OUR NETWORK

Menyentuh Kemanusiaan di Duka Palu dan Donggala

Tragedi alam yang terjadi di Palu dan Donggala ini seakan-akan membuka kembali luka lama yang dialami bangsa ini pada 2004 yang lalu di Aceh

Indonesia kembali berduka. Indonesia menangis. Ratusan manusia meninggal dan ribuan lagi harus menderita serta mengungsi akibat bencana gempa dan tsunami yang baru saja terjadi di Palu dan Donggala beberapa hari yang lalu.

Lupakan sejenak soal data, soal berapa jumlah kerugian materil dari gempa tersebut. Mari berbicara tentang manusia, tentang kemanusiaan yang disayat-sayat dalam tangisan dan kematian. Duka, penderitaan dan tangisan semua saudara di Palu dan Donggala adalah duka, penderitaan dan tangisan kita semua Bangsa Indonesia.

Tragedi alam yang terjadi di Palu dan Donggala ini seakan-akan membuka kembali luka lama yang dialami bangsa ini pada 2004 yang lalu di Aceh. Jenazah korban, rumah-rumah yang hancur, kapal yang terlempar ke daratan hingga tangisan pilu menghiasi pemberitaan media. Seluruh rakyat Indonesia dan dunia menangis.

Ribuan bantuan berdatangan untuk meringankan beban penderitaan warga Palu dan Donggala yang terdampak bencana. Banyak pihak bahu-membahu menyalurkan pertolongan kepada mereka. Pemerintah, Tim ACT, BNPB, medis, Kominfo dan LSM bergerak cepat menujua Palu dan Donggala dengan harapan korban bencana ini dapat segera di tolong.

Di luar Palu dan Donggala, masyarakat mengumpulkan sumbangan materiil semampu mereka. Doa-doa bergema ke hadirat Tuhan dari mulut dan hati manusia tanpa memandang agamanya. Pada titik ini, saya melihat betapa kemanusiaan manusia Indonesia sungguh terbuka.

Ketika saya melihat wajah-wajah duka yang tampak dari korban bencana di Palu dan Donggala, lalu saya melihat wajah duka Bangsa Indonesia, saya akhirnya mengerti hal yang disampaikan Emmanuel Levinas (1906-1995) ketika ia mengatakan bahwa “orang lain adalah wajah”.

“To approach the Other in conversation is to welcome his expression, in which at each instant he overflows the idea a thought would carry away from it. It is therefore to receive from the Other beyond the capacity of the I, which means exactly: to have the idea of infinity. But this also means: to be taught. The relation with the Other, or Conversation, is a non-allergic relation, an ethical relation; but inasmuch as it is welcomed this conversation is a teaching. Teaching is not reducible to maieutics; it comes from the exterior and brings me more than I contain. In its non-violent transitivity the very epiphany of the face is produced.” (Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority)

Ketika kita melihat wajah duka korban bencana, saat itu kemudian kita menyadari bahwa yang berduka adalah diri kita sendiri. Dari mereka yang berduka, kita tidak hanya menyambut ekspresi fisik semata. Wajah duka para korban juga mengajarkan kita tentang sesuatu yang lebih besar: Kemanusiaan. Kemanusiaan membawa manusia untuk merasakan pahit dan getirnya penderitaan sesama.

Persoalan kemanusiaan ini hampir hilang dari kesadaran kita semenjak keseharian kita belakangan diisi dengan lemparan hoaks dan isu-isu SARA. Tahun politik yang seharusnya menjadi sebuah pesta demokrasi kemudian menjadi pesta pembodohan publik dengan saling lempar berita bohong maupun fitnah. Sesama anggota masyarakat melupakan kemanusiaannya hanya karena hasrat politis.

Kemanusiaan ini juga kembali hilang ketika Haringga Sirila kemudian tewas di tangan para pengeroyoknya hanya karena perbedaan dukungan klub sepakbola. Ini mengerikan! Nyawa manusia (di hadapan para pengeroyok ini) menjadi lebih kecil dibandingkan dengan fanatisme klub sepakbola. Kemanusiaan mereka sudah tercabik-cabik. Mata mereka sudah menjadi buta di hadapan wajah Haringga Sirila. Mereka tak mampu membaca wajah mereka sendiri.

