OUR NETWORK

Merajut Asa Demi Kerukunan Bangsa

Keberagaman yang paling menonjol di tubuh Indonesia adalah pada sisi umat beragama.

Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan sebuah negara yang dipenuhi dengan berbagai macam keberagaman suku, ras, agama, serta budaya yang terhamparkan dari Sabang sampai Merauke.

Sehingga menjadi suatu hal yang lumrah ketika dari satu kota ke kota yang lain didalamnya memiliki komunikasi dan gaya hidup yang berbeda dalam kesehariannya. Perbedaan yang melekat pada tubuh bumi pertiwi itulah yang menjadi ciri khas Indonesia untuk memperkuat ideologi Pancasila dalam mempersatukan keberagaman.

Keberagaman yang paling menonjol di tubuh Indonesia adalah pada sisi umat beragama. Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan jumlah umat Islam terbanyak. Tercatat yang memeluk agama Islam, sekitar 87,2% atau 207,2 juta orang; yang memeluk agama Katolik 2,9% atau 6,9 juta orang; pemeluk agama Protestan, 6,9% atau 16,5 juta orang; pemeluk agama Hindu, 1,7% atau 1,7 juta orang; pemeluk agama Buddha atau Kong Hu Cu, sekitar 0.05% setara dengan 0,1 juta orang.

Sekalipun demikian NKRI dinyatakan bukan Negara Agama, tapi Negara Pancasila yang memberikan pelayanan maksimal untuk semua pemeluk agama dalam melaksanakan ajaran agamanya.

Ajaran agama-agama yang dianut oleh penduduk Indonesia –menurut kitab suci masing-masing agama- menuntun penganutnya untuk menegakkan kedamaian dan kerukunan, bagi kehidupan umat manusia bahkan interaksinya dengan alam.

Islam misalnya, memberikan penekanan khusus mengenai ajaran keselamatan, sementara Kristen dan Katolik mengajarkan ajaran Kasih atas sesama. Sehingga sudah sepatutnya, jalan yang dipilih oleh umat beragama adalah jalan yang menuntun mereka pada terciptanya kedamaian serta kebaikan yang diajarkan oleh kitab suci nya masing-masing.

Sayangnya, rasa persaudaraan dalam perbedaan yang dirajut sudah mulai terkikis oleh gesekan anti klimaks dari para pembelot negeri. Mereka yang membelot peradaban keberagamaan itu mengaku diri sebagai makhluk yang paling suci dan paling agamais hingga mengkafirkan diluar dari mereka lewat jalan kekerasan.

Pembahasan pun mulai terkhususkan pada golongan yang disebut Teroris, orang yang mengaku diri sedang berjuang di jalan Allah dengan memberantas non muslim lewat penafsiran mereka sendiri.

Tentu ini adalah hal yang menyimpang, sekaligus mencoreng nama agama Islam, yang telah lama dikenal sebagai keselamatan sekaligus perlindungan seluruh umat manusia seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ketika menjabat sebagai kepala negara dan agama di Kota Madinah.

Bukan hanya antar agama, bahkan mereka yang tinggal dalam satu kabupaten/kota pun masih sering terlibat konflik satu sama lain. Awal mula terjadinya konflik itu pun beragam, mulai dari kecembeuruan sosial hingga pembalasan dendam antar kelompok.

Salah satu contoh dari rentetan konflik berdarah di Indonesia yang cukup menghebohkan publik sekaligus menyayat hati bangsa, yakni tragedi di desa Balinuraga tepatnya di Kabupaten Lampung Selatan. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 hingga 29 oktober 2012, yang mengakibatkan beberapa rumah terbakar dan 14 orang meninggal dunia atas aksi kebobrokan norma tersebut.

Peristiwa  di Lampung selatan antara desa Agom dan desa Balinuraga merupakan konflik yang mengangkat isu primordial seperti etnis, agama, kekerabatan, sebagai penyebab konflik. Salah satu kesaksian datang dari seorang dosen UGM, Prof. Mochtar Mas’oed menyatakan bahwa konflik yang terjadi di Lampung Selatan (desa Agom dan desa Balinuraga) adalah bagian yang tak terpisahkan dari konflik sebelumnya. Akar persoalannya adalah perseteruan antar dua kelompok etnis.

Desa Balinuraga sendiri dihuni oleh para transmigran dari Bali yang kemudian memunculkan beberapa persoalan, salah satunya adalah kecemburuan sosial ekonomi yang dirasa oleh warga desa Agom mendiskriminasikan mereka. (ugm.ac.id diposting oleh Humas UGM/Satria AN).

Pemaknaan tentang khagom mufakat yang menjadi motto Kabupaten Lampung Selatan seharusnya dapat lebih digalakkan sehingga berbagai macam persoalan dikemudian hari dapat terselesaikan dengan damai tanpa ada nyawa yang menjadi korbannya. Setidaknya ini menjadi salah satu pembelajaran bagi pemerintah pusat agar kiranya lebih mengedepankan aspek pendidikan, perekonomian, serta kerukunan antar warganya untuk membangun nilai harmonisasi dalam bermasyarakat.

Nilai-nilai perdamaian di dalam agama juga dapat menjadi salah satu bagian dalam resolusi sebuah konflik. Malik Bennabi, seorang sosiolog asal Aljazair berpendapat, “bahwa agama merupakan katalisator peradaban dan dengan memberikan prioritas terhadap persamaan ide dalam aspek-aspek dan nilai-nilai universal manusia yang didukung oleh semua ajaran agama”.

Maka dari itu perlu agar kiranya masyarakat Indonesia lebih sering membuka ruang musyawarah dan kerja sama dalam berbagai kegiatan sosial untuk meminimalisir terjadinya suatu perpecahan yang tidak diinginkan.

Penggalakan akan perbedaan sebagai Sunnatullah harus di bulid-up dengan lewat pendidikan berbasis toleransi antar sesama. karena Sikap eksklusivis, intoleran dan penafsiran pribadi tanpa belajar dari ahlinya, merupakan faktor-faktor yang dapat mengembangbiakkan populasi gerakan ekstrimisme di Indonesia sehingga harus diantisipasi.

Kesadaran akan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang harus disepakati oleh genarasi saat ini, bahwasanya NKRI diperjuangankan oleh seluruh rakyat yang berbeda agama, suku, ras dan golongan dalam mengapus penjajahan di tanah air.

Pengadaan forum dialog lintas kerukunan umat beragama juga harus  dilaksanakan agar pintu peradaban Bhinneka Tunggal Ika terus terbuka lebar dan ikatan persaudaraan tetap kuat tak pernah kendor.

Dinukil dari sebuah konflik di desa Balinuraga, Lampung Selatan

"Kesungguhan dan kepercayaan diri akan menghasilkan sesuatu yang bernilai" blog writer ndragon11.wordpress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…