OUR NETWORK

Menjadi Perempuan di Era Revolusi Industri

Jalan mana yang terbuka dan terhalang bagi perempuan di zaman sekarang

Kehidupan perempuan dewasa ini seolah tercebur dalam proses menuju pemulihan mitos feminisme yang sebenarnya sedang gencar menyatakan diri. Keinginan untuk menjadi setara dengan jenis kelamin lainnya menjadi kondisi absolut, di mana perempuan adalah makhluk bebas dan otonom seperti manusia lainnya dengan tipe bertahan atau maju dalam fondasi sosial.

Namun apakah dengan begitu seorang manusia dalam posisinya sebagai perempuan dapat memperoleh kepuasan diri? Jalan mana yang terbuka dan terhalang bagi perempuan di zaman sekarang? Tidakkah perempuan yang hanya tinggal di rumah jauh lebih bahagia daripada mereka yang memiliki pilihan lain? Apakah seorang pembantu rumah tangga tidak lebih senang hidupnya daripada perempuan pekerja?

Terlalu banyak pertanyaan hal fundamental yang harus di jelaskan. Di sini istilah senang dan bahagia tidak jelas definisinya, namun nilai kebenarannya pun bisa di alami siapapun. Mengukur kebahagian orang lain memang tidak mungkin.

Tapi, selalu mudah menggambarkan keadaaan senang dalam situasi di mana orang berharap untuk menempatkan diri. Perempuan yang terjebak stagnasi, perempuan dinamis, serta perempuan yang memperjuangkan emansipasi, mereka seharusnya lebih dari menjadi sosok yang bahagia, tapi sosok yang merdeka.

Kejelasan bahwa sebenarnya nasib perempuan ditentukan oleh lebih dari jenis kelamin saja. Sebagian besar orang yang hampa nalar terkadang masih menerapkan kesenjangan-kesenjangan kuno dengan persoalan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah, alangkah bijak memikirkan kembali dalam konteks yang lengkap dan membuang jauh-jauh kategori lebih tinggi atau lebih rendah, perempuan atau laki-laki, dan menggantinya dengan rasionalitas.

Kemudian mengggarap aspek-aspek yang menyebabkan seseorang mengolah kemampuan untuk mewujudkan diri menjadi apa yang sedang dijalani, merayakan prestasi, kemudian menjadi manusia paripurna.

Meskipun tidak semua perempuan menerima diri menjadi perempuan. Bukan berarti beralih menjadi sosok yang lain. Hanya saja menjadi perempuan terbayang dan mungkin terasa merepotkan bagi sebagian orang, seperti ketika sang perempuan menjadi istri duduk diam dirumah, menyiapkan semua kebutuhan suami sebelum ia pergi keluar rumah, hamil lalu melahirkan anak dan mengurusnya dua puluh empat jam, serta senantiasa memenuhi hasrat suami dan selalu ada kapanpun ia dibutuhkan.

Bahkan perselingkuhan, perceraian, beban keluarga, kekerasan rumah tangga, dan sebagainya, seolah terasa perempuan yang memikul hal tersebut dalam alam pikirnya.

Kendati begitu, semua perempuan nyaris memiliki keinginan yang lebih praktis dalam kehidupannya, tak ada standar khusus atau patokan menjadi perempuan harus seperti apa. Menjadi diri sendiri, menjadi apa pun, menjalani yang ada, kemudian melangkah pasti baik persoalan kerja, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Ketika memimpikan kehidupan masa depan, mayoritas perempuan menyebutkan profesi-profesi yang bersangkutan dengan banyak orang. Tetapi mereka menyebutkannya dengan sederhana, menyimpan uang sebanyak mungkin kemudian masuk ke dalam kehidupan kelas menengah dan menghirup popularitas semu dalam ruang tertentu.

Dari segi jumlah, hampir separuh penduduk negeri kita Indonesia adalah perempuan. Hal itu berarti di sini patut disadari bahwa kontribusi perempuan sangat berpengaruh terhadap produktivitas nasional terutama dengan era yang laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kencang.

