Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Merawat Bhinneka Pasca Pemilu

Kami Santri Nusantara

Santri adalah identitas manusia yang selalu berkerabat dengan ilmu, pengetahuan, dan akhlak. Santi juga merupakan salah satu senjata dari awal beridirinya Indonesia. Sudah begitu banyak...

Ihwal Jokowi dan Perjuangan Guru Honorer

Perjuangan untuk memperoleh keadilan memang tak boleh pernah surut. Perjuangan itulah yang dilakukan ribuan guru berunjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta belum lama...

Sumitro Djojohadikusumo dan Petaka Modernisasi Indonesia

Keberhasilan Soeharto dalam menumbangkan dominasi kekuasaan Soekarno pada tahun 1967 memiliki konsekuensi logis yang harus diterimanya. Perpindahan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru...

Peran Tarekat untuk Mengatasi Ekstremisme-Terorisme

Problem mendasar dari kelompok irhabis (teroris) adalah pahatan ideologi yang menggerakkan sel-sel tubuh mereka ke dalam lapangan terorisme. Itulah mengapa pendekatan lunak (soft-approach) lewat deradikalisasi ideologi...

Dinamika pasca pemilu masih begitu terasa menjengkelkan dan panas antara kedua kubu dan para pendukungnya, sebelum pemilu bergulir pada masa kampanye pun begitu sengit dan saling lempar topik untuk mencapai sebuah kemenangan personal mereka.

Namun, sangat diherankan dan dikhawatirkan mengapa bangsa Indonesia cenderung bahagia merawat kegelisahan sehingga kegelisahan tersebut menjadi terstruktur dikalangan masyarakat kita dan menjadi buah perbincangan yang terus digelorakan tanpa semangat mencari tahu sumber kebenarannya.

Begitu banyak peristiwa yang tak masuk akal pada saat pilpres ini, semua kalangan mendadak cerdas berbicara mengenai politik dan cenderung mendadak seperti politisi dadakan.

Entah dari kalangan masyarakat bawah, menengah sampai kalangan mapan. Mungkin dapat dimaklumi pada masa-masa demokrasi ini semua masyarakat ada yang ingin perubahan atau ada juga yang menginginkan perbaikan yang sudah dilaksanakan.

Wajar dan lumrah, namun sangat disayangkan kebhinekaan sedikit bergeser pada masa-masa seperti ini, gotong royong cenderung loyo, saling berdebat yang tak berkesudahan entah di grup gawai media ataupun secara langsung  yang menyebabkan mengikisnya persaudaran cenderung dapat menimbulkan konflik.

Secara geografi politik Indonesia sebetulnya Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan republik Indonesia yang suku bangsanya mengalami nasib yang sama dalam sepanjang hidupnya.

Dalam geografi budaya bahwasannya negara Indonesia telah memiliki spirit persatuan sebelum negara Indonesia ini ada secara yuridis, bangsa ini telah dibangun sebelum negara ini ada melalui spirit-spirit kebersamaan, persatuan dan kesatuan.

Haedar Nashir mengatakan dalam sebuah pidatonya menyimpulkan perkataan tokoh bangsa yaitu Bung Hatta, Bung Hatta mengatakan bangsa ini akan tetap ada jika kolektifitas masih dijadikan nafas pergerakan, dan Bung Karno mengatakan bangsa ini akan tetap ada jika masyarakatnya masih menanamkan nilai-nilai gotong royong.

Maka dari itu, persatuan harus dijadikan sebagai spirit dan kesatuan bangsa ini harus dijadikan ruh dalam setiap diri bangsa ini untuk merawat sebuah kebhinekaan yang telah ada. Ketika kesatuan dijadikan ruh maka kebhinekaan kita akan utuh. Sangat disayangkan jika proses demokrasi kita cenderung tidak dewasa karena di dalam demokrasi dan pemilu ini, negara kita sudah memiliki hukum-hukum dan prinsip-prinsipnya.

Demokrasi dalam Kebinekaan

Perdebatan harus menemukan kata kembali saat masa-masa pemilu seperti ini, kembali kepada persatuan, kembali kepada kebhinekaan dan kembali pada citra kita sebagai masyarakat Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kebersamaan tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama.

Walaupun berbeda pilihan karena sejatinya kita telah berbeda dengan segala hal, maka dar itu kita berbeda tapi tetap satu.  Didalam buku Fikh Kebhinekaan menyatakan Indonesia saat ini masih kokoh berdiri sebagai negara yang didasarkan pada pancasila dengan semboyan, Bhineka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda tetapi tetap satu”.

Indonesia adalah negara yang bukan negara agama, tidak pula mengklaim sebagai negara sekuler. Sebagai negara paling plural di dunia, Indonesia kerap dihadapkan pada persoalan-persoalan dasar yang menyangkut hak-hak warganya.

Di dalam demokrasi kebhinekaan menegaskan bahwasannya negara kita cenderung mudah konflik komunal jika kita sebagai masyarakat tidak merawat kebhinekaan.

Dan pemerintah harus membangun public trust. Agar pemerintah dapat dipercaya, pemerintah harus mampu menumbuhkan rasa percaya pada dirinya  sendiri, sehingga tumbuh pula, kepercayaan dari masyarakat luas untuk membangun kebhinekaan sehingga pemerintah dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Merawat Kebhinekaan pasca pemilu

Kita mesti kembali menghangatkan suhu-suhu pemilu ini dengan segala kegembiraan yang tidak menimbulkkan konflik persaudaran melainkan kita harus merawat kebhinekaan dengan penuh kehangatan persaudaran.

Pemilu sudah selesai kita memiliki lembaga KPU lembaga yang berangkat dari kepercayaan rakyat jikapun di duga ada kecurangan-kecurangan laporkanlah melalui jalur hukum yang ada melalui BAWASLU.

Bangsa ini harus lebih dewasa dalam menyikapi dan mengawal hasil dari pemilu ini, ketimbang harus mengedepankan caci maki dalam mengawal pemilu ini kita cenderung hanya menjadi tameng orang-orang yang memiliki kepentingan praktisnya. Kita sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.

Buya Syafii Maarif mengatakan Kebhinekaan hanya bisa bertahan lama manakala kita semua mengembangkan kultur toleransi yang sejati, bukan toleransi karena terpaksa atau toleransi yang dibungkus dalam kepurpuraan.

Kesejatian merupakan salah satu puncak tertinggi dari capaian manusia beradab. Dalam hal ini kita kedepan tergantung kepada pilihan bangsa ini : mau bertahan sebagai bangsa yang beradab, dan itulah pilihan yang benar dan tepat, atau mau hancur-hancuran sebagai biadab yang anti-toleransi.

Dalam era yang serba digital ini, dalam masa-masa sesudah pemilu ini kita harus cepat mengambil keputusan untuk semakin memantapkan Bhineka tunggal ika. Filsuf Lao Tzu pendiri taoisme, dengan bijak menyimpulkan : “Seribu mil anda hendak berjalan, hal pertama yang harus dilakukan adalah langkah awal” dari sisi filosofis kenegaraan.

Indonesia merdeka telah membuat langkah awal yang tepat dan baik, tetapi tidak dirawat dengan sungguh-sungguh. Founding Father  telah menanam mari kita menyirami dengan nurani dan merawatnya dengan hati sehingga bangsa dan negara ini besar secara utuh.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.