Selasa, Januari 26, 2021

“Menyemai” Kesadaran Literasi Sebuah Investasi

Dana Desa Bisa Apa?

Tahun 2014 merupakan momentum awal kebangkitan penyelenggaraan pemerintahan desa menyusul disahkannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Melalui undang-undang tersebut desa memperoleh kedudukan...

Corona dan Protokol Belajar dari Rumah

World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemi. Virus Corona telah menyebar ke lebih dari seratus negara di dunia. WHO...

Jangan Grusa-Grusu, Saran untuk Kemendikbud

Percepatan penularan Covid-19 di negeri ini masih tinggi. Namun, Presiden Jokowi telah memberi sinyal akan hadirnya kehidupan normal baru sebagai bentuk penyesuaian atas pandemi...

Puritanisme Islam: Memurnikan Ajaran atau Arabisasi?

Dalam sejarah Islam, gerakan puritan paling tidak muncul ketika Khawarij muncul. Prinsipnya, setelah Nabi Muhammad wafat umat Islam kembali tergantung pada kesukuan, bukan kepada...
Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered

“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar maka menulislah”. Begitulah pesan Imam Ghozali. Kata; Menulislah. Seperti yang dipesankan Imam Ghozali, saya berpendapat, pesan tersebut ada pesan tersirat, yaitu pesan untuk belajar. Karenanya, untuk menulis tentunya memerlukan “tabungan” pengetahuan. Hal itu bisa dihasilkan dari belajar/membaca. 

Kuncinya dibelajar/membaca. Pesan tersebut sesuai wahyu pertama; Iqro’ yang artinya membaca. Jelas sudah, membaca adalah “perintah”. Kembali ke pesan Imam Ghozali, perihal; Menulislah. Dengan menulis, penulis dapat menyampaikan sebuah pemikiran yang dapat mempengaruhi pembacanya. Sayyid Quthb mengatakan satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus seribu atau lebih kepala. 

Membaca dapat menambah wawasan. Luasnya wawasan dapat membantu lahirnya tulisan. Ada hubungan erat antara membaca dengan lahirnya tulisan. Posisi membaca menjadi dasar dari lahirnya tulisan. Sehingga, membaca menjadi keharusan setiap manusia untuk membuka cakrawala. Meskipun, nantinya akan melahirkan tulisan atau sekadar untuk menambah wawasan. Itu persoalan lain. 

Pentingnya membaca, berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia yang menurut hasil studi “Most Littered National In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). 

Berdasarkan hasil survey  Lembaga United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization ( UNESCO) minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Kondisi ini sungguh ironis. Di era millenial, dimana informasi mengalir deras dan minat baca yang rendah berbahaya dalam menyikapi informasi yang beredar. Tingkat baca yang rendah rentan dengan mudahnya termakan isu, tanpa ada keinginan untuk mengkaji kebenaran atas isu tersebut. Di media social Indonesia menempati posisi ke-4 setelah India (195,16 juta), Amerika (191,3), Brazil (90,11). Sayangnya, tingginya pengguna media social masyarakat Indonesia menempatkan pengguna media social dengan kata kunci hoax tertinggi, sebanyak 104.374, (baca: lini twitter). 

Fenomena ini perlu perhatian berbagai pihak. Tugas bersama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran literasi. Gerakan sadar literasi perlu digalakkan untuk menumbuhkan masyarakat yang cerdas menanggapi informasi dan memproduksi informasi yang menyerdaskan. Menumbuhkan sadar literasi menjadi hal penting dan mendesak, jika ingin merasakan hasilnya seperti yang dirasakan Firlandia. 

Menyambut Indonesia Emas 2045. Gerakan sadar literasi tidak bisa ditawar lagi untuk membangun generasi yang sanggup bersaing secara global mencintai budaya local, memiliki kecakapan intelektual, sehat dan menyehatkan dalam interaksi dengan lingkungan, berbudi luhur, produktif dalam hal positif, inovatif, serta damai dalam interaksi social.

Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.