Rabu, April 14, 2021

Menitipkan NKRI Kepada Santri

Untuk Hukum yang Berperspektif Gender: 80 Juta Bisa Buat Apa?

Meme dan joke tidak lucu, seperti "80 juta buat apa" bertebaran di sosial media. Komentar-komentar pedas dan kejam yang merendahkan martabat perempuan diikuti gelak...

Puasa dan Kuasa

Ramadhan merupakan bulan kebaikan dan pahala. Euforia Ramadhan disambut secara meriah dan serentak mulai dari pelosok desa sampai penjuru kota. Sebagai bulan yang penuh...

Dan Ibadah Qurban Pun Dipolitisasi!

Umat Muslim di seluruh dunia dalam hitungan hari ke depan akan merayakan sebuah hari besar, yaitu Idul Adha 1439 H. Idul Adha merupakan penanda...

Mendamaikan Fundamentalisme Islam dan Sekulerisme

Dinamika politik kontemporer, seolah menciptakan benturan antara Pancasila sebagai narasi kebangsaan, dan Islam sebagai narasi agama. Bagi mereka yang menggunakan Pancasila sebagai alat politik,...
rosidi bahri
santri indonesia

MENITIPKAN NKRI KEPADA SANTRI

Oleh: Rosidi Bahri, Santri Asli Sumenep

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke berbagai Pondok Pesantren di Indonesia yang dikemas dengan beragam acara, membuktikan keinginan Jokowi untuk tetap tampil dan bersama dengan masyarakat akar rumput yang selama ini menjadi icon dari sosok presiden ke-6 ini. Silaturrahim yang dilakukan ini tentu berkaitan erat dengan keinginan beliau untuk tampil kembali di konstelasi Pilpres 2019 nanti. Mengingat sampai sejauh ini, hasil survey masih menjagokannya di atas tokoh-tokoh yang lain.

Tidak kalah penting dari hal itu, silaturrahim ini sudah pasti pasti akan mencounter isu-isu miring yang dialamatkan kepada Jokowi. Seperti issue keberpihakan Jokowi kepada asing, kriminalisasi ulama dan umat islam, bahkan tidak sedikit yang mengait-ngaitkan Jokowi dengan PKI.

Namun, tulisan ini tidak untuk mengkritisi lebih jauh apa sebenarnya misi silaturrahim Pak Presiden, penulis sebagai alumni pesantren, memegang teguh prinsip untuk mengedepankan husnuddzan terhadap apapun yang dilakukan orang lain. Lebih-lebih kepada tamu yang nyata-nyata hendak bersilaturrahim.  

Hari ini (08/10/2017), Pak Jokowi melanjutkan agenda silaturrahimnya dengan mengunjungi tiga pondok pesantren sekaligus di Kabupaten  Sumenep Madura. Yaitu Pondok Pesantren Annuqayah, Al Amin, dan Al Karimiyah. Seperti biasanya, grand tema yang beliau sampaikan adalah ajakan untuk  sama-sama peduli dalam menjaga keutuhan, kesatuan dan kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan tema ini  Presiden meyakini, bahwa kemajemukan ini akan tetap berlangsung aman dan damai hanya jika ada kepedulian yang tinggi dari masyarakat pesantren.

Keyakinan ini  sangatlah berdasar, mengingat fakta sejarah bahwa berdirinya negara ini merupakan hasil perjuangan leluhur para santri. Bukanlah sesuatu yang sulit untuk membaca fakta sejarah perjuangan kaum santri dalam membela dan menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang tertuang dalam buku Masterpice Islam Nusantara, karya Gus Zainul Milal, bahwa pondasi berdirinya NKRI adalah hasil jihad dan ijitihad para kiai yang kemudian menjadi kaidah perjuang hubbul wathan minal iman. Bahkan, tidak akan pernah terdengar pekikan takbir Bung Tomo, seandainya tidak ada seruan dari hadlaratul al syaikh Hasyim Asy’arie.

Disebutkan juga dalam buku ini, perjuangan para kiai melawan penjajah tidak semata-mata karena penindasan dan kekejaman yang dilakukan oleh penjajah. Lebih dari pada itu, kekuatan kiai dan para santri menjadi satu padu karena ikatan emosional yang sangat kuat, hal itu karena adanya kesinambungan sanad keilmuan diantara para kiai, yang sampai saat ini tetap terjaga dengan baik. Sehingga gerakan yang dilakukan santri akan lebih mudah dikendalikan. Apalagi dalam tradisi pesantren, ketaatan kepada guru dan kiai adalah harga mati.

langkah dan kebijakan politik yang diambil oleh Jokowi dengan menitipkan NKRI kepada santri adalah keputusan yang sangat tepat. Apalagi  diwaktu yang bersamaan, sebagian umat Islam Indonesia sudah banyak yang mulai terbawa arus issue sempalan yang digembar-gemborkan oleh gerombolan islam transnasional. Maka menitipkan NKRI kepada santri, sama halnya dengan mengembalikan kepercayaan dan amanat para leluhur yang menjadi pelopor berdirinya negara Indonesia, yang selajutnya akan terus diperjuangkan, diajaga, oleh para santri.   

rosidi bahri
santri indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.