Minggu, Maret 7, 2021

Lelaki, Rawatlah Birahimu, Selamatkan Masa Depan Kami!

Bung Karno dan Kertanagara

Jika Bung Karno berumur panjang, tahun ini beliau berumur 118 tahun, suatu usia yang masih bisa dicapai manusia Indonesia yang sehat sebagaimana banyak diberitakan...

Mudik, Arus Balik, dan Kelangkaan Air

Sewaktu sebagian besar masyarakat kota berbondong-bondong pulang memasuki desa-desa untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1440 Hijriyah dengan sanak saudara dan handai taulan di...

Awkarin dan ‘Penyakit’ Media Sosial

Karin Novilda, selebgram cum youtuber paling laris di Indonesia kembali menjadi pemberitaan. Selepas kematian mantan pacarnya, Oka Mahendra, yang disebut-sebut mengalami depresi, Awkarin –...

HAM untuk Perlindungan ABK

Peristiwa atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di di kapal besar penangkap ikan milik China...
Tasya Fiane
Seorang pembelajar abadi.

Menjadi seorang perempuan di masa ini cukup membuat kami was-was melihat begitu banyaknya tindak asusila yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Apalagi hidup di negeri ini, perempuan dengan mudah menjadi mangsa para penjahat asusila karena kami dianggap makhluk lemah yang cenderung diam ketika mengalami hal tersebut.

Sebab, bagi kami, itu adalah aib yang tidak perlu disebarluaskan. Karena bagaimana pun, meski kami berusaha untuk bicara dan membela diri, tak jarang hujatan masih datang. Entah itu karena faktor yang berasal dari diri kami seperti pakaian, persoalan tubuh, dan yang lainnya. Namun bagaimana dengan pelaku tindak asusila tadi? Bukankah sudah jelas ada sesuatu yang salah pada diri mereka?

Kejahatan kesusilaan (moral offences) tidak memandang siapa korbannya, dan siapa pelakunya, semuanya rata mulai dari strata sosial terendah sampai tertinggi, pasti ada saja kasusnya. Beragam pula motif serta tindakan yang sensitif meliputi pelecehan seksual (sexual harassment) sampai dengan kekerasan sexual (sexual violence). Dari yang bagian tubuhnya dipegang secara sengaja, sampai kasus-kasus berat yang melanggar hak hidup orang lain seperti pemerkosaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Mengerikan bukan?

Kami sebagai perempuan, tidak bisakah memiliki kehidupan yang aman? Perempuan bukanlah objek dari kebiadaban individual yang dapat berdampak seumur hidup bagi kami. Dari sekian kasus asusila yang terjadi, hampir semuanya dipandang dengan bias patriarkis, yakni menempatkan perempuan sebagai pemicu terjadinya tindak pelecehan ataupun kekerasan seksual.

Bagaimana dengan perempuan-perempuan berhijab yang sudah menutup auratnya dengan kain-kain yang tidak membentuk kontur tubuh namun masih saja menjadi korban? Hal seperti ini saya yakin banyak terjadi meski tidak selalu terliput media. Karena apa? Ya, karena kami diam. Menjaga martabat yang belum tentu orang lain setuju dengan keluh-kesah kami.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret tahun lalu  menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan pernah mengalami tindak pelecehan dan kekerasan seksual. Kepala BPS, Suhariyanto, pun menambahkan bahwa survei ini tidak mudah sebab kebanyakan responden tidak akan dengan mudah mengungkapkan permasalahannya.

Sampai Maret 2017 pula, laporan kekerasan pada perempuan mencapai angka 348 ribu kasus, meningkat sekitar 74 persen dari tahun 2016. Hal ini menyiratkan bahwa korban sudah mulai berani untuk bicara, meski kasus-kasus yang belum terungkap masih menjadi PR untuk kita semua.

The Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) melansir dalam jurnalnya mengenai apa yang disebut dengan Sexual Harassment, yakni “Unwelcome sexual advances, requests for sexual favors, and other verbal or physical conduct of a sexual nature…”. Singkatnya dalam jurnal tersebut merepresentasikan perilaku apa saja yang dapat termasuk kategori pelecehan seksual.

Mulai dari pelecehan secara verbal meliputi cat-calling, membuat komentar tentang tubuh seseorang, sampai dengan membuat rumor tentang kehidupan seksual orang lain. Pelecehan secara non-verbal berupa tatapan mata yang menyiratkan keinginan seksual sampai dengan gesture. Hingga pelecehan yang bersifat fisik yakni tindak seksual yang tidak diinginkan seperti dengan sengaja menyentuh bagian-bagian privasi orang lain, dan sebagainya.

Baru-baru ini yang sedang hangat adalah aksi kekerasan yang dilakukan oleh kekasih seorang mahasiswi di Surabaya dalam sebuah kamar hotel. Bukan hanya itu, pelaku melancarkan nafsu bejatnya dengan mengambil kesempatan memperkosa mahasiswi tersebut yang sudah dalam kondisi lemas.

Serta oknum guru sekolah dasar di Semarang yang dilaporkan menjalankan tindak pelecehan seksual terhadap murid-muridnya. Melalui pengakuan orang tua korban, sang guru memanggil beberapa siswa ke dalam ruang kelas yang terkunci kemudian meminta anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa ini untuk membuka seragam mereka, yang selanjutnya ia menyentuh dan meraba-raba bagian tubuh tertentu mereka. Apa yang sedang meracuni moral negeri ini?

Perempuan harus lebih sadar akan kenyataan bahwa segala kemungkinan masih mengancam. Jangan lagi ada kasus gagang cangkul seperti Enno, cukuplah berakhir sampai disana. Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kehidupan yang layak, mendapatkan edukasi yang setara sampai dengan membangun keluarga kecil kami sendiri nantinya.

Sadarlah, wahai kawan perempuanku! Bahwa kalian begitu berharga. Dari perempuan lah lahir generasi-generasi baru yang akan membawa bangsa ini menuju cita-citanya sesuai yang tercantum di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Maka, tolong jaga diri kalian sendiri. Lindungi tubuh kalian, jaga nama baik kedua orang tua yang tanpa pamrih membesarkan kalian sedari kecil, beranilah untuk bicara untuk menentang penindasan terhadap kaum mu.

Biarkan Yuyun beristirahat dengan tenang, dengan tak ada lagi kasus pemerkosaan dibawah umur yang berakhir dengan pembunuhan keji! Tolong, jangan rampas hak-hak kami.

Lelaki, rawatlah birahimu. Tahan dan kondisikan nafsumu. Sebab sedikit saja kalian lepas kendali, sebuah masa depan dapat hancur karenanya. Coba pikirkan lagi, ketika ego sudah terlanjur menguasai, ada harapan yang kalian rampas disana.

Kepada pemerintah, memang isu-isu seperti ini masih sensitif di kalangan masyarakat awam, namun apa salahnya untuk mengkokohkan tindak preventif kejahatan asusila dengan mulai mengadvokasi semua kalangan mengenai pemahaman atas pelecehan dan kekerasan seksual.

Keterlibatan lelaki dalam forum-forum tindak kejahatan asusila sangat dibutuhkan untuk meningkatkan public awareness, supaya kami bersama-sama dapat lebih menjaga satu sama lain.

Tasya Fiane
Seorang pembelajar abadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.