Sabtu, Februari 27, 2021

Menjawab Globalisasi Pendidikan dengan Pendidikan Kontekstual

Peluang Peran ASEAN di Laut Cina Selatan

Rasa pesimisme saya meningkat melihat peran yang bisa dimainkan ASEAN dalam menyelesaikan konflik klaim di Laut Cina Selatan pada saat ini. Hingga Juli 2020 ini,...

Satu Kota, Seribu Doa

Do’a selalu menjadi bagian paling intim dari beragama. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, do’a menjadi ritual wajib sebelum memulai aktifitas. Di Manado, ritual “do’a Bersama”...

Jangan Mencari Simpati dengan Isu PKI

Apa sebab isu komunis kembali mencuat? Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi diksi yang seksi. Sejak bulan September tahun 2018 lalu kita selalu gencar mendengar dan...

Film Ramah Anak

Saya seringkali mengurungkan niat untuk pergi ke bioskop bersama keluarga karena mempertimbangan kedua anak saya yang masih berusia di bawah enam tahun. Karena sampai...
Oktavimega Yoga Guntaradewa
S1 Sosiologi, Fokus di Pendidikan, Gerakan Sosial Baru dan Pemberdayaan Masyarakat.

Saya percaya bahwa setiap manusia itu berbeda. Everyone is unique. Seperti sebuah harmoni indah dari musik yang terdiri dari berbagai macam nada. Dalam pendidikan, saya percaya setiap orang memiliki caranya masing-masing, kesukaan dalam belajarnya masing-masing, dan juga memiliki tujuan belajar masing-masing.

Jika kita semua setuju tentang hal tersebut, maka seharusnya pendidikan juga memiliki sifat yang menghargai perbedaan. Tidak bisa disamakan. Sayangnya pendidikan di Indonesia ini masih saja tidak berpegang teguh pada prinsip tersebut.

Sekarang ini kita hidup pada era globalisasi yang tak terbendung. Globalisasi telah masuk ke seluruh penjuru dunia, bahkan mulai masuk begitu dalam sampai pada masyarakat lokal yang kini mulai terlihat.

Globalisasi telah membuat banyak orang terhubung dan banyak nilai kemudian menyatu. pada akhirnya pendidikan juga mendapatkan dampaknya. Pendidikan di seluruh dunia pada akhirnya memiliki pelajaran yang sama, cara mendidik yang sama, kurikulum yang sama, kemampuan murid yang disamakan dan banyak hal kemudian menjadi semakin menyatu.

Para aktor dalam dunia pendidikan juga pada akhirnya terhegemoni dengan alur pendidikan yang mulai sejalan dengan tujuan globalisasi yaitu menciptakan dunia yang menjadi satu dan tanpa batas. Siapakah aktor pendidikan yang saya maksud? Guru, Sekolah, Pemerintah.

Lantas apakah salah? Tidak salah jika kita mampu memanfaatkan dengan baik. Tapi akan menjadi masalah jika ternyata globalisasi dalam pendidikan justru menciptakan masalah baru dalam dunia pendidikan.

Saya ambil contoh masalah Ujian Nasional. Semua murid disamakan kualitas pendidikannya  dengan cara harus mengikuti Ujian Nasional dengan standart yang sama. Dulu saat nilai Ujian Nasional menjadi tolak ukur kelulusan, semua guru dan murid berjuang keras sampai melewati batas-batas integritas seperti mencontek/membiarkan mencontek, batas-batas kemampuan ekonomi seperti berani membayar berapapun untuk les, dan juga batas-batas kemampuan diri seperti belajar dari pagi sampai pagi lagi non-stop.

Banyak sekolah di daerah merasa kesulitan untuk mencapai standart dan banyak murid yang tidak lulus, akhirnya setelah banyak kontra maka kebijakan tersebut dihilangkan.

Namun, masalah ternyata terus berlanjut. Masalah selanjutnya adalah kebijakan Ujian Nasional harus berbasis komputer. Banyak sekolah yang belum siap karena fasilitas yang belum mumpuni, selain itu beberapa murid yang saya pernah tanyai juga tak nyaman dalam mengerjakan soal berbasis komputer.

