Rabu, Januari 20, 2021

Menyoal Gerakan Koperasi Kita

Apa Benar Indonesia Sebaiknya Mencetak Uang?

Beberapa waktu lalu, Badan Anggaran DPR dan sejumlah anggota DPR menyampaikan saran yang menuai perhatian masyarakat. Saran tersebut ditujukan kepada Bank Indonesia (BI), selaku...

Becak Di Ujung Kayuh!

Persoalan legalitas Bentor (becak motor) di Indonesia semakin pelik dan sukar dipecahkan. Di beberapa daerah khususnya di Yogyakarta, keberadaan Bentor kian menjamur. Tidak dapat...

Radikalisasi di Kabupaten Pemekasan

Diskusi perihal radikalisasi masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas, terlebih radikalisasi yang berafiliasi pada agama, terutama Agama Islam. Setidaknya ada beberapa sebab musabab...

Peran Pengamat Politik Sebagai Sarana Pembentuk Opini Publik

Di tengah maraknya berita-berita politik yang kredibilitasnya sangat memprihatinkan, salah satu sumber alternatif lain yang seringkali digunakan oleh masyarakat adalah pengamat politik sebagai tokoh...
Aef Nandi Setiawan
Staff Litbang Koperasi Pemuda Indonesia. Asisten Peneliti di Kopkun Institute. Wasekum bidang Lingkungan Hidup & SDA Badko HMI Jateng-DIY

Salah satu tragedi pada gerakan koperasi hari ini adalah pengerdilan. Oleh negara ia diperlakukan tidak lebih dari badan usaha. Ia bukan sistem perekonomian yang menjadi nafas pembangunan, sebagaimana amanah undang-undang. Oleh masyarakat koperasi dipandang alat produksi kelas dua.

Di lapangan koperasi harus berhadapan langsung dengan korporasi. Dalam pertarungan dua alat produksi beda ideologi ini, koperasi selalu kalah. Alasannya sederhana, karena ekosistem dunia hari ini tidak berpihak pada koperasi tapi korporasi. Pendek kata, gerakan koperasi kalah banyak.

Ditengah kondisi seperti ini, aktivis gerakan koperasi, terutama generasi mudanya, tetap menunjukan wajah optimis. Mereka yakin koperasi adalah sistem ekonomi yang adil, demokratis juga anti- penindasan. Mereka berusaha agar koperasi bisa diterima oleh masyarakat. Salah satunya, misal dengan cara melakukan re-branding  koperasi.

Ini tentu wacana bagus, secara pribadi saya setuju. Tapi sebagai suatu gerakan ekonomi kerakyatan, gerakan koperasi hari ini cenderung berkutat pada hal mikro dan teknis. Ia kerap tidak bisa menyentuh masalah yang lebih besar. Ditengah banyaknya masalah bangsa hari ini, gerakan koperasi harus memiliki visi kebangsaan agar tetap relevan. 

Terlalu teknis

Hal pertama yang harus dipahami, baik koperasi dan korporasi adalah sama-sama alat produksi. Koperasi adalah bentuk alat produksi dari sosialisme, sementara korporasi dari kapitalisme. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah soal kepemilikan. Koperasi dimiliki secara kolektif, sementara korporasi oleh segelintir elit.

Nah, ekosistem hari ini mulai dari ekonomi makro hingga mikro jelas berpihak pada korporasi. Kebijakan ekonomi makro yang kapitalistik tentu menjadi rumah ideal bagi korporasi. Mereka mendapat sumplai Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik dari universitas terbaik pula. Lalu mendapat sokongan modal dari bank-bank besar.  

Sementara dalam sistem yang kapitalistik, koperasi jelas megap-megap. Dari segi suplai SDM misalnya, koperasi mendapat manusia kelas dua dari universitas kelas dua pula. Sumber permodalan kolektif kerap tidak mencukupi untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha.

Ditengah kondisi terjepit dan sulit, strategi gerakan masih berkutat pada urusan teknis di level alat produksi. Koperasi selalu berupaya menyaingi korporasi yang jelas unggul di semua lini. Akibatnya gerakan cepat kehabisan bensin di tengah perjalanan karena lebih sibuk mengajak orang berkoperasi. 

Karena melulu berkutat pada hal teknis, gerakan mudah terjebak pada hal yang bersifat meterialistik. Memposisikan koperasi sekadar badan usaha belaka, sekadar bisnis. Jika koperasi menjadi sekadar bisnis, ia tidak bisa lagi disebut gerakan. Lingkupnya menjadi sempit, berputar disitu-situ saja. 

