OUR NETWORK

Menyoal Cinta dalam Perspektif Feminisme

Tentu kita tahu, bahwa narasi cinta dibentuk melalui jalan konstruksi sosio-budaya: di mana cinta dipandang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan sistem patriarki dan heteroseksualitas.

Cinta adalah “kitab suci” yang dikultuskan dalam bahasa universal untuk dapat melebarkan percakapan inter-human. Oleh karena cinta tumbuh di bawah rezim bahasa, maka cinta adalah satu tema besar dalam bahasa keseharian kita yang terus-menerus diperbincangkan tanpa jeda. Bahkan, dalam kehidupan kita, pelbagai hal seringkali direpresentasikan dengan cinta. Satu hal yang unik dari cinta, ialah cinta bersifat universal, namun dialami secara partikular: umum sekaligus khusus.

Dalam tradisi Yunani klasik ada tiga jenis cinta: eros, philia,dan agape. Eros adalah cinta yang berbasis pada ego, philia adalah cinta persahabatan, sedangkan agape adalah perjamuan cinta–wujud cinta yang kedudukannya paling tinggi (cinta tak bersyarat, cinta tanpa batas, dan cinta yang hanya memberi tanpa berharap kembali).

Lalu, jika cinta dinarasikan dalam romantika, yang acap kali berada di ruang privat, maka apakah cinta tersebut sebagai pemaknaan dari eros (ego)–yang satu pihak berada pada posisi subjek dan satu pihak yang lain sebagai objek? Tentu dalam hal ini, subjek adalah pemaknaan dari laki-laki dan objek adalah pemaknaan dari perempuan. Bila demikian, adakah yang dirugikan? Lalu siapa yang mendapat keuntungan?

Tentu kita tahu, bahwa narasi cinta dibentuk melalui jalan konstruksi sosio-budaya: di mana cinta dipandang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan sistem patriarki dan heteroseksualitas. Dengan demikian, cinta dalam bahasa perempuan adalah jalan penyerahan diri pada pihak yang ingin menguasai dan mendominasi.

Menurut pemikir feminisme

Menurut Simone de Beauvoir dalam bukunya Second Sex (1949), memperingatkan, bahwa cinta memang dapat dirasakan sama, namun dapat memberi pemaknaan yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Hal yang sama diungkapkan oleh Byron (dalam Simone de Beauvoir), bahwa laki-laki dapat menempatkan cinta sebagai entitas yang terlepas dari dirinya, sementara bagi perempuan cinta adalah eksistensinya.

Bagi laki-laki jatuh cinta membuat mereka menginginkan objek yang dicintainya menjadi milikinya dan mengaku diri sebagai subjek yang berdaulat untuk memiliki dan mengendalikan sang objek. Sedangkan bagi perempuan jatuh cinta adalah meleburkan diri atau menyerahkan segalanya kepada objek yang dicintai.

Dengan kata lain, cinta dijadikan alat untuk melegitimasi ketidakadilan pada perempuan yang disponsori oleh sistem patriarki–tanpa sadar telah terjadi perbudakan tubuh perempuan (eksploitatif).  Semisal, seorang istri tidak boleh tidur terlebih dahulu sebelum suaminya pulang, seorang istri harus se-iya-sekata dengan suaminya, dan aktivitas terhormat bagi seorang istri ialah di dapur dan di ranjang.

Akibatnya, konstruksi yang dibangun lewat jalan sosio-budaya membuat status sosial lebih menghormati bentuk tubuh perempuan daripada menghargai keindahan pikirannya. Inilah pikiran purbasangka yang kini masih dipelihara rapih dalam budaya kita: budaya patriarki. Sebagaimana hal yang sama dikatakan oleh bell hooks, bahwa dosa patriarki yang paling utama adalah membentuk laki-laki untuk percaya bahwa mereka terlahir untuk mendominasi dan mengontrol, sementara perempuan dibentuk untuk percaya bahwa mereka terlahir untuk didominasi dan dikontrol oleh laki-laki.

Di sinilah pemikir feminis menginterupsi. Ringkasnya melawan. Sejatinya, feminisme itu mewah dirawat di dalam akal sehat. Karena selalu yang menjadi diskursus ialah bagaimana seorang perempuan memperoleh hak-haknya: keadilan dan kesetaraan–duduk sama berdiri pun sama. Sebab, pada jejak sosio-historis perempuanlah segala bentuk ketidakadilan itu membekas: dalam sejarah–yang meruang dan mewaktu dalam peradaban. Keduanya sama-sama meninggalkan belang untuk generasi yang baru dilahirkan kemarin sore: ia bernama stigma–bahwa pada tubuh dan penghidupan perempuan berkibarlah panji-panji lelaki untuk menegakan kekuasaannya.

Kekerasan atas nama cinta

Frasa “atas nama cinta” seringkali dijadikan azimat bagi seorang lelaki untuk “meluluhkan” tubuh perempuan dan melakukan kekerasan seksual pada pasangannya. Seakan-akan frasa “atas nama cinta” adalah manifestasi dari bahasa kasih sayang melalui bujuk-rayu. Dalam hal ini, perempuan benar-benar dijadikan objek eksploitasi seksual.

Bahkan, menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada tahun 2017, mencatat kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan tertinggi kedua dalam ranah personal, yaitu sebesar 34% (3.495 kasus). Adapun pemerkosaan merupakan bentuk kekerasan seksual yang paling banyak terdokumentasi di ranah personal, yaitu sebesar 39,7% (1.389 kasus).

Temuan lain yang mencengangkan adalah bahwa angka tertinggi pelaku kekerasan seksual di ranah personal dilakukan oleh kekasih terhadap pasangannya, yaitu sebanyak 2.017 kasus pada tahun 2017. Tentu kasus tersebut bisa saja bertambah, andai saja “kultur diam” bisa dihindari. Karena faktor “nama baik keluaraga” menghambat masuknya proses hukum di ranah privat atau personal.

Dengan demikian, cinta telah salah dimaknai. Padahal, mengucapkan kata cinta, artinya secara sadar mengikatkan diri sekaligus mengikrarkan “kitab suci” manusia pada “peradaban”. Menghormati kedudukan perempuan, artinya memberi salam hormat pada “kehidupan”. Sebab, cinta adalah bahasa inter-human yang paling ikonik untuk melebarkan percakapan dalam bentuk manifestasi kasih sayang.

Namun, pemaknaan cinta yang sejatinya membebaskan tidak lebih dari bahasa politis ideologi dalam sistem patriarki demi memperbudak tubuh perempuan: mengeksploitasi dan mengkapitalisasi. Maka, bagi mereka yang hidup di tengah hegemoni subordinasi perempuan: jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri.

Kalau kita buka kembali file kesusastraan angkatan Poejangga Baroe, ada satu roman yang sangat penting untuk kita renungkan, khususnya perempuan: belajarlah pada tokoh Tuti–pada watak kesusastraan dan kepribadiannya, begawan sastra Sutan Takdir Alisjahbana meletakan watak modernitas. “kita harus membanting tulang sendiri untuk mendapat hak kita sebagai manusia. Kita harus merintis jalan untuk lahirnya perempuan yang baru, yang bebas menghadapi dunia…” kata Tuti. Inilah watak intelektual: watak perempuan–seharusnya.

Non nobis solum nati sumus

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…