Rabu, Oktober 21, 2020

“Menyemai” Kesadaran Literasi Sebuah Investasi

Ketidakadilan Agraria di Balik Kemenangan Hari Raya

Jika sebagian besar umat muslim di Indonesia dapat merayakan hari raya idul fitri di kampung halaman bersama sanak famili. Lain halnya dengan petani-petani yang...

Kriminal dalam Dunia Digital

Hampir setiap saat kejahatan terjadi dan menghantui bumi pertiwi. Para presenter di layar televisi pun tak pernah lelah memberi informasi dari berbagai penjuru negeri....

Sandiaga Uno Tidak Perlu ‘Syahadatkan’ Bali Melalui Pariwisata

Tidak ada yang salah dengan ide membantu wisatawan muslim menemukan masjid dan rumah makan halal. Namun, jika gagasan mengenai pariwisata halal akan membuat eksklusifitas...

COVID-19, Angsa Abu-Abu, dan Paradigma Pembangunan

Kemunculan pandemi Covid-19, oleh sebagian kalangan disebut sebagai fenomena Angsa Hitam. Spesies ini dipopulerkan kembali oleh Nassim Nicholas Taleb (2007), untuk memahami berbagai peristiwa...
Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered

“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar maka menulislah”. Begitulah pesan Imam Ghozali. Kata; Menulislah. Seperti yang dipesankan Imam Ghozali, saya berpendapat, pesan tersebut ada pesan tersirat, yaitu pesan untuk belajar. Karenanya, untuk menulis tentunya memerlukan “tabungan” pengetahuan. Hal itu bisa dihasilkan dari belajar/membaca. 

Kuncinya dibelajar/membaca. Pesan tersebut sesuai wahyu pertama; Iqro’ yang artinya membaca. Jelas sudah, membaca adalah “perintah”. Kembali ke pesan Imam Ghozali, perihal; Menulislah. Dengan menulis, penulis dapat menyampaikan sebuah pemikiran yang dapat mempengaruhi pembacanya. Sayyid Quthb mengatakan satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus seribu atau lebih kepala. 

Membaca dapat menambah wawasan. Luasnya wawasan dapat membantu lahirnya tulisan. Ada hubungan erat antara membaca dengan lahirnya tulisan. Posisi membaca menjadi dasar dari lahirnya tulisan. Sehingga, membaca menjadi keharusan setiap manusia untuk membuka cakrawala. Meskipun, nantinya akan melahirkan tulisan atau sekadar untuk menambah wawasan. Itu persoalan lain. 

Pentingnya membaca, berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia yang menurut hasil studi “Most Littered National In the Word” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). 

Berdasarkan hasil survey  Lembaga United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization ( UNESCO) minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Kondisi ini sungguh ironis. Di era millenial, dimana informasi mengalir deras dan minat baca yang rendah berbahaya dalam menyikapi informasi yang beredar. Tingkat baca yang rendah rentan dengan mudahnya termakan isu, tanpa ada keinginan untuk mengkaji kebenaran atas isu tersebut. Di media social Indonesia menempati posisi ke-4 setelah India (195,16 juta), Amerika (191,3), Brazil (90,11). Sayangnya, tingginya pengguna media social masyarakat Indonesia menempatkan pengguna media social dengan kata kunci hoax tertinggi, sebanyak 104.374, (baca: lini twitter). 

Fenomena ini perlu perhatian berbagai pihak. Tugas bersama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran literasi. Gerakan sadar literasi perlu digalakkan untuk menumbuhkan masyarakat yang cerdas menanggapi informasi dan memproduksi informasi yang menyerdaskan. Menumbuhkan sadar literasi menjadi hal penting dan mendesak, jika ingin merasakan hasilnya seperti yang dirasakan Firlandia. 

Menyambut Indonesia Emas 2045. Gerakan sadar literasi tidak bisa ditawar lagi untuk membangun generasi yang sanggup bersaing secara global mencintai budaya local, memiliki kecakapan intelektual, sehat dan menyehatkan dalam interaksi dengan lingkungan, berbudi luhur, produktif dalam hal positif, inovatif, serta damai dalam interaksi social.

Rouf Ahmad
Peneliti Pedesaan, Antusias Seni-Budaya-Sosial, Messenger of Littered
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.