OUR NETWORK

Menimbang Film Bumi Manusia

Benar adanya bahwa seorang penulis bebas untuk menulis apa saja, sebagaimana seorang sutradara juga bebas untuk memilih tokoh dan mewujudkan film sesuka dia. Tapi seorang penulis dan sutradara yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tentu akan sangat menghargai para pembaca dan penontonnya dengan tetap menghadirkan nilai dan makna terbaik dari sebuah karya.

Pertanyaan pertama yang harus diajukan untuk menimbang sebuah film adalah, untuk apa sebuah film diproduksi? Menarik untuk menyimak pakar antropologi berkelas internasional yang banyak melakukan kajian atas film yaitu Prof Ariel Heryanto PhD.

Kata beliau, “sebuah film diproduksi dengan biaya yang sangat besar. Sehingga otomatis film diproduksi adalah untuk menangguk keuntungan”. Sehingga hampir selalu nilai-nilai yang ditawarkan dalam sebuah film adalah nilai-nilai yang sudah pasti berlaku di masyarakat. Karena para pembuat film ingin filmnya laku.

Artinya singkat bisa dikatakan bahwa film adalah bisnis. Dan algoritma yang berlaku dalam bisnis adalah bagaimana menangguk untung sebesar-besarnya.

Sekarang coba kita bandingkan dengan seorang penulis idealis bernama Pramoedya Ananta Toer. Kita coba berimajinasi mengapa Pram menulis Bumi Manusia, yang merupakan bagian pertama tetralogi.

Rasanya hampir tak mungkin jika penulis yang berkali-kali dinobatkan dalam Nobel tersebut menulis Bumi Manusia semata-mata untuk bisnis atau menangguk keuntungan pribadi. Kenapa tidak mungkin, setidaknya ada beberapa alasan, pertama, tema yang diusung Pram tidak adalah tema tidak populer bahkan membahayakan diri dan nyawanya. Hal ini terbukti bisa kita lihat bagaimana pemerintahan Orba melarang Bumi Manusia.

Kedua, Pram menulis Bumi Manusia karena sebuah tanggung jawab eksistensial beliau sebagai seorang anak bangsa. Pram ingin anak bangsa mengenal sejarahnya. Bahwa ada tokoh-tokoh penting bangsa ini yang dilupakan oleh sejarah dan oleh sistem yang berkuasa.

Begitu dahsyatnya komitmen tanggung jawab Pram terhadap bangsanya melalui jalur sastra, bisa kita lihat bahwa Bumi Manusia telah diceritakan secara lisan pada tahun 1973 oleh Pram kepada sesama tawanan politik di Pulau Buru. Baru kemudian Bumi manusia dituliskan tahun 1975. Meminjam bahasanya Nietzsche, Bumi Manusia tidak ditulis oleh Pram dengan tinta biasa. Tapi ditulis dengan darah dan diri penulisnya.

Dengan membandingkan bagaimana algoritma yang beroperasi di balik pembuatan sebuah film diproduksi dan bagaimana sebuah novel bernama Bumi Manusia ditulis oleh Pram, maka kita akan dapat berpikir kritis. Dan tentunya juga kita akan bisa mengelola ekspektasi terhadap film Bumi Manusia nantinya. Meski harus segera aku sampaikan pula bahwa tidak bisa dipungkiri memang ada juga film-film idealis yang memiliki semangat untuk memajukan masyarakat dan bangsanya. Sebagaimana semangat Pram dalam menulis Bumi Manusia.

Tapi pertanyaanya apakah spirit Pram dalam menulis Bumi Manusia, apakah juga dimiliki oleh orang-orang yang bekerja memproduksi film Bumi Manusia, tentu hanya mereka yang bisa menjawabnya. Dan publik nantinya akan menilai dari karya yang mereka ciptakan.

Tapi pemilihan Iqbal yang sukses dengan film Dilan, tentu tak bisa dipisahkan dari algoritma bisnis karena Dilan berhasil meraih rekor jutaan penonton. Artinya pertimbangan bisnis adalah panglima.

