. Dan Adam berasal dari tanah. Yang membedakan kita di hadapan Tuhan hanyalah keimanan, ketakwaan dan amal kebajikan.

Kelima, N. Nafikan segala jenis kecurigaan terhadap umat Agama lain. Jika Anda suatu waktu melihat orang Islam yang menyatakan kebencian dan permusuhan, seperti membakar rumah ibadah, misalnya, atau melarang perayaan natal, atau membunuh, memenggal, membantai, dan sebagainya, yakinlah bahwa itu bukan bagian dari ajaran Islam.

Sama halnya ketika ada orang Kristen yang menistakan ajaran Islam, menghina Nabi Muhammad Saw, menistakan al-Quran, dan sebagainya, kita juga harus yakin bahwa ajaran Kristen tidak mengajarkan hal demikian.

Semua Agama itu pada dasarnya baik dan mengajarkan kebaikan. Hanya saja, karena yang menerjemahkan agama itu adalah manusia yang diliputi keterbatasan, maka tidak aneh kalau wajah Agama yang tampil ke permukaan itu terasa kontras dengan apa yang diajarkan.

Keenam, G. Gelorakanlah nilai-nilai Pancasila dan keindonesiaan. Sadarilah bahwa kita ini bukan orang Islam yang hidup di Indonesia, tapi orang Indonesia yang beragama Islam. Islam dan keindonesiaan tidak bertentangan. Islam dan Pancasila juga tak perlu diperdebatkan.

Tuhan mentakdirkan Indonesia sebagai negeri yang beragam. Maka, sebagai rasa tanda syukur kita terhadap Tuhan, mestinya kita menjaga keragaman tersebut dengan adanya rasa saling menghargai serta bekerjasama dalam hal kebaikan sekalipun kita semua tersekat oleh perbedaan keyakinan.

Akhirnya, saya tak menyangka, ternyata seekor kutang yang dulu saya lihat itu bisa dijadikan bahan tulisan. Saya benar-benar nggak percaya ini bisa dapat inspirasi dari kutang.

Tapi ya sudahlah. Semoga rumusan kutang yang saya uraiakan di atas dapat bermanfaat bagi keberlangsungan toleransi di negeri kita.

Sekarang mari kita ajak seluruh elemen masyarakat untuk mengibarkan kutang di seluruh pelosok-pelosok Indonesia. Mari kita rawat toleransi di Indonesia dengan kutang.
Mari kita ganti kutang yang lama dengan kutang yang baru (tapi isinya jangan ya). Karena dengan kutanglah Indonesia bisa damai-sentosa, dan dengan kutanglah negeri kita akan menjadi kiblat toleransi dunia. Semoga.

Kairo, Saqar Quraish, 16 Juli 2017


Written by Muhammad Nuruddin

Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian-kajian Sufisme dan Keislaman. Wa +201018414360

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR