Jumat, Januari 22, 2021

Menuntaskan Persoalan Suporter Sepak Bola

Arsip dan Keseharian Kita

Jika anda pengguna aktif media sosial Twitter, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah Spill atau Spill the Tea yang belakangan ini menjadi perhatian yang...

2019 Tak Semenarik 2014?

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang indah dengan keberagamannya akan lebih berkembang jika mampu dipimpin dan diarahkan dengan tepat melalui spirit persatuan....

CSR, Etika Bisnis dan Lingkungan Hidup

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep yang terdapat di dalam suatu perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada....

Tipping Point Berlaku untuk Perekonomian Indonesia

Kecenderungan atau minat merupakan suatu yang mungkin bisa diprediksi namun tidak dapat diperhitungkan. Kecenderungan sendiri hampir sangat terpengaruh dengan minat. Menurut Crow dan Crow,...
Dimas Firdausy
Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Kolumnis lepas, Penikmat Sepak Bola

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan kesaktian pancasila pada 01 Oktober lalu menyisakan luka yang cukup serius. Pasalnya, pertumpahan darah sesama anak bangsa kembali terjadi dan sempat menggegerkan publik.

Namun, yang menjadi sorotan adalah justru hal tersebut datang dari salah satu cabang olahraga yang dianggap menjunjung tinggi nilai sportivitas. Persepakbolaan tanah air kembali memakan korban jiwa, salah seorang suporter sepak bola harus meregang nyawa saat sebelum menonton laga lanjutan liga 1 Indonesia 2018 antara klub sepak bola Persija Jakarta kontra Persib Bandung. Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta tewas ditangan oknum suporter lawannya dengan cara yang tidak manusiawi.

Hilangnya nyawa seorang suporter sepak bola menjadi ironi negeri ini, bagaimana tidak, bukan kali pertama nyawa seseorang menjadi tumbal hanya untuk pertandingan sepak bola. Menurut catatan lembaga nirlaba Save Our Soccer (SOC), sejak tahun 1995 sampai sekarang lebih dari 50 nyawa harus meregang akibat perseteruan antar suporter sepak bola.

Peristiwa meninggalnya salah seorang suporter sepak bola tentu membangkangi kesakralan hari kesaktian pancasila sebagai falsafah hidup bernegara. Namun, Nasi telah menjadi bubur, tentu kita tidak dapat mengembalikan para korban kembali ke dunia. Tapi kita masih bisa mengembalikkan keadaan agar tidak terjadi lagi fenomena kekerasan didalam sepak bola negeri ini. Sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi  nilai-nilai kemanusiaan, kita harus menemukan formula untuk mengatasi problem tersebut.

Mengurai Persoalan

Melalui tulisan ini, penulis mencoba mengurai persoalan-persoalan suporter sepakbola yang mungkin bisa memberi pandangan baru. setidaknya sebagai bentuk ikhtiar penulis untuk “urun rembug” mengakhiri kekerasan di dunia sepak bola tanah air. Walaupun tidak mudah, bukan berarti tidak mungkin.

Pertama, Memang tidak semudah mengembalikan telapak tangan untuk mendamaikan suporter sepak bola di Indonesia, Perlu kajian yang mendalam untuk mengetahui akar masalah yang menyebabkan suporter sepak bola berseteru.

Pasalnya, perseteruan antar dua kelompok suporter tidak hanya terjadi secara spontan ketika bertemu di tribun stadion, namun ada kelompok yang memiliki historisnya masing masing, seperti suporter Persija Jakarta (The jak mania) dan Persib Bandung (Bobotoh Viking).

Itulah yang harus digaris bawahi. Ikrar damai yang selama ini dilakukan, baik oleh organisasi suporter maupun oleh pemerintah (menpora) belum sepenuhnya efektif. Ikrar damai hanya sebatas akta yang rawan untuk dilanggar. Hal itu dikarenakan perdamaian tersebut cuma menyentuh kalangan petinggi (pengurus) suporter yang tidak sampai kepada arus bawah (anggota). Alhasil, yang dicapai hanyalah perdamaian semu.

