Sabtu, Maret 6, 2021

Menyoal Nama Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA)

Cloud Computing dan Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

Beberapa dasawarsa terakhir, teknologi informasi berkembang sedemikian cepat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan tersebut didasari oleh semakin tingginya mobilitas manusia sehingga membutuhkan akses informasi...

Gaya Gebrakan Menteri BUMN

Menggebrak itulah kata yang tepat disematkan kepada Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Sejumlah sikap tegas dan keras diterapkan dengan mengganti deretan petinggi BUMN...

Mempertanyakan Nasib Sastra Kita

Beberapa waktu silam, Sukmawati Soekarnoputri “berhasil” membuat Indonesia ribut. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakannya dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” pada 29...

Memantapkan Niatan Nasional Kita

Niatan nasional kita untuk Indonesia harus kembali diikhtisarkan. Pertama karena kian menguatnya gejala gagap kebangsaan. Ditandai oleh kian merumitnya cara pandang sebagian rakyat atas...
Arif Nurul Imam
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting

Foto : bandara.id

Bandara baru New Yogyakarta International Airport(NYIA) yang akan menggantikan bandara Adi Sutjipto Yogyakarta saat ini dalam proses pembangunan. Bandara yang diperkirakan akan beroperasional pada 2020 ini, terletak di ujung Barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo.

Secara umum, penulis sepakat dengan rencana pembangunan bandara bertaraf internasional tersebut, selain karena bandara Adisucipto sudah cukup padat, namun juga diharapkan bakal memberi dampak ganda terhadap perekonomian DIY, khususnya warga sekitar bandara.

Kering Makna dan Spirit

Namun demikian, ada yang mengganjal dalam benak penulis, yaitu soal pilihan nama yang kurang relevan dan terkesan hanya untuk gagah-gagahan. Hal tersebut karena  nama NYIA tidak mencerminkan identitas dan spirit kearifan lokal provinsi DIY. Pendek kata, nama tersebut tak ada kesan “istimewa” sebagaimana Yogyakarta yang dikenal istimewa.

Pilihan nama dengan bahasa internasional, tepatnya bahasa inggris, hanya mengesankan bahwa bandara baru ini bertaraf internasional yang terletak di Yogyakarta. Namun secara makna dan spirit terasa kering makna dan tak memiliki nilai spirit.

Jika kita menoleh nama bandara di berbagai kota di Indonesia, pilihan nama sebagian besar merupakan nama pahlawan yang berjasa terhadap republik ini atau mencerminkan kekayaan local wisdom. Misal saja, bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, bandara Juanda di Surabaya, bandara Minangkabau International Airport di Padang, dll.

Asmo Kinaryo Jopo

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan populer yang saya kira relevan terkait bagaimana membuat sebuah nama. Sebab dalam tradisi Jawa ada ungkapan “asmo kinaryo jopo” atau nama adalah sebuah doa; kiranya bisa menjadi pengingat para pemangku kepentingan dalam memilih nama bandara yang rencananya berada di hamparan seluas 587 hektar tersebut.

Artinya, membuat sebuah nama tak boleh sembarangan atau sembrono, melainkan mesti dipikir secara masak-masak, sehingga memiliki makna, spirit atau harapan terkait pilihan nama. Tak terkecuali dalam membuat nama bandara yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa ini.

Karena belum diresmikan, hemat saya persoalan pilihan nama ini perlu dipikirkan ulang. Ada banyak alternatif yang bisa ditawarkan, baik dilihat dari sisi kekayaan budaya atau para pejuang yang berasal dari Yogyakarta. Dengan demikian, nama bandara baru tersebut memiliki makna dan spirit yang sebangun dengan konteks masyarakat Yogyakarta.

Setidaknya, ada dua hal yang mesti menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan nama bandara baru tersebut. Pertama, konteks kearifan lokal, kedua konteks spirit atau makna dibalik nama yang dipilih.

Konteks kearifan lokal diperlukan karena Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang kerap dijuluki istimewa lantaran kekayaan budaya. Sedang terkait konteks spirit atau makna diperlukan agar nama tersebut memiliki ghirrah sebagai sumber motivasi dan inspirasi.

Karena itu, paling tidak ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Pertama dengan menggunakan nama yang berakar dari kearifan lokal, bisa bahasanya, atau unsur khas lainnya. Kedua, dengan menggunakan nama-nama pejuang yang berasal dari Yogyakarta sehingga dapat menjadi mata air keteladanan serta sumber inspirasi.

Sekedar contoh, untuk pilihan nama yang berakar dari kearifan lokal, bisa saja dengan menggunakan sesuatu yang khas Yogyakarta. Seperti misalnya, Bandara Internasional Ngayojokarto atau nama lainnya yang senafas dengan budaya lokal.

Untuk pilihan nama pejuang, tidak kurang sosok tokoh yang bisa di gunakan. Misal saja, Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang, Ki Hajar Dewantoro, Ki Bagoes Hadikusumo, Wahidin Sudirohusodo, Sultan Agung dll. Menggunakan nama pahlawan tentu memiliki makna dan spirit sebagai bentuk penghormatan di satu sisi, serta di sisi lain memberi pembelajaran bagi generasi muda untuk meneladani spirit perjuangannya.

Ini hemat penulis, lebih relevan dan mengandung makna serta spirit yang boleh jadi menjadi “penanda” provinsi DIY yang dikenal “istimewa”. Selain itu, juga akan kian menguatkan kearifan lokal sebagai kekayaan yang selama ini menjadi modal sosial yang berharga. Jika masih menggunakan nama NYIA artinya, tak menambah penanda sebagai daerah yang istimewa.

Tentu ini tidak mudah, sebab proyek bandara ini merupakan megaproyek dibawah Kementerian Perhubungan. Meski demikian, usulan perubahan nama belum bisa dikatakan telat, sebelum diresmikan sehingga masih memungkinkan berubah sesuai spirit dan karakter Yogyakarta. Wallohualam.

Arif Nurul Imam
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.