Saya mengapresiasi niat pemerintah dalam memajukan teknologi sekaligus mengefektifkan anggaran pendidikan. Selain itu, saya juga mengapresiasi niat pemerintah untuk menyamakan standart kualitas siswa di Indonesia. Namun siswa-siswi di Indonesia ini bukanlah robot yang dicetak harus sama.

Mereka bukanlah gelas kosong yang harus diisi sama rata dengan air yang sama. Pendidikan bukanlah alat untuk mencetak orang-orang terbaik yang kemudian diberikan pada pemilik modal. Bagi saya ini merupakan masalah mindset mengenai makna pendidikan kita yang masih bias. Pada akhirnya kebijakan yang lahir adalah kebijakan yang kurang tepat.

Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai solusi dari masalah ekonomi maka tentu saja yang diajarkan hanyalah untuk menjadi aktor-aktor yang menjawab masalah ekonomi, tapi jika pendidikan dimaknai sebagai solusi dari segala permasalahan manusia maka pemerintah akan memfasilitasi setiap kemampuan yang berbeda dengan lingkungan yang berbeda untuk bekerjasama dalam upaya penyelesaiaan permasalahan di Indonesia.

Kemudian juga, pemerintah harusnya memberikan pendidikan yang mengerti konteks dari setiap individu yang berbeda, sehingga mampu menyelesaikan kompleksitas permasalahan yang ada di Indonesia.

Gimana sih itu maksudnya?

Pernahkah bertanya, kenapa semua murid diajarkan materi matematika yang sama, padahal ada materi yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan? Misalnya dia seorang yang suka dan ahli di bidang seni, mengapa banyak orang harus menekan dia untuk memiliki nilai yang tinggi di matematika? Pernah kah kalian dikatakan “bodoh” hanya karena tidak menguasai satu materi atau satu pelajaran? Atau pernahkan kalian merasa begitu sulitnya memahami satu materi?

Jika semua iya maka itu karena pendidikan kita yang terlalu memaksakan kita mempelajari sesuatu yang tidak kita suka hanya untuk menyamakan standart. Pendidikan kemudian diajarkan dengan pengetahuan global yang tidak relevan dengan konteks lokal disekitar kita. Apa yang terjadi? Kita akhirnya memaksa murid untuk berimajinasi pada sesuatu yang sulit dibayangkan dan sesuatu yang mungkin tak disukai.

Murid pun stress karena harus memaksa dirinya untuk mengerti. Pemaksaan itu yang menurutku mengakibatkan  ketidaktahuan yang berujung pada rendahnya semangat untuk belajar. Akhirnya yang terjadi mereka kehilangan makna yang sebenarnya dari pendidikan.

Pergeseran makna inilah yang kemudian harus dilawan dengan pendidikan yang berbasis pada pemahaman konteks lokal. Pendidikan konstektual kini menjadi solusi dengan membuat siswa bisa lebih mudah mengerti mengenai apa yang ia pelajari, tujuan dari apa yang dia pelajari, dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dan lingkungannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan, secara ringkas menurut Zahorik (1995: 14) berpendapat bahwa beberapa strategi pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran kontekstual adalah: (a) pembelajaran berbasis masalah, (b) memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar; (c) memberikan aktivitas kelompok; (d) membuat aktivitas belajar mandiri; (e) membuat aktivitas belajar bekerja sama dengan masyarakat ; dan (f) menerapkan peniaian autentik.

Pendidikan kontekstual diharapkan bisa menjadi upaya glokalisasi untuk melawan narasi globalisasi pendidikan. Seperti halnya glokalisasi dalam konteks “sosiologi ekonomi”, glokalisasi juga mampu dilaksanakan dalam pendidikan. Konsep pendidikan yang global harus disesuaikan dengan konsep lokal yang mampu memiliki dampak yang reflektif bagi murid dan lingkungannya.

Sehingga penyamarataan kualitas secara masif dan global akan diimbangi dengan kualitas secara spesifik yang dimiliki setiap invidivu yang berbeda. Seperti halnya “efek domino”, Peningkatan spesifikasi keahlian murid yang diharmonisasikan aktor pendidikan kemudian akan mampu menyelesaikan masalah lokal tapi juga global yang lebih kompleks.

Oktavimega Yoga Guntaradewa
S1 Sosiologi, Fokus di Pendidikan, Gerakan Sosial Baru dan Pemberdayaan Masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.