Adapun jumlah perempuan yang bekerja masih jauh lebih sedikit daripada jumlah laki-laki yang bekerja. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2018 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perempuan yang bekerja 47.945.498 orang, sementara laki-laki yang bekerja 76.059.452 orang.

Keterserapan tenaga kerja ini juga dapat dilihat dari angka Employment to Population Ratio (EPR). Pada Agustus 2018, EPR laki-laki lebih tinggi 1,5 kali dibandingkan EPR perempuan. Artinya jumlah tenaga kerja laki-laki yang terserap di dunia kerja lebih banyak daripada perempuan.

Kemudian keterlibatan perempuan dalam parlemen di Indonesia menurut Badan Statistik Pusat (BPS) dari tahun 2014 – 2018 berada pada persentase yang sama yakni 17.32 %, lain dengan sumbangan pendapatan perempuan dalam kurun waktu 2010 – 2018 yang mengalami peningkatan dalam persentase nya, terakhir pada 2018 yakni 36.70 %. Terdapat banyak data dan angka yang menunjukan kekuatan serta kelemahan seorang perempuan dan laki-laki. Benang merahnya tentu saja terletak pada kinerja tiap individu itu sendiri.

Peralihan kinerja kehidupan manusia saat ini memang mengalami revolusi dalam tatanan kehidupan. Menurut KBBI revolusi merupakan perubahan mendasar dalam suatu bidang. Terkait industri pun, peralihan ini terjadi dari manufaktur tradisional menuju virtual yang kemudian dibangun di atas revolusi digital, serta mewakili cara-cara baru ketika teknologi menjadi tanaman subur dalam tatanan kehidupan manusia bahkan tubuh manusia.

Era yang terus berubah menyebabkan karakter manusia yang hidup ditiap periode secara langsung maupun tidak langsung ikut mengalami perubahan. Kemajuan teknologi dan internet turut serta mengubah karakter tiap generasi. Perubahan kentara sekali pada cara berkomunikasi melalui berbagai media sosial yang di fasilitasi dengan ragam gawai yang canggih. Bahkan sudah menjadi lifestyle bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Akan tetapi, kemunculan teknologi canggih tidak muncul secara serentak di seluruh dunia, bahkan persebaran teknologi dan internet antara kawasan urban dan pedesaan memiliki jurang perbedaan.

Kita berada di tengah-tengah industri 4.0 yang sebentar lagi juga akan di gantikan dengan jenis revolusi lain. Peluang, tantangan, bahkan ancaman yang tidak sedikit ditawarkan oleh revolusi industri tersebut. Namun, untuk merealisasikannya, kita harus sepakat terlebih dahulu dengan bentuk-bentuk risiko yang benar-benar baru.

Menjadi perempuan hari ini dapat dikatakan tidak mudah, namun tidak boleh dikatakan sulit.  Impian perempuan dan khotbah syarat kutuk dalam pergulatan revolusi industri seolah menjadi juru propaganda dalam kehidupan manusia. Padahal kita tidak perlu melakukan hal ihwal yang konon lebih luhur dan mengikuti tren zaman agar menikmati kehidupan.

Kalau begitu, tak ada bedanya manusia yang di budakkan oleh zaman. Kehidupan perempuan sejatinya menolak dikotomi kasar antara jiwa dan raga serta sifat yang merendahkan dirinya. Ketika pada akhirnya menetapkan kebanggaan pada diri sendiri jauh lebih penting di luar perbedaan jenis kelamin saja sudah cukup, sehingga keberadaan kemuliaan dalam kebebasan memilih akan mampu mengidentifikasi sejarah pribadi siapapun.

Maka hanya perempuan merdeka yang sama dengan sukses dapat mengolah masalah, kebingungan, harapan dan kehidupan nyata yang dijalani nya. Apa yang pasti dan tak pasti adalah kemungkinan yang terjadi ketika perempuan mengambil kesempatan sesuai minatnya sendiri. Tak ada alasan untuk gelisah. Tak ada alasan untuk khawatir. Segalanya dapat berlanjut sebagaimana semestinya bagi para perempuan dengan tulus dan baik hati, seperti yang diungkapkan oleh Estee Lauder “I never dreamed about succes, I worked for it”.

Perempuan biasa, suka membaca, dan moodswing

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…