OUR NETWORK

Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #1

Sososk Aidit selalu populer setiap peristiwa Gestok/65 digulirkan dalam pertarungan wacana. Di tingkat akar rumput banyak yang menilai dan menghakiminya tanpa mengenal sejarah dan kontribusinya terhadap bangsa Indonesia. Masyarakat awam yang ‘fakir’ literasi, aparatur negara dan mereka yang telah Anti-PKI/Komunis secara turun-menurun akan menerima informasi begitu saja, bahkan tidak sedikit akademisi yang turut serta memandangnya sebelah mata.

Fotonya terpampang di banyak media sosial, parasnya bengis, dingin dan penuh dosa. Film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI juga berhasil membuat sosoknya yang kejam dan akrab dengan kepulan asap rokok—tiap gestur dan dialognya memberi kesan layaknya iblis berwujud manusia, penuh tipu muslihat. Stigma Aidit sebagai dalang dari gerakan 30S yang Anti-Pancasila sukses dikonstruksi oleh ORBA dan bertahan sampai detik ini—menghapus lembaran jasa dan perjuanganya terhadap kaum buruh tani, rakyat miskin kota dan orang tertindas pada umumnya. Untuk itu penulis merasa perlu mengkritisi wacana yang bergulir tentang PKI dan sosok Aidit dan pandanganya terhadap Pancasila, agar masyarakat luas lebih adil, kritis dan ada harapan dari ringkasan ini pembaca dapat keluar dari belenggu dokrin Orde Baru.  

Aidit dan Perjuangan Politik Rakyat 

Namanya Achmad Aidit, ketika ia sadar akan potensinya dalam kancah gerakan politik, ia berganti nama menjadi Dipa Nusantara Aidit, kerap disapa DN Aidit. Disaat gerakan pemuda dan organisasi intelektual yang berorientasi melawan kolonialisme mulai bermekaran, lahirlah Achmad Aidit pada tanggal 30 Juli 1923 di Belitung, Sumatera Selatan. Ia dibesarkan dari keluarga terhormat dan berkecukupan. Bertolak dengan kengerian yang digambarkan Orde Baru, Aidit kecil dan remaja adalah anak periang, aktif, pembelajar dan pelindung keluarga, banyak teman sebayanya menilai, sosoknya sebagai remaja yang terbuka dan mudah bergaul, rajin mengaji dan mengumandangkan azan di masjid kampungnya.

Masa muda Aidit diisi dengan pergaulan yang produktif, ia kerap bergaul dan berdampingan dengan buruh-buruh yang berada dua kilometer dari kediamanya, Gemeenschappelijke Mijnbouw Mattschappij Billiton, sebuah perusahaan timah yang dikuasai Belanda. Dari pergaulan itu, aidit belajar dan memahami bahwa buruh menjadi objek kapitalisasi dan alas kolonialisme Belanda, pengalaman itu juga membentuk ciri gerakan politiknya. Karir politiknya dimulai saat berjumpa Persatuan Timur Muda, sebuah perkumpulan pemuda yang diprakarsai oleh Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), pimpinanya adalah Amir Syarifuddin dan Dr. Adenan Kapau Gani. Semangat perjuangan dan intelektualismenya yang tinggi mengantarkanya menjadi ketua umum Pertimu.

Dalam usaha heroik pemuda yang penuh hasrat kemerdekaan, Aidit terlibat dalam penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum pecahnya peristiwa tersebut ia tergabung dalam Pemuda Asrama Mahasiswa Menteng 31. Ketika Musso pulang dari Rusia, libido politik Aidit menuju revolusi Indonesia semakin tak tertahankan, Musso hadir dengan agenda aksi yang menjanjikan dan terukur. Ia menerima jabatan kordinator seksi perburuhan partai, sebulan setelah kedatangan Muso, meletup Peristiwa Madiun pada 1948—sebuah kejadian sporadis—berbuah cap PKI sebagai dalangnya. Aidit terpaksa menghilang. Simpang siur keberadaanya, ada yang mengakatan keVietnam Utara ada juga bersliweran Jakarta-Medan dalam pelarian[1].