Sang sutradara film Bumi Manusia, Mas Hanung Bramantyo, seperti dikutip para wartawan di Jogja tanggal 24 Mei 2018 menyatakan bahwa dipilihnya pemeran Dilan untuk memerankan Minke adalah sebagai berikut:

“Saya membangun persiapan untuk mewujudkan buminya manusia di era 1800-an ketika kata-kata modern baru pertama kali muncul. Sekarang, tidak hanya modern yang muncul di sini, tetapi milenials. Kalau dibaca kembali milenials dan modern itu hal yang sama. Mawar dan Iqbal adalah generasi milenial yang mengalami gegar kebudayaan. Dulu anak-anak menjadi Eropa, sekarang menjadi global. Itulah yang terjadi pada milenials. Jadi saya tidak perlu memberi buku yang tebal, tinggal saya kasih baju; itulah Minke dan Annelies

Nampak dari pernyataan Mas Hanung, beliau melakukan simplifikasi atas sosok Minke. Sehingga menjadi demikian simple saja adanya. Bahwa Minke cukup digambarkan dia mengalami gegar budaya Eropa, dia berbicara bahasa Belanda, dia berusia 20 tahun. Sehingga dipilih Iqbal yang berusia kurang lebih seusia Minke di Bumi Manusia dan juga bahwa Iqbal punya pengalaman belajar di Amerika Serikat. Mas Hanung agaknya lupa bahwa Minke melakukan perlawanan yang luar biasa terhadap budaya Jawa yang bahkan disimbolkan dengan melawan orang tuanya sendiri.

Minke bukan saja gegar terhadap budaya Eropa lebih dari itu Minke melakukan perlawanan yang luar biasa terhadap Eropa. Para pembaca Bumi Manusia tentu akrab dengan kata-kata penutupnya, “Kita kalah, Ma” kata Minke kepada Nyai Ontosoroh yang kemudian dijawab oleh Nyai, “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya”.

Artinya, Minke adalah simbol heroisme manusia bebas, manusia otentik, otonom dan mandiri yang berani melawan budayanya sendiri dan juga hegemoni budaya global Eropa. Minke juga simbol perlawanan kelas melalui semangat ilmu pengetahuan dan sastra.

Benar adanya bahwa seorang penulis bebas untuk menulis apa saja, sebagaimana seorang sutradara juga bebas untuk memilih tokoh dan mewujudkan film sesuka dia. Tapi seorang penulis dan sutradara yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tentu akan sangat menghargai para pembaca dan penontonnya dengan tetap menghadirkan nilai dan makna terbaik dari sebuah karya.

Film bagaimanapun bukan semata sebuah hiburan. Bukan semata-mata yang penting semua penonton senang, semua bisa tertawa. Tapi sebagaimana kata Theodor W Adorno, film mengandung muatan-muatan ideologi tersembunyi yang di dalamnya dia mengajarkan bagaimana kita melihat diri kita sendiri, ada upaya indoktrinasi halus yang dikandung dalam sebuah film.

Dan akhirnya, aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Slavoi Zizek, Film tidak memberikan apa yang kita hasrati, tetapi menciptakan hasrat atau membentuk cara bagaimana kita menghasrati sesuatu.

Artinya dalam konteks ini, film Bumi Manusia kemungkinan memang tidak akan memuaskan hasrat kita dalam merindukan Minke dalam wujud visual, tapi ia justru berupaya memberikan pesudo guidance kepada para pembaca novel Bumi Manusia bagaimana rupa Minke.

Maka tidak perlu heran jika nantinya bisa saja terjadi, edisi novel Bumi Manusia berikutnya akan memasang wajah “Dilan”, sebagaimana dulu wajah Nicholas di cover bukunya Gie. Maka bisakah atau relakah Anda semua membayangkan “Dilan” di Sampul Bumi Manusia?

Penulis (Embun Kerinduan), Bergiat di Rumi Institute Jakarta & Center of Living Islamic Philosophy Jakarta IG: raewellmina / FB: rae wellmina / Twitter : @RaeWellmina / Youtube : Rumi Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…