Kita mungkin bisa mendirikan koperasi yang bagus, barang 10-20 buah dalam setahun. Lalu kita kabarkan ke setiap pelosok negeri, best practice itu. Koperasi itu adil, koperasi itu mensejahterakan atau terserah apa saja bunyi propagandanya. Dengan harapan banyak orang mau bergabung. Tapi apakah dengan cara ini, tiba-tiba orang memilih berkoperasi? Nehi.

Karena tidak semua orang berani berjudi memilih hidup di koperasi. Setiap orang mungkin menerima gagasan koperasi, bahkan mengakuinya sebagai sistem terbaik. Tapi untuk urusan kebutuhan hidup, itu bukan soal baik atau buruk, tapi ia sudah menyangkut strategi bertahan hidup. Maka bekerja di korporasi tak jadi soal, toh secara material lebih menjanjikan. 

Saya tidak bilang kerja-kerja mikro dan teknis itu salah. Tapi dalam konteks strategi sebagai gerakan ekonomi kerakyatan, berkutat hanya pada hal teknis tidak akan punya nafas panjang. Karena bikin koperasi yang jelek aja pegel, apalagi yang bagus. 

 Menyoal masalah kebangsaan

Masalah yang dihadapi bangsa ini adalah ketidakadilan di ruang ekonomi. Reformasi 1998, yang hanya menempatkan kebebasan di ruang politik, hanya menjadi tanah gembur bagi praktik neoliberalisme di Indonesia. Sistem ekonomi neolib, adalah bentuk baru dari penjajahan yang bengis juga menghisap.

Negara dengan ekonomi adikuasa, semisal Amerika dan sekarang Cina, mencengkeram negara lain melalui hutang juga investasi-investasi. Selain itu rezim yang memberhalakan pembangunan, atas nama mengejar ketertinggalan, adalah pasangan serasi kaum neolib.

Jalan tol dan jembatan dibangun dimana-mana. Tapi untuk melewatinya, kita harus bayar. Memang sih apa yang kita bayar itu masuk rekening negara. Tapi negara republik Cina, bukan republik Indonesia. Ini adalah contoh dari praktik neolib. Dimana rakyat diposisikan sebagai konsumen dari dari pembangunan.

Konsentrasi kekayaan juga terpusat pada segelintir orang. Dimana 49,3 persen total kekayaan nasional hanya dikuasai 1% orang terkaya. Lalu 99% kaum jelata berebut sisanya. Ini adalah fakta ketidakadilan dan manifestasi dari penindasan.Artinya ada segelintir manusia yang menindas manusia lainnya.

Praktik imperialisme ini sudah berlangsung sejak lama, tapi banyak orang memilih diam. Bisa jadi karena di benak mereka pandangan “there are no alternative” masih sangat kuat. Seakan-akan tidak ada alternatif untuk sistem ekonomi, selain yang berjalan hari ini. Maka disinilah tugas gerakan koperasi berperan.

Bahwasanya ada sistem ekonomi yang di dalamnya adanya partisipasi, mulai dari produksi, konsumsi dan distribusi. Sehingga arah pembangunan ekonomi tidak ditentukan oleh hasrat segelintir elit tapi atas pertimbangan orang banyak. Selain itu nilai-nilai yang dimiliki oleh sistem ekonomi koperasi bisa menjadi alat perlawanan terhadap praktik neoliberalisme.

Sebenarnya hari ini belum saatnya mengajak semua orang untuk berkoperasi. Karena yang paling penting adalah, bagaimana koperasi bisa menyadarkan banyak orang bahwa  imperialisme di negara ini, bukan lagi wacana tapi nyata. Penindasan dan penghisapan itu riil. Ketika banyak orang sadar bahwa sistem ekonomi hari ini begitu menindas, mereka dengan sendirinya akan berkoperasi.

Kemudian yang perlu kita pikirkan bersama adalah, bagaimana mengartikulasikan gerakan penyadaran ini agar lebih aktratif, komunikatif, sederhana dan menyentuh generasi muda. []

 

 

Aef Nandi Setiawan
Staff Litbang Koperasi Pemuda Indonesia. Asisten Peneliti di Kopkun Institute. Wasekum bidang Lingkungan Hidup & SDA Badko HMI Jateng-DIY
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.