Di sekitaran tahun 1950 Aidit kembali tampil ke publik, ia ta sendiri, ia menggandeng dua kamerad-nya, Njoto dan Lukman, mereka menjadi semacam trio, tiga serangkai atau semacam “trisula” PKI berikutnya. PKI sudah hampir ‘amburadul’ dan tercecer kekuatanya, dengan cekatan Aidit mengambil langkah progresif dan mengkonsolidasi kekuatan, tak lama dari itu, tiga serangkai ini menduduki kursi kepemimpinan partai dari generasi tua, pimpinan Alimin dan Tan Ling Djie, dan sukses membawa PKI mendulang suara 6,1 juta ke-4 terbesar di pemilu tahun 1955.

 

Aidit membawa harapan besar bagi kaum tersisih di Indonesia, kaum tani, serikat buruh dan mereka yang mendambakan keadilan. PKI yang dipimpinya tidak seperti partai politik kekinian hari ini yang penuh dengan janji retorika ilusif, frasa perjuangan rakyat dibuktikanya melalui program tanah untuk rakyat, tanah-tanah yang dikuasi borjuis diambil alih dan berikan untuk kemakmuran rakyat kecil untuk dinikmati bersama dan dikelola secara kolektif, mendorong usaha program Reforma Agraria.

 

Sikapnya yang tegas dan demokratis membuatnya sebagai anacaman besar bagi lawan politik, diantara masyumi dan militer yang banyak di isi politisi oportunis dan mereka yang mencari perhatian dari kampanye anti-komunis-nya Amerika.

 

Perlu diketahui bahwa Aidit adalah seorang intelektual-organik tulen, tidak hanya mengorganisir ia juga seorang pembelajar dan penulis produktif, dari kecerdasanya lahir banyak karya yang mampu dipahami oleh masyarakat luas, terutama soal ilmu Marxisme yang telah mengilhami ribuan rakyat untuk melawan neo-kolonialisme dan penindasan sistematis melalui ekonomi represif global dan borjuis domestik yang menjadi jari-jemari negara penyokong pasar bebas.

 Mimpi dan harapanya adalah menjadikan Indonesia yang sosialis, menjujung keadilan, dan mengangkat harkat martabat kelas proletar. Dia memiliki hipotesa—untuk menyukseskan revolusi diperlukan kurang lebih 30% kekuatan militer, namun ada pembacaan yang cacat, akhirnya teorinya berbuah simalakama. Gerakan 1 Oktober 1965 membawa kehancuran Partai yang telah ia besarkan susah payah. Peristiwa itu akhirnya dijadikan dalih buat militer memprovokasi perang saudara dan membrangus seluruh elemen kekuatan partai termasuk simpatisan PKI dihampir seluruh basis PKI di Indoensia.

Pasca gerakan 1 Oktober 1965 situasinya semakin menjadi sulit, gerakan penculikan yang di prakarsai Letkol Oentung, Cakrabirawa dan beerapa petinggi PKI termasuk Sjam dan Aidit, menyeret—orang PKI dan underbow-nya, PKI secara institusi harus mengakui kesalahan yang keblinger ini. banyak perspektif yang belum final, tapi di masa Orde Baru tafsiran itu final. Aidit harus mengasingkan diri dan berseliweran ke daerah Jawa Tengah, dalam pelarianya pada tanggal 22 November 1965 Ia diringkus di persembunyiannya di rumah Kasim alias Harjomartono di Sambeng, Solo, Jawa Tengah.

Dalam Instruksinya jenderal Soeharto mengamanatkan anak buahnya Mayor  ST mencarikan sumur tua kering dan di dalam sumur tua itulah mayat Aidit menjadi abu dibakar dengan glondongan kayu yang tertumpuk di atsnya. Dihadapan regu tembak Aidit harus menerima satu magazin peluru Kalashnikov bersarang di kepalanya. Eksekusi itu melibatkan empat juru tembak, dua kopral pengemudi Jeep. Nyari tak ada yang tahu peristiwa itu berlangsung.

Baca juga bagian ke-2 dari artikel Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit.

http://historia.id/buku/misteri-tiga-orang-kiri Diunduh pada tanggal 02 Oktober 2017, Pukul 16:00.

Artikel ini juga terbit di Indoprogress.com

Penulis yang belajar teori dan praksis di FISIP UIN Jakarta, Lingkar Studi Tangsel, Forum Islam Progresif, Sarekat Student Demokratik & PMII KOMFISIP.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.