Senin, April 12, 2021

Menyebar Dukungan Untuk ODHA

Critical Thinking, Feminisme, dan Demokrasi

Keterampilan abad ke-21 merupakan salah satu topik yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Teknologi menjadi semacam tuntutan zaman, semua dapat menjadi lebih mudah dan praktis. Critical...

Eksploitasi Pengemudi dan Gemerlap Transportasi Online

Jasa transportasi berbasis daring menjadi fenomena yang mampu menarik perhatian masyarakat. Kemunculannya menjadi sepeti oase di padang gurun. Jumlah armadanya pun tumbuh subur. Pada tahun...

Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Politik

Kuartal III/2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,1% jika dibandingkan dengan kuartal II/2018. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia...

Apresiasi Islam Terhadap Budaya Lokal

Tumpang tindih antara agama dan kebudayaan akan terjadi terus-menerus, walaupun agama dan kebudayaan memiliki wilayah sendiri-sendiri. Adapun dalam hal ini, agama Islam yang bersumber...

Siapakah ODHA? Mengacu pada orang dengan virus HIV/AIDS. Disalahkan, dikucilkan, dihina dan perlakuan buruk lainnya akan menjadi teman perjalanan dalam menjalani sisa hidup sebagian besar ODHA. Pernyataan ini yang selalu menjadi stigma sebagian besar masyarakat tentang ODHA.

ODHA, di mata masyarakat bernilai dan berkonotasi negatif. Mereka menganggap ODHA hanyalah sampah masyarakat yang tidak berguna. Penderita ODHA menjadi sasaran cercaan, caci maki dan cemoohan tiada henti. Paradigma tersebut karena HIV/AIDS selalu dikaitkan dengan moral dan perilaku menyimpang.

ODHA adalah seseorang yang melakukan seks bebas, pecandu narkoba, gonta ganti pasangan dan homoseksual. Namun tidak hanya itu, penderita ODHA juga bisa menjadi korban yang disebabkan kesalahan dan tidak steril nya alat transfusi darah.

Menjadi seseorang dengan status penyandang ODHA sungguh menjadi musibah. HIV merupakan virus mematikan yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh. Sedangkan sel darah putih ini berperan dalam melawan infeksi dan penyakit yang menyerang tubuh. Kemudian, AIDS terjadi ketika virus berusaha masuk ke dalam tubuh dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Mengenai penularan virus HIV/AIDS, masyarakat mengganggap penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak sosial atau pergaulan biasa, seperti berjabat tangan, berbicara, melalui makanan, minuman, melalui udara dan kotoran. Tapi, perlu digencarkan bahwa penyakit ini ditularkan melalui jarum suntik, seks bebas dan bayi yang berada dikandungan seorang ibu yang positif HIV.

Tidak seorang pun yang menginginkan dirinya terserang penyakit, apalagi penyakit mematikan seperti HIV/AIDS. ODHA bukanlah virus. Mereka adalah manusia yang membutuhkan kedudukan yang sama dengan manusia lainnya. Bukan cercaan, hinaan, caci maki dan cemoohan berupa “sampah masyarakat” yang patut mereka terima. Namun, uluran tangan yang hangatlah yang mereka butuhkan.

ODHA sangat membutuhkan dukungan sosial. Menurut Jacobson (Orford,1992) dukungan sosial berarti suatu bentuk tingkah laku yang menumbuhkan perasaan nyaman dan membuat individu percaya bahwa individu itu dihormati, dihargai, dicintai dan bahwa orang lain bersedia memberikan perhatian dan keamanan.

Sebagai sesama manusia, sudah selayaknya memperlakukan ODHA sama dengan manusia lainnya. Mereka memiliki status dan hak azazi yang hakiki yaitu hak untuk hidup dan diberlakukan sebagai manusia. Selain tanggung jawab moral, mereka juga membutuhkan dukungan sosial untuk dapat melindungi jiwa dan merasakan kenyamana dalam ikatan tali persaudaraan sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Dukungan sosial tersebut berupa, yang pertama memberikan kekuatan kepadanya untuk dapat mengutarakan perihal kondisi yang dialami. Inilah tujuan utama memberikan dukungan moral kepada ODHA. Sebab, ODHA enggan untuk mengakui dan menceritakan kepada orang lain terkait kondisinya dan juga sudah menjadi hal biasa bagi mereka mendapatkan perilaku diskriminasi dari orang-orang sekitar. Inilah yang tidak mereka inginkan karena mereka ingin tetap menjadi bagian yang diterima masyarakat.

Kedua, dukungan sosial yang diberikan dapat mencegah dan melindungi diri dari kejahatan yang mungkin ODHA lakukan. Sebab, mereka yang selalu mendapatkan perilaku dan kedudukan yang tidak memanusiakan dari masyarakat, bisa saja mereka melakukan tindakan serupa dengan menularkan virus HIV kepada orang lain.

Ketiga, dukungan yang kita berikan dapat mendorong mereka mendapatkan pengobatan yang layak. Sudah hal yang biasa, bahkan petugas kesehatan pun melakukan diskriminasi kepada ODHA dengan tidak mau memberikan pengobatan yang layak kepada nya. Dengan memberikan dukungan, hal ini dapat memberikan pemahaman kepada kepada tenaga kesehatan sehingga ODHA mendapat perlakuan medis yang layak dan manusiawi.

Dukungan moral yang diberikan kepada ODHA berupa dukungan emosional dan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan persahabatan. Pertama, dukungan emosional dan penghargaan yaitu berupa perhatian, kepedulian, empati dan kasih sayang kepada ODHA. Selain itu, kita juga bisa memberikan dorongan yang positif serta menghargai ide, keputusan dan perilaku yang ODHA lakukan.

Kedua, dukungan instrumental merupakan dukungan yang dapat diberikan dengan bantuan secara langsung dan tidak langsung berupa jasa dan benda. Misalnya membantu ODHA dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, perlengkapan hidup dan membantu mengurus kehidupan nya.

Ketiga, dukungan informasi berupa nasehat, pesan, saran dan kritikan yang dapat membantu ODHA dalam menjalani kehidupan dan menghadapi segala bentuk diskriminasi yang diperoleh dengan tabah dan sabar.

Keempat, dukungan persahabatan yang berkaitan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Dukungan persahabatan ini berupa diterimanya ODHA dalam sebuah kelompok sehingga mereka merasa diterima ditengah masyarakat.

Dengan adanya pemahaman, pengetahuan dan dukungan sosial kepada ODHA, diharapkan dapat memberikan pencerdasan kepada masyarakat bahwa ODHA bukan virus, melainkan manusia yang sangat menbutuhkan dukungan dan tempat untuk berbagi masalah yang dialaminya serta mendapatkan pengobatan yang layak dan manusiawi.

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.