Selasa, Januari 19, 2021

Menjaga Habitat Satwa

Rentannya Masyarakat Adat terhadap Gizi Buruk

Dadaku terasa sesak ketika membaca halaman depan Harian Kompas hari itu, 13 Januari 2018. Gambar seorang anak terpampang lebar di halaman depan, kurus dan...

Pembubaran Ormas dan Pelemahan Kehendak Politik Masyarakat

Langkah pembubaran ormas oleh Pemerintah melalui Perppu No. 2 tahun 2017 menimbulkan kontroversi. Kontroversi tersebut muncul dari berbagai kalangan, mulai dari praktisi sampai akademisi....

Indonesia Tanpa Pacaran Bergaun Kapital

Era milenial dimana manusia mudah di doktrin tanpa harus terjun kelapangan membuat sebuah gerakan seperti layak aktivis 98  yang rela berkorban waktu dan tenaga...

OSS Saja Tidak Cukup

Di banyak kesempatan Presiden Jokowi telah menegaskan bahwa ia menghendaki adanya perbaikan iklim usaha di Indonesia. Tujuannya jelas, yaitu peningkatan investasi yang diharapkan menggerakkan...
Rio Novianto
Mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta Aktif di LPM Pabelan

Pada 12 Agustus 2020 lalu ditandai sebagai peringatan hari gajah sedunia. Peringatan ini menjadi upaya menyebarkan kesadaran tentang pelestarian dan perlindungan satwa yang semakin berkurang populasinya di alam liar. Di hari peringatan itu pula saya menonton The Elephant Queen, film dokumenter yang menjadikan gajah sebagai subjek dan berlatar di Tsavo East National Park, Kenya, Afrika.

Film garapan Mark Deeble dan Victoria Stone ini mengisahkan pengalaman ibu pemimpin gajah serta kawanannya dalam membuat keputusan dan menentukan kelangsungan hidup ketika menghadapi kekeringan panjang. Karakter utama, Athena, adalah ibu kepala keluarga besarnya, berusia 50 tahun, yang memimpin saat mereka melakukan perjalanan melintasi sabana untuk mencari air.

Sebelum melakukan perjalanan, keluarga hewan bertaring raksasa itu tinggal di daerah yang di dalam film disebut sebagai “Kerajaan”. Kerajaan dihiasi dengan lubang air musiman (kubangan) yang juga merupakan rumah bagi klan besar sesama makhluk termasuk kodok, bunglon, kumbang kotoran, ikan lili, terrapin, ditambah induk dan anak angsa yang menggemaskan.

Sampai di situ saya menyadari, kalau satu kubangan yang tak seberapa luasnya itu menjadi salah satu tempat bernaung bagi sekelompok kawanan hewan. Mereka hidup berdampingan, berinteraksi satu sama lain pada ruang hidup yang sama. Hubungan mereka membentuk suatu bagian kecil sistem ekologi, yang akan terancam apabila kubangan itu menghilang diterjang kekeringan.

Tentu kekeringan bukan satu-satunya ancaman, populasi gajah dan satwa lainnya juga mendekati kepunahan karena perilaku perburuan liar, dan semakin menyempitnya habibat lantaran pembangunan yang intrusif. Seperti dinarasikan dalam film: “Hari ini, pojok kecil di benua Afrika ini masih menjadi milik mereka, mengingatkan kita keadaan sebelumnya, ketika seluruh Afrika milik mereka.” 

Sementara di Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya malah memberi izin pembangunan jalan tambang di Hutan Harapan, yang mencakup wilayah Jambi dan Sumatera Selatan (Laporan Investigasi Tempo, 1 Agustus 2020). 

Pemberian izin itu sangat kontras dengan tugas dan fungsi KLHK yang mestinya menyelenggarakan konservasi, meningkatkan daya dukung sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan ekosistemnya.

Hutan Harapan merupakan area restorasi yang menjadi perlintasan satwa endemis Sumatera sekaligus rumah bagi 1.300 jenis flora dan 620 fauna. Dari jumlah itu, 106 jenis fauna tergolong hampir punah karena hutan mereka terdegradasi akibat konversi lahan menjadi perkebunan dan pertambangan. Contoh satwa dilindungi yang kerap dijumpai dalam kondisi mati di area konsesi adalah gajah dan harimau Sumatera.

Ahli Ekologi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Sunarto mengatakan populasi harimau Sumatera saat ini hanya tersisa 600 ekor. Sementara status Gajah, Sekretaris Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Donny Gunaryadi, mengatakan sedikitnya ada 1.700 Gajah Sumatera yang tersisa dan hidup di hutan Sumatera.

Namun, data tersebut merupakan hasil perkiraan dari beberapa lembaga yang selama ini menjadi pemerhati gajah. Kata Donny, selama sepuluh tahun terakhir, ada sekitar 700 ekor gajah yang mati karena diburu.

Padahal, penurunan populasi salah satu jenis satwa akan berdampak negatif terhadap kelangsungan rantai makanan dan menghambat siklus energi dalam suatu ekosistem. Apabila satwa-satwa ini punah, maka regenerasi hutan tidak akan berjalan normal sehingga berpengaruh terhadap ekosistem hutan. Ekosistem yang terganggu akan berdampak pada kehidupan makhluk lainnya, khususnya satwa dan manusia.

Dampak dari kerusakan ekosistem karena alih fungsi lahan yang menjadi habitat itu juga memicu sejumlah penyakit infeksi menular. Sekitar 75 persen penyakit infeksi menular baru (emerging infectious disease/EIDs) bersumber dari penularan hewan ke manusia. Secara alamiah, virus dan patogen-patogen lain dapat dengan cepat bermutasi dan beradaptasi pada lingkungan baru sehingga selalu ditemukan jenis patogen yang baru.

Meskipun berkembang secara alami, munculnya penyakit infeksi menular zoonosis juga dipicu oleh aktivitas manusia. David Quammen penulis buku Spillover yang telah menyelidiki penularan virus dari hewan ke manusia selama lebih dari satu dekade mengatakan, relasi manusia dengan alam menjadi kunci munculnya penyakit zoonosis. Relasi manusia dengan alam cenderung konsumtif, intrusif, dan destruktif. (Kompas, 5 Agustus 2020)

Pandemi yang tengah manusia hadapi saat ini semestinya menjadi refleksi dalam memperlakukan alam. Paradigma kebijakan di tataran pemerintah harus banyak diubah agar melibatkan akademisi dan lembaga konservasi dalam pengambilan keputusan. Pemerintah harus mengesampingkan kepentingan ekonomi demi ruang hidup yang berkelanjutan. Toh, pada akhirnya pandemi menyambar sektor ekonomi yang membuat banyak negara diambang resesi.

Tapi pemerintah nampaknya tak menyadari bahwa yang paling terdampak pandemi ialah kelompok miskin. Yang dilakukan justru melontarkan pernyataan-pernyataan lucu dan absurd alih-alih bertindak cepat memulihkan keadaan.

Di tengah pandemi ini pula semakin kentara ketimpangan yang dirasakan masyarakat. Ada suara lantang menyuarakan keadilan, malah dipenjarakan. Kalau pemerintah termasuk percaya sains, kenapa tak mengindahkan ilmuwan?

Rio Novianto
Mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta Aktif di LPM Pabelan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.