OUR NETWORK

Menolak Diam!

Keadilan merupakan hak

Indonesia memliki 5 sila yang masing-masing memilki arti yang mendalam. Indonesia juga memilki undang-undang yang mengatur setiap hak yang patut didapatkan oleh masyarakatnya. Hak sendiri harus dibarengi dengan kewajiban yang perlu kita lakukan sebagai warga yang baik. Tetapi ada beberapa hal, dimana saat kita sudah melakukan kewajiban kita namun kita tidak mendapatkan hak yang sesuai dengan kerja keras kita.

Keadilan merupakan hak yang patut didapatkan oleh setiap kita yang sudah melakukan kewajiban kita dengan peluh, kerja keras, isak tangis dan masih banyak hal lagi yang sudah kita korbankan dalam prosesnya dan sudah sewajarnya kita mendapatkan hal yang setimpal.

Namun pada kenytaanya keadilan sendiri menjadi suatu hal yang sulit untuk didapatkan dan tentu hampir semua orang pernah merasakan tindak diskriminasi dalam skala besar ataupun kecil, ataupun mendapat ketidak adlilan dalam hal-hal tertentu yang mereka kerjakan.

Kembali teringat pada beberpa tahun silam, kita mengenal sosok seorang bernama Munir yang merupakan seorang aktivis HAM, kita mengenal Munir saat dia terus menyuarakan dan membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dan Kopassus pada jaman itu, namun saat Munir sedang aktif-aktifnya nya menyuarakan hal tersebut, justru dia harus meregam nyawanya dalam perjalanannya dari Jakarta menuju Amsterdam.

Dan oleh karena salah satu kasus tersebut yang menjadikan kita orang Indonesia menjadi enggan untuk menyampaikan aspirasinya. Pada jaman sekarang, orang-orang lebih memilih diam dan pasrah dengan keadaan dengan ketidakadilan yang mereka dapatkan dari pihak lain. Kebanyakan mereka takut untuk berbicara karena sudah pasti yang banyak “uang” yang menang.

Sehingga pada kenyataanya keadilan sendiri mejadi suatu hal yang sangat sulit untuk didapatkan, dan justru menjadi semacam undian keberuntungan yang langka dalam hidup kita. sebagai contoh saat kita membeli sebuah snack dalam kemasan dengan harga yang sama namun isi didalam setiap kemasan belum tentu sama.

Namun harga snack tersebut tetap dipatok dengan harga yang sama, sehinga orang yang mendapat snack dengan isi yang banyak bisa dikatakan beruntung dan adil karena setara dengan harga dari snack tersebut sedangkan orang yang mendapat isi yang sedikit menjadi orang yang tidak beruntung dan mendapat ketidakadilan karena harga yang tidak sesuai dengan isi yang didapatkanya.

Terkadang saat keadilan menjadi hak yang diatas dan yang dibawah menjadi tumbal atau pekerja rodi. Saat keadilan dirancang sedemikian rupa dengan tujuan untuk memperbaiki image dari suatu hal namun merugikan yang lain.

Disaat itulah pihak yang dirugikan perlu untuk menuntut dan berbicara. Saat ada pepatah mengatakan “silent is gold” (diam itu emas) kadang menjadi hal yang sangat mengganjal bagi kita untuk berbicara dan justru memaksa kita utnuk tetap diam terhadap ketidakadilan yang kita dapatkan.

Speak up menjadi satu-satunya cara agar  hak yang ingin kita dapatkan bisa didengarkan, dan bukan hanya bergantung dari beruntung atau tidaknya kita dalam mendapatkan hak dan keadilan yang seharusnya kita miliki sepenuhnya.

Speak up menjadi hal yang perlu dilakukan, bukan berarti kita “tong kosong nyaring bunyinya” tetapi speak up menjadi alat untuk kita menyampaiakn aspirasi yang kita punya. Agar ketidakadilan yang kita dapatkan tidak terus menerus didapatkan oleh kita dan orang lain. Saat kita menyuarakan mengenai ketidakadilan, hal tersebut dapat memotivasi orang lain yang sama dengan kita dimana tidak mendapatkan keadilan bisa berani untuk menyampaikan aspirasinya agra ketidakadilan tersebut tidak kita rasakan terus menerus.

Dan justru dari kasus Munir dahulu menjadi pembakar semangat bagi kita, dimana sebagai warga negara yang sudah menjalankan kewajibanya, kita bisa mendapatkan hak dan keadilan yang setara. Kita belajar dari sosoknya yang tidak takut dalam menyuarakan ketidakadilan, menjadi orang yang lebih kritis dan menuntut hak yang memang seharusnya kita dapatkan.

Oleh karena hal tersebut, saya sebagai generasi muda ingin mengajak kita para generasi muda untuk tidak takut dalam menyampaikan aspirasi kita. selama kita benar, tidak ada yang perlu ditakutkan dalam menuntut keadilan yang setara dengan kerja keras kita. dan semoga kita tetap dapat menjadi pemuda yang kritis dalam menuntut kesetaraan sehingga yang muda dapat didengarkan. Dan disinilah letak dimana “Silent is Gold” dikalahkan oleh tong yang tidak selalu nyaring bunyinya.

Penulis dari perbatasan yang bermimpi besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…