Sabtu, Desember 5, 2020

“Menyemai” Kesadaran Literasi Sebuah Investasi

Atraksi Interpersonal Menjelang Pilpres 2019

Mungkin yang hanya ada di benak para politisi adalah kekuasaan yang benar-benar mutlak. Entah doktrin apa yang ada di dalam dirinya itu, entah karena...

Mengenang Si Bung, Kolumnis yang Bukan Alang-Kepalang itu

Malam itu, 30 September 1995, dia masih sempat menonton film Pemberontakan PKI atau lebih populer dengan Gerakan tiga puluh September—G 30 S--PKI. Bagi Anda...

Masyarakat Adat, Kebinekaan Indonesia, dan Utang Konstitusi

Pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat pada dekade terakhir mengalami perkembangan signifikan. Setidaknya hal ini terlihat sejak lahirnya UU Desa yang memungkinkan adanya Desa...
Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered

“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar maka menulislah”. Begitulah pesan Imam Ghozali. Kata; Menulislah. Seperti yang dipesankan Imam Ghozali, saya berpendapat, pesan tersebut ada pesan tersirat, yaitu pesan untuk belajar. Karenanya, untuk menulis tentunya memerlukan “tabungan” pengetahuan. Hal itu bisa dihasilkan dari belajar/membaca. 

Kuncinya dibelajar/membaca. Pesan tersebut sesuai wahyu pertama; Iqro’ yang artinya membaca. Jelas sudah, membaca adalah “perintah”. Kembali ke pesan Imam Ghozali, perihal; Menulislah. Dengan menulis, penulis dapat menyampaikan sebuah pemikiran yang dapat mempengaruhi pembacanya. Sayyid Quthb mengatakan satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus seribu atau lebih kepala. 

Membaca dapat menambah wawasan. Luasnya wawasan dapat membantu lahirnya tulisan. Ada hubungan erat antara membaca dengan lahirnya tulisan. Posisi membaca menjadi dasar dari lahirnya tulisan. Sehingga, membaca menjadi keharusan setiap manusia untuk membuka cakrawala. Meskipun, nantinya akan melahirkan tulisan atau sekadar untuk menambah wawasan. Itu persoalan lain. 

Pentingnya membaca, berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia yang menurut hasil studi “Most Littered National In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). 

Berdasarkan hasil survey  Lembaga United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization ( UNESCO) minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Kondisi ini sungguh ironis. Di era millenial, dimana informasi mengalir deras dan minat baca yang rendah berbahaya dalam menyikapi informasi yang beredar. Tingkat baca yang rendah rentan dengan mudahnya termakan isu, tanpa ada keinginan untuk mengkaji kebenaran atas isu tersebut. Di media social Indonesia menempati posisi ke-4 setelah India (195,16 juta), Amerika (191,3), Brazil (90,11). Sayangnya, tingginya pengguna media social masyarakat Indonesia menempatkan pengguna media social dengan kata kunci hoax tertinggi, sebanyak 104.374, (baca: lini twitter). 

Fenomena ini perlu perhatian berbagai pihak. Tugas bersama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran literasi. Gerakan sadar literasi perlu digalakkan untuk menumbuhkan masyarakat yang cerdas menanggapi informasi dan memproduksi informasi yang menyerdaskan. Menumbuhkan sadar literasi menjadi hal penting dan mendesak, jika ingin merasakan hasilnya seperti yang dirasakan Firlandia. 

Menyambut Indonesia Emas 2045. Gerakan sadar literasi tidak bisa ditawar lagi untuk membangun generasi yang sanggup bersaing secara global mencintai budaya local, memiliki kecakapan intelektual, sehat dan menyehatkan dalam interaksi dengan lingkungan, berbudi luhur, produktif dalam hal positif, inovatif, serta damai dalam interaksi social.

Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.