Minggu, Oktober 25, 2020

Menyoal Isu Impor Rektor dan Dosen Asing

Post-Truth dan Kebutuhan Data Desa Presisi

Pembangunan desa memasuki era postmo (postmodern). Era yang ditandai dengan masifnya kemajuan teknologi (era 4.0). Kaum postmo menganggap kemajuan teknologi ini akan mempermudah aksi...

Penyalahgunaan Psikotropika apa penyebabnya?

Indonesia mengalami kondisi gawat darurat Narkoba dan psikotropika, lihat saja semakin banyak nya penyelundupan narkoba dan psikotropika masuk ke negara ini, tapi sebelumnya kenapa...

Memahami Esensi Manusia yang Berpikir

Hidup memang indah, penuh dengan pesona dan alegori cinta yang meneduhkan pikiran dan menyejukkan hati. Sebuah anugerah yang tidak dapat dipungkiri menjadikan kehidupan menjadi...

Stigma Negatif dalam Budaya Patriarki

Diskursus tentang tubuh dan konstruksi gender merupakan sebuah realitas politik yang cukup banyak diperbincangkan. Hal tersebut terjadi karena tubuh dan konstruksi gender amat dekat...
Muh Fahrurozi
Mahasiswa Fakultas Teknik UNM Angkatan 2015 | Saat Ini Sedang Menjabat Sebagai Ketua Umum Lingkar Studi Pemuda Pemerhati Pendidikan Indonesia Sulsel Periode 2019-2022 | Ketua Umum Forum Lingkar Pena Universitas Negeri Makassar Periode 2019-2020 | Staf Divisi IT dan Multimedia di Generasi Anti Narkotika Nasional Wilayah Sulawesi Selatan Periode 2020-2025 | Juga sedang Aktif di Beberapa Komunitas Kerelawanan Pendidikan Pelosok |

Selama tidak mengandung unsur politis, artinya kebijakan yang dikeluarkan memang betul-betul diniatkan untuk meningkatkan kualitas SDM, maka saya sepakat dengan kebijakan impor rektor dan dosen asing. Tentu  yang didatangkan adalah mereka yang memang sudah terbukti dan teruji kualitasnya.

Dalam hal ini, pemerintah memang harus betul-betul menyeleksi secara selektif. Dalam kacamata saya, kebijakan ini aka lebih banyak memberikan dampak positif untuk atmosfir pendidikan tinggi kita.

Dampak postifi dari kebijakan ini nantinya akan membuat para rektor dan dosen-dosen kita yang malas pastinya tidak ingin posisinya diganggu dan diambil. Dari sini, jika mereka masih tetap dengan aktifitasnya yang seperti biasanya, mereka pasti akan dilengserkan; dipecat.

Sehingga rektor dan dosen local mau tidak mau harus terus meningkatkan kualitas penelitiannya. Dikalangan mahasiswa pun juga sama, tentu syarat tugas akhir agar bisa mendapatkan gelar dari perguran tinggi juga akan lebih selektif.

Sudah banyak negara-negara yang mempraktekkan hal ini. Salah satunya Negara Malaysia yang pada sekitar tahun 1960an mengundang pengajar dari Indonesia (Saat itu sedang tinggi-tingginya kualitas SDM yang dimiliki Indonesia).

Negara Jepang juga pernah mengundang pengajar dari beberapa negara setelah sekitar 5 tahun pemboman oleh Amerika. Singapura tercatat juga pernah mendatangkan rektor asing di salah satu perguruan tingginya yang bernama Nanyang Technological Universiy (NTU) yang akhirnya perguruan tinggi itu kini masuk ke dalam 50 besar universitas terbaik dunia.

Dan yang paling fantastic, datang dari Negara Cina, nominalnya saya kutip dari sebuah artikel  online yang saya lupa namanya, bahwa negara ini mendatangkan pakar dan dosen dari seluruh dunia sekitar 1000an setiap tahunnya. Ini sangat luar biasa menurut saya, dan memang hasilnya bisa kita lihat, bagaimana Cina hari ini menguasai teknologi diberbagi bidang.

Sebuah situs yang saya baca semalam, ada sebuah tulisan yang sangat menarik karena semua isi tulisannya tentang kritikan dan ketidaksetujuannya pada kebijakan ini. Tulisannya lumayan panjang, salah satunya dia menyinggung bahwa nantinya Indonesia akan membayar mahal para rektor dan dosen asing. Ini sebuah sikap pemikiran yang sangat anak-anak, kalau kita bicara ilmu ekonomi dan bisnis, semakin besar harga jual, semakin tinggi juga kualitas suatu barang yang akan kita dapatkan.

Selanjutnya dia juga menyinggung, “bagaimana jika mereka yang didatangkan tidak sesuai dengan harapan?”. Dalam hal ini, pemerintah bisa menciptakan standarisasi keberhasilan selama pelasanaan tugas rektor/dosen asing.

Sebelumnya saya sudah singgung di paragraph awal, bahwa untuk meminimalisir kebijakan ini, pemerintah tentu harus menyeleksi secara selektif. Adapun jika memang betul-betul ditemukan ketidaksesuain antara harapan dengan kenyataan selama pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh rektor/dosen asing.

Di sini pemerintah bisa saja menerapkan semacam sebuah kesepakatan bahwa mereka hanya akan diberikan kesempatan selama beberapa periode tertentu sebagai tahap uji coba, dan jika dinilai memenuhi standarisasi keberhasilan, selanjutnya mungkin bisa ditambah masa kontraknya.

Masalah yang paling hangat yang selalu diperbincangkan dan dipermasalahkan adalah persoalan moralitas dan akhlak. Banyak yang khawatir kehadiran rektor/dosen asing akan memperburuk persoalan ini.

Tapi lagi-lagi saya pikir ini bukan sebuah alasan, menurut saya tidak ada hubungannya antara penelitian dengan dampak moralitas dan akhlak. Penelitian tugasnya menjawab masalah dengan menghadirkan solusi. Urusan moralitas itu erat kaitannya dengan kemanusiaan; setiap orang punya dasar moralitas yang sama.

Lagi pula kita bisa meminta kepada tokoh-tokoh agama atau tokoh-tokoh adat sebagai “penilai” jika dirasa kehadiran rektor/dosen asing nantinya akan semakin memperburuk moralitas. Saya rasa mereka yang didatangkan dari luar, pastinya akan menghargai dan tentunya tidak bisa mengganggu hal-hal yang krusial seperti budaya dan agama. Yang perlu dilakukan adalah penanaman nilai-nilai yang seperti itu dilakukan sejak dari kecil dan bangku sekolah.

Muh Fahrurozi
Mahasiswa Fakultas Teknik UNM Angkatan 2015 | Saat Ini Sedang Menjabat Sebagai Ketua Umum Lingkar Studi Pemuda Pemerhati Pendidikan Indonesia Sulsel Periode 2019-2022 | Ketua Umum Forum Lingkar Pena Universitas Negeri Makassar Periode 2019-2020 | Staf Divisi IT dan Multimedia di Generasi Anti Narkotika Nasional Wilayah Sulawesi Selatan Periode 2020-2025 | Juga sedang Aktif di Beberapa Komunitas Kerelawanan Pendidikan Pelosok |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.