Kedua, menjadi persoalan lebih lanjut , bukan hanya The jak mania dan Bobotoh Viking saja yang berseteru. Faktanya, tradisi suporter sepak bola di Indonesia mempunyai rivalnya masing-masing. Seperti misalnya, suporter klub PSIM Yogyakarta (Brajamusti) dengan Persis Solo (Pasoepati), PSS sleman (BCS) dengan PSCS Cilacap (Lanus), Arema Malang (Aremania) dengan Persebaya Surabaya (Bonek), dan masih banyak lagi. Artinya, besar kemungkinan fenomena kekerasan sepak bola masih bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, sepanjang liga Indonesia digulirkan.

Ketiga, terkadang kita terlalu sibuk menyalahkan suporter. Walaupun sebagai pelaku terlibat, tetapi yang perlu diingat, kekerasan tidak akan pernah terjadi jika hukum dan keadilan ditegakkan dengan maksimal. Penegakan hukum dan pemenuhan keadilan saat ini dibilang masih gagal dalam pembangunannya. Lalu siapakah yang pantas disalahkan?

Keempat, Peristiwa yang dialami Haringga selayaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua, juga sebagai momentum untuk saling intropeksi dan evaluasi. Intropeksi dalam arti mengapa harus saling bermusuhan jika perdamaian itu tidak merugikan. Bukan hanya dalam sepak bola, namun juga dalam hidup bernegara saat ini. Fenomena intoleransi yang selama ini terjadi di negara kita, apakah bukan sebuah permasalahan?

Tanpa disadari rendahnya nilai toleransi menjadi faktor utama penyebab perpecahan terjadi. Dalam konteks inilah justru menjadi hal yang seringkali luput dari perhatian. Perilaku intoleransi merupakan bukti riil bahwa moralitas kita sebagai bangsa diragukan. Dan, evaluasi dalam arti siapa yang harus menjaga moralitas itu jika bukan kita sebagai anak bangsa?

Sebagai catatan, pemerintah selaku pemangku kebijakan terlalu terfokus pada ranah pembangunan fisik (materil), tetapi tuli akan penanaman nilai. Penguatan nilai merupakan strategi yang mengarahkan sasaran pada menguatnya dukungan internalisasi nilai-nilai tolerensi dan menanggalkan aksi-aksi intolerensi, yang semua terkristalisasi dalam nilai-nilai Pancasila (Muhamad Saleh, 2018)

Lagi-Lagi, Pancasila Sebagai Panglima

Dalam konteks ini penulis menawarkan solusi atas permasalahan tersebut, membentuk program pelatihan suporter seperti di negara Belgia barang kali layak dijadikan contoh. Anak-anak muda ditanamkan nilai-nilai toleransi selama menonton pertandingan sepak bola. melalui pembelajaran yang sistematis dengan memperkenalkan Pancasila sebagai dasarnya.

Pancasila dapat dikatakan sebagai “titik temu” (yang mempersatukan keberagaman) “titik tumpu” (yang mendasari idiologi dan norma agama) “titik tuju” (yang memberi orientasi kenegaraan-kebangsaan) negara bangsa Indonesia. Membangun jiwa Indonesia itu berarti harus menumbuh kembangkan Pancasila yang selalu terefleksi di setiap kehidupan yang dapat menyatukan keragaman Indonesia (Yudi Latif, 2017).

Jika kita sadari, cermin negara Indonesia dapat kita jumpai melalui sepak bola, keaneka-ragaman yang dimiliki Indonesia berpeluang memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan negara yang maju, pun, dengan sepak bola Indonesia, didalamnya terdapat nilai-nilai luhur pancasila, keaneka-ragaman yang mungkin bisa menyatukan jika dikelola dengan baik. Melalui sepak bola, tidak menutup kemungkinan persatuan Indonesia itu terwujud.

Dimas Firdausy
Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Kolumnis lepas, Penikmat Sepak Bola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.