Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Menyoal Pin Emas

Bangsa yang Terbelenggu Stigma Sosial

Banyak rakyat yang merasa kecewa terhadap sistem yang berjalan di Indonesia ini. Sistem yang mengatur berbagai sektor, menyimpang dari orientasi awal Republik Indonesia. Salah...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Karakter Anak dan Permainan Tradisional

Dalam menjelang libur panjang akhir tahun, sangat banyak kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan oleh anak-anak. Ada berbagai macam permainan yang dapat meningkatkan kreativitas, salah...

Tuti dan Keroposnya Humanisme Arab Saudi

Tuti Tursilawati, menjadi korban hukuman mati TKI ketiga tahun ini di Arab Saudi. Sebelum Tuti, seorang TKI asal madura Zaini Musrin pun dihukum mati...
Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang

Menduduki posisi penting dalam tatanan negara sejatinya memiliki 2 (dua) sisi. Di satu sisi, seseorang yang mendapat amanah akan memiliki kesempatan untuk lebih banyak berkontribusi pada kemajuan negara. Pada saat yang sama, segala perangai yang ia lakukan akan disorot oleh masyarakat.

Begitu kira-kira yang dirasakan anggota DPR terpilih periode 2019-2024. Pengadaan pin emas senilai Rp 5,5 Milyar menjadi sorotan publik karena dinilai pemborosan. Pro-kontra tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat, sejumlah anggota DPR terpilih pun ikut menyuarakan aspirasinya. Ada yang menolak, tapi tak sedikit yang menerima. Bola panas soal pin emas ini bermula dari wacana pengadaan pin emas bagi 106 anggota DPRD DKI periode 2019-2024 yang dinilai berlebihan.

Sejatinya, pengadaan pin emas sudah menjadi rutinitas di Sekjen DPR setiap pergantian periode. Mekanismenya pun sama seperti pengadaan barang dan jasa pada instansi pemerintah lainnya, yakni melalui lelang.

Ada pun anggaran Rp 5,5 Milyar adalah pagu, yaitu jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mengadakan suatu barang dan/atau jasa. Namun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) nantinya bisa berbeda, dan dipastikan sama atau kurang dari pagu yang dianggarkan.

Katakanlah harga akhir pada kontrak lelang sebesar Rp 5 Milyar, artinya setiap anggota dewan memperoleh “jatah” sekitar 8,9 sampai 9,1 juta rupiah saja. Jumlah yang biasa saja, tidak terlalu berlebihan karena dianggarkan sekali dalam 1 (satu) periode. Meskipun anggota DPR nantinya mendapat fasilitas lain, namun apa yang mereka dapat sejatinya sudah diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Tentu, fasilitas-fasilitas yang didapatkan pejabat publik termasuk anggota DPR sebetulnya sudah diperhitungkan segala aspek, mulai dari keamanan, kenyamanan, hingga masalah wibawa seorang pejabat publik, dalam hal ini anggota dewan.

Antara penghematan dan popularitas

Seiring bergulirnya bola panas, politikus-politikus mulai menyuarakan aspirasinya. Beberapa kelompok merasa bahwa rutinitas 5 (lima) tahunan ini adalah pemborosan. Sebetulnya, kata “boros” adalah sebuah kata sifat yang memiliki makna relatif. Tergantung dari sudut pandang yang kita ambil. Masyarakat awam selalu mengambil sudut pandang dari segi nilai, jumlah besar adalah boros.

Namun, ada hal yang lebih esensial lagi dari sebuah pin emas. Pin emas adalah identitas, pin emas adalah tanggung jawab. jika setiap anggota dewan menanamkan filosofi pin emas tersebut, seharusnya tidak ada lagi pro dan kontra hanya demi popularitas.

Mestinya, anggaran yang ada dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan tetap memegang prinsip hemat, yakni semakin murah semakin baik. Penghematan dilihat dari bukan seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, namun harus dilihat juga dari segi kebutuhan. Karena dalam prinsip keuangan pemerintah, setiap Rp 1  yang dikeluarkan dari APBN adalah tanggung jawab.

Apa yang dipertontonkan anggota dewan di Senayan kepada publik justru pro-kontra yang tidak produktif. Mereka saling tarik ulur tentang setuju atau tidak. Padahal, publik butuh simpati yang memiliki esensi nyata dari pada sekadar debat kusir untuk meraih simpati publik. Debat kusir seolah sudah mendarah daging di tubuh anggota DPR.

Meski anggota silih berganti setiap periode, kebiasaan semacam ini tidak pernah pudar. Hal tersebut seolah menisbatkan kinerja anggota dewan yang selalu tidak memuaskan bagi masyarakat. Banyak RUU yang gagal diundangkan karena ketidakefektifan kinerja anggota dewan. Pada tahun 2015, DPR hanya berhasil sahkan 17 dari 40 RUU di prolegnas, sedangkan UU yang disahkan pada 2016, 2017, dan 2018 berturut-turut yaitu 19 dari 40, 17 dari 52, dan 4 UU.

Stop bermanuver

Produk yang dinanti masyarakat dari kinerja seorang pejabat publik adalah kebijakan yang berpihak bagi keberlangsungan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada tupoksi DPR, semakin banyak peraturan yang berhasil diundangkan mencerminkan produktifitas dari kinerja anggota dewan.

Selama ini, masyarakat awam lebih sering disuguhi debat kusir dari pada aksi nyata. Sering kita lihat bangku kosong anggota dewan pada saat pembahasan RUU, padahal ia baru saja muncul di layar televisi. Ironi memang, ketika popularitas merupakan tujuan politik dari seorang anggota dewan.

Masyarakat bukan sekadar objek politik, masyarakat adalah subjek politik yang sejatinya membutuhkan produk nyata dari anggota DPR sebagai representasi rakyat. Jangan sampai, 25 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia semakin sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.