Rabu, Maret 3, 2021

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Toxic Behavior di Tempat Kerja

Apa itu toxic behavior (perilaku beracun) dan kenapa perlu diidentifikasi? Perilaku beracun dapat muncul di organisasi apa pun, dari organisasi kecil hingga besar. Secara umum, perilaku...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Kampus "Kesadaran dan keberpihakan"

Kampus merupakan tempat dimana kita berproses untuk mencari jati diri, belajar dan berjuang serta menjadi tempat berinteraksinya para generasi muda. Sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat...

Fatwa MUI Kota Bandung dan Warga Tamansari

MUI Kota Bandung mengeluarkan fatwa bahwa pengungsi penggusuran sewenang-wenang Tamansari dilarang untuk menempati masjid. Fatwa itu dikeluarkan sejalan dengan dimanfaatkannya masjid oleh pengungsi yang...
Fathan Noer Aprianto
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Jurusan Broadcasting

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke dalam kelompok Neo-Nazi. Di debut layar lebarnya ini, Daniel Ragussis berhasil mengemas pola cerita tadi menjadi sebuah sajian undercover thriller. Mementaskan salah satu realita kehidupan yang keras, dengan membawa karakter utama yang terjebak di dalam sarang musuh. Semakin jauh karakter utama berusaha untuk keluar dalam kelompok, semakin dalam ikatan yang terjalin dengan kelompok Neo-Nazi tersebut.

Film ini bercerita tentang seorang Agen Federal Bureau of Investigation (FBI) bernama Nate Foster (Daniel Radcllife) yang ‘menyusup’ ke beberapa kelompok ekstrimis kulit putih Neo-Nazi demi melakukan tugasnya. Tugas tersebut diperintah oleh atasan nya, yang bernama Angela (Toni Collete). Angela menduga, para kelompok Neo-Nazi akan melakukan teror bom kimia, demi melancarkan tujuan kelompok mereka.

Dengan begitu, Angela memerintahkan Nate Foster untuk segera menyusup ke kelompok Neo-Nazi tersebut, untuk mencari informasi tentang bom kimia yang mereka rencanakan. Demi melancarkan misinya, Nate Foster dibekali oleh Angela tentang pengetahuan para kelompok Neo-Nazi. Nate disuruh untuk membaca sejumlah buku tentang mereka, bahkan Nate pun merubah total penampilannya. Dimulai dengan memangkas rambut dengan gaya skinhead, memakai sepatu boot, dan mengenakan jaket bomber agar penyamaran sebagai ekstrimis kulit putih terlihat meyakinkan.

Kelompok ekstrimis kulit putih pertama yang Nate masuki bernama Panzer Strikeforce. Kelompok ini berisi para brandal-brandal yang sering melakukan tindakan-tindakan rasis dan diskriminasi terhadap orang Yahudi dan orang kulit hitam. Mereka sangat menolak keberadaan orang-orang Yahudi dan orang kulit hitam di negara mereka.

Dalam salah satu adegan di film, tindakan diskriminasi ras yang mereka lakukan adalah mereka mengintimidasi pasangan Interacial, dan hampir saja membunuhnya. Mereka menganggap wanita kulit putih, ras Arya, tidak boleh berpasangan dengan ras lain selain dari ras mereka. Supremasi kulit putih sangat ditonjolkan dalam adegan ini.

Mengutip Alo Liliweri dalam Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur (2005), asal mula istilah ras diketahui muncul sekitar tahun 1600. Saat itu, Francois Bernier, pertama kali mengemukakan gagasan tentang pembedaan manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit dan bentuk wajah. Di negara multikultur konflik antar ras sudah mendarah daging dimana isu-isu rasial tidak bisa dihindari karena masalah masalah paham atau ideologi sangat sulit ditanggulangi oleh negara multikultur yang menjungjung tinggi kebebasan berpikir dan berpendapat.

Setelah selesai berurusan dengan Panzer Strikeforce, dan berakhir tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang bom kimia, Nate memasuki kelompok kedua yaitu Aryan Alliance. Berbeda dengan Panzer Strikeforce, Aryan Alliance adalah kelompok ekstrimis kulit putih yang besar. Mereka sangat terorganisir dengan rapih serta memiliki markas besar di beberapa wilayah.

Bahkan, dalam berpakaian pun, mereka menggunakan seragam para militer nazi, lengkap dengan lambang Swastika, yang dikenal dengan simbol nazi. Tak hanya dalam pakaian, mereka juga menggunakan sapaan nazi untuk menyapa sesama anggota kelompok mereka. Sapaan itu berbunyi “Sieg hail” dan dilakukan dengan mengulurkan lengan kanan dari leher ke udara dengan tangan diluruskan.

Pada dasarnya, para kelompok kulit putih, mengklaim bahhwa ras Arya yang menciptakan peradaban di bumi, dan mereka yang paling unggul diantara ras-ras lain. Para kelompok kulit putih ekstrimis menyebut diri mereka sebagai Sturmabteilung (Militer Nazi) yang berarti prajurit yang mempunyai daya pikir sendiri dan bertindak atas keinginan diri sendiri tanpa ada paksaan. Dengan begitu, mereka menyalahkan orang-orang Yahudi dan sekaligus menganggap bahwa orang Yahudi menguasai ekonomi negara mereka. Bagi mereka, orang yahudi dan orang kulit hitam tidak berhak mendapatkan pekerjaan yang layak di negara mereka.

Menurut Farid Hamid Umaerla dalam jurnal berjudul “Representasi Ideologi Supremasi Kulit Putih dalam iklan televisi yang dimuat dalam jurnal ProTV No.1 Vol. 4 Tahun 2020  Supremasi putih digunakan untuk menandakan sebuah kepercayaan filosofi yang mengganggap orang kulit putih tidak hanya superior terhadap yang lain, tetapi juga harus berkuasa atas mereka atau bahkan boleh membinasakan orang non kulit putih.

Di akhir film Imperium ini, menampilkan pidato dari pemimpin kelompok ekstrimis kulit putih, Dallas Wolf, yang mengatakan, “Keanekaragaaman (Diversity) adalah satu kata yang merupakan sebuah kode, dan artinya adalah genosida bagi kaum kulit putih” bagi mereka keberagaman membuat ras kulit putih akan punah, dimana nantinya akan terjadi banyak perkawinan antar ras yang membuat ras kulit putih asli semakin menurun.

Fathan Noer Aprianto
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Jurusan Broadcasting
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.