Rabu, April 14, 2021

Menjaga Muruah Diri di Tahun Politik

Keramahan Negara Kepada Penghayat Kepercayaan

Sebelum ditetapkan dengan nama “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”, istilah “kepercayaan” atau “kebatinan” tampaknya lebih populer di tengah masyarakat. Dalam sejarah legalitas konstitusionalnya,...

Penurunan Obligasi Bukan Satu-Satunya Langkah Menarik Investor

Penurunan obligasi tentu menimbulkan berbagai dampak, diantaranya dampak kebijakan pengurangan PPh bunga obligasi terhadap industri reksadana bergantung pada keputusan besarnya. Saat ini pajak diskonto...

Pilkada dan Penciptaan Nilai Publik

Momen pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang selalu menegasi netralitas birokrasi telah meninggalkan pengalaman pahit, sudah jamak terjadi birokrasi yang dibuat untuk eksekusi kebijakan kolektif...

Kereta Api: Transportasi Masa Depan yang Menjanjikan

Betapa spektakuler dan menakjubkan bila seluruh wilayah Indonesia terhubung sambung-menyambung oleh jalur rel kereta api. Bila ini berlaku, maka ongkos distribusi penyaluran berbagai barang...
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Awal tahun 2019 menjadi awal tahun yang begitu riak dengan hiruk pikuk aktifitas politik. Tahun ini akan menjadi tahun yang terasa begitu “bising” dengan kegiatan-kegiatan politik. Bagaimana tidak, tahun ini akan menjadi catatan sejarah baru dalam penyelenggaraan pemilhan umum di Indonesia.

Pemilihan umum yang sebelumnya dilaksanakan dalam waktu yang berbeda antara pemilihan umum untuk pemilihan anggota parlemen dengan pemilihan umum untuk memilih presiden, pada tahun ini akan dilaksanakan dalam waktu bersamaan yang disebut dengan pemilu serentak 2019.

Tentu saja secara otomatis pemilihan umum serentak ini akan lebih riuh daripada pelaksanaan pemilihan umum terdahulu.

Warna-warni dan logo bendera raksasa parpol berkibar ditiap pelataran jalan protokol, sebagai tanda mulainya aktifitas politik. Setiap pelaksanaan pemilihan umum selalu diikuti dengan fenomen-fenomena “khas” yang mengiringi. Calon-calon baru bermunculan sebagai opsi tambahan.

Tidak hanya berbeda karena adanya calon-calon baru, tapi juga berbagai isu kekinian yang diangkat oleh para calon sebagai materi atau alat yang mereka kampanyekan kepada pemilih.

Adu taktik untuk berebut meningkatkan daya tarik, beragam macam poster, stiker para calon terpampang disetiap pojok jalan, tertempel berjubel pada tembok-tembok pagar, dengan berbagai macam pose dan selogan.

Pemilihan umum bahkan melintas batas dunia nyata, riuh kampanye tak hanya terlihat dan terasa dalam dunia nyata tapi juga dunia maya. Dahulu hanya terlihat kampanye jalanan, bergabung dan berkumpul, meneriakan yel-yel dan berbagai gerakan ciri khas calon, kini ruang dan waktu ditembus tak perlu mengumpulkan masa cukup hanya dengan memposting gambar atau video para calon sudah bisa mengkampanyekan diri kepada pemilih.

Dengan berbagai inofasi, para calon berebut empati, obrolan pemiihan umum kini tidak hanya dipojok-pojok jalanan tapi juga dalam setiap jendela media social disusupi bahkan menjadi sebuah materi yang mendominasi pembicaraan netizen.

Posistif negetif, duahal berlawanan yang selelu berdampingan.  Tidak terkecuali dengan politik atau pemilihan umum 2019 ini.  Kampanye lintas batas terjangkit virus, dengan mudah masyarakat dan para calon melakukan sosialisasi mengkampanyekan diri semudah itu pula kita melihat kampanye negatif, saling menghujat, kampanye sara dan ujaran kebencian.

Masih banyak para kontestan politik menggunakan kampanye negatif ini sebagai strategi politik yang mereka anggap efektif karena memang hal-hal yang demikian akan dengan mudah direspon oleh masyarakat karena merupakan isu yang sensitif.

Ini menjadi sebuah fakta yang meprihatinkan yang terjadi ditengah masyarakat saat ini. Hal ini menjadi sebuah tantanagan bagi kita semua untuk setidaknya mengurangi masifnya penyebaran dan penjangkitan virus ini.

Minimnya pengetahuan, pemahaman politik masyarakat ditambah dengan prilaku elit politik yang profokatif, menyuburkan terus terjadinya kampanye negatif yang tidak jarang mengakibatkan konflik nyata dalam masyarakat.

Oleh karena itu dibutuhkan orang-orang atau masyarakat yang setidaknya tidak mudah terpengaruh, mampu memposisikan diri dalam posisi yang mengedepankan akal fikiran dan akal sehat dalam menanggapi isu-isu yang berkembang khususnya isu-isu politik. Melawan isu-isu negatif tersebut dengan menularkan atau menyebarkan isu positif, atau setidaknya tidak ikut menjadi penyebar isu negatif tersebut.

Dan orang-orang inilah orang yang menjaga marwah dirinya dan nantinya diharapkan mampu meluruskan mereka yang mudah tergerus arus terbawa oleh politik pragmatis yang menggunakan isu-isu negative dalam kontestasi politik.  Agar kontestasi politik 2019 benar-benar bisa menjadi sebuah pesta demokrasi yang bisa dinikmati penyelenggaraannya oleh masyarakat bangsa ini.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.