Tak cukup lewat kematian Haringga Sirila, wajah kemanusiaan juga kembali tersobek lewat penutupan rumah ibadah di Jambi beberapa waktu lalu dengan alasan belum mendapat ijin. Di mana nurani para pelaku ini? Tertutupkah kemanusiaan mereka?  Rumah ibadah yang seharusnya menjadi ruang pribadi manusia dalam menyembah Tuhan kemudian disegel karena alasan ijin yang belum ada. Ijin tidak akan pernah ada jika memang ijin tersebut tidak dikeluarkan.

Kita sepertinya perlu lebih dalam melihat ke duka Palu dan Donggala. Kita perlu lebih dalam melihat wajah penderitaan di sana sehingga kemanusiaan kita bisa terjamah. Kita perlu belajar untuk melihat bahwa dalam kemanusiaan segala perbedaan status sosial, ekonomi dan agama dapat disatukan. Mungkin kita perlu semakin rendah hati untuk belajar dari Imam Ali bin Abi Thalib: “Engkau yang bukan saudaraku dalam iman adalah saudaraku dalam kemanusiaan”.

Apa yang bisa kita lakukan? Sepertinya kita perlu lebih banyak berbicara satu sama lain. Kita perlu berdialog dalam kemanusiaan. Dialog ini bukan sekadar pertukaran kata. Dialog ini adalah pertukaran pengalaman, pertukaran kehidupan. Martin Bubber (1878-1965), seorang filsuf kelahiran Austria, berkata: “All real living is meeting.” (Martin Bubber, I and Thou). Kita perlu berjumpa satu sama lain, membangun narasi kehidupan yang lebih baik.

Dialog antar manusia inilah yang kiranya juga terus diperjuangkan oleh Jürgen Habermas‎ (1929 – sekarang) dalam ruang demokrasi. “I shall develop the thesis that anyone acting communicatively must, in performing any speech act, raise universal validity claims and suppose that they can be vindicated (Jürgen Habermas‎, On The Pragmatics of Communication).

Selama ini kita selalu berbicara dalam “bahasa” yang berbeda. Ada yang menggunakan bahasa politik partisan, ada yang menggunakan bahasa ideologi. Ada yang menggunakan bahasa keagamaan, ada yang berbicara menggunakan bahasa kekuasaan. Seperti kata Habermas, kita tampaknya tidak menggunakan “bahasa yang bisa saling dimengerti”.

Saya mengajak kita untuk berani berjumpa dengan wajah sesama kita. Duka Palu dan Donggala menyibak keangkuhan kita selama ini untuk mau secara jujur berbicara dalam kemanusiaan, berbicara dalam diri kita apa adanya.

Dalam duka dan tangisa di Palu dan Donggala, mari kita mulai membangun dialog kemanusiaan dimanapun kita berada. Tidak perlu kita menjadi seperti salah seorang Guru Besar sebuah universitas terkemuka di Indonesia yang menyalahkan vonis tersangka terhadap Gus Nur sebagai penyebab terjadinya tragedi alam di Palu dan Donggala. Rasionalitas dan kemanusiaan kita jangan sampai seperti itu. Mari berdoa bagi Palu dan Donggala.

Bacaan

Buber, Martin. I and Thou; Trans. Walter Kaufmann. New York: Simon and Schuster. 1996.

Habermas,  Jürgen. On the Pragmatics of Communication; Edited by Maeve Cooke. Cambridge: MIT press. 1998.

Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity; trans. Alphonso Lingis. The Hague/Boston/ London: Martinus Nijhoff Publishers & Duquesne University Press. 1969.

*Foto oleh Muhammad Bahrun Najach diambil dari http://medan.tribunnews.com/2018/09/29/inilah-deretan-20-foto-penampakan-kota-palu-dari-udara-setelah-dihantam-gempa-dan-tsunami.

# Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino Ngabang # Penulis Buku "Filsafat Pendidikan Demokratis-Deliberatif # "Kepala Sekolah" di Kelas Filsafat-Teologi Katarina Siena

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…