Sabtu, Januari 16, 2021

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Ibadah Umroh dan Industri Religiusitas

Pemahaman tentang agama selama ini hanya dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya doktrinal dan ideologis. Tetapi dalam perspektif sosiologis, agama muncul dalam bentuk material di...

Pemahaman Mahasiswa Indonesia Menggunakan Literasi Bahasa Inggris?

Bahan ajar adalah salah satu factor yang mempengaruhi hasil pembelajaran (Yuni 2016). Bahan literasi untuk pembelajaran biasaya dapat berupa modul, jurnal, maupun artikel ilmiah....

Student Loan, Bukti Adanya Komersialisasi Pendidikan

Jemari saya gatal rasanya untuk menulis ketika membaca artikel hasil dibagikan oleh salah satu kawan saya di salah satu grup media sosial. Artikel yang...

Mencari Muara Perppu Ormas

Pemerintah menerbitkan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat. Pandangan umum melihat bahwa Perppu Nomor 2/2017 ditujukan untuk membubarkan kelompok...
Hidayat Doe
Peminat isu hubungan internasional, alumnus Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin, Makassar

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk bepergian ke AS atas undangan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph F Durford dalam acara Chiefs of Defence Conference on Countering Violent Extremist Organzation pada 23-24 Oktober di Washington DC.

Pencekalan terjadi menjelang Panglima Gatot bertolak ke AS pada Pukul 17.00 WIB Sabtu sore melalui maskapai penerbangan Emirates dengan nomor penerbangan EK 0357. Penolakannya begitu mendadak, saat Gatot hendak akan check in di Bandara.

Insiden ini begitu misterius. Negara sekelas Amerika yang notabene sangat canggih kemampuan intelijennya tiba-tiba mencekal seorang petinggi militer Indonesia yang jelas-jelas telah mengantongi visa keberangkatan ke AS.

Daya tangkal, antisipasi, serta kontra informasi intelijen AS memang tak diragukan kecanggihannya. Semua informasi yang terkait dengan keamanan AS pastinya bisa ditelisik serta ditangkal lebih cepat oleh dinas intelijen Amerika. Namun, mengapa Panglima Gatot yang praktis tak ada masalah dengannya mendadak dicekal? Apatah lagi, kehadiran Gatot Nurmantyo ke AS tersebut atas undangan resmi dari Panglima Bersenjata Amerika.

Jenderal Gatot pun telah beberapa melakukan perjalanan ke negeri Paman Sam. Terakhir kali, Gatot mengunjungi negeri adidaya itu pada Februari 2016 lalu. Lantas, mengapa kali ini ia ditolak secara tak elegan di bandara?

Itulah tanda tanya kita pada insiden diplomatik tersebut. Jawaban atas teka teki itu bisa terungkap setelah perwakilan resmi Amerika sendiri memberikan penjelasan atau klarifikasi yang jelas terhadap insiden pencekalan Jenderal Gatot. Sayangnya, sejauh ini, hingga Senin 23 Oktober 2017, Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph Donovan baru menyampaikan permohonan maaf atas kejadian itu.

Padahal, penjelasan soal kenapa Jenderal Gatot sempat dicekal penting dilakukan oleh pihak otoritas AS untuk menghindari munculnya beragam spekulasi. Meskipun pada akhirnya Jenderal Gatot diijinkan memasuki wilayah Amerika, namun ketiadaan penjelasan yang  serius dari pihak berwenang AS atas pencekalan tersebut bisa memicu ketegangan baru antara Indonesia dan AS.

Bagi pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Indonesia, meminta klarifikasi dan penjelasan dari otoritas AS itu sudah cukup dan tepat. Pemerintah merasa tak punya alasan kuat untuk membuat nota protes diplomatik kepada pihak Kementerian Luar Negeri AS. Hal itu untuk menjaga  hubungan Indonesia dan Amerika agar tetap mesra. Apalagi keduanya telah menjalin hubungan kemitraan komprehensif sejak tahun 2010.

Kerja sama komprehensif Indonesia-AS dalam bidang politik dan keamanan, ekonomi dan pembangunan, sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi ini penting dijaga, dan bahkan bisa dikembangkan menjadi kemitraan komprehensif strategis. Dalam bidang politik dan keamanan, misalnya, Indonesia sangat membutuhkan Amerika untuk mengimbangi kebijakan ekspansif China di kawasan Asia Tenggara. Dimana China berlaga makin agresif di kawasan Laut China Selatan.

Wilayah Laut China Selatan memang lagi memanas, menyusul belum jelasnya garis perbatasan antara wilayah kedaulatan China dengan sejumlah negara ASEAN, termasuk Indonesia di kepulauan Natuna. Sehingga hubungan RI-AS penting dipelihara untuk mengkaunter kebijakan luar negeri China yang ekspansif dan agresif di wilayah regional ASEAN.

Selain itu, kerja sama keamanan dan militer Indonesia-AS masih sangat diperlukan di tengah mencuatnya isu terorisme dan keamanan nasional. Sebagai contoh, Indonesia masih membutuhkan latihan-latihan kemiliteran yang diikuti oleh anggota militer Indonesia di negeri Paman Sam demi memperkuat kapasitas, profesionalitas tenaga militer dan pertahanan nasional kita. Belanja Alutsista (alat utama sistem persenjataan) Indonesia ke Amerika juga masih dilakukan, selain juga membuka kerja sama dengan Rusia di bidang militer dan keamanan.

Karenanya, masalah insiden pencekalan Jenderal Gatot di bandar udara Soekarno-Hatta diprediksi tak akan membuat pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah yang bisa merusak hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat. Terlebih, politik luar negeri Indonesia pada masa pasca reformasi, sikap konfrontasi nyaris tidak pernah ditunjukkan oleh pemerintah kepada negara manapun. Bahkan, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia menganut prinsip zero enemy thousand friends. Di masa pemerintahan Jokowi-JK, prinsip tersebut masih dipegang namun ditekankan pada penguatan diplomasi ekonomi dan peran Indonesia di berbagai forum internasional, 

Politik Luar Negeri yang Ramah dan Santun

Argumentasi inilah yang barangkali menjadi alasan mengapa Indonesia bersikap dingin menghadapi pencekalan Jenderal Gatot. Pemerintah pun akhirnya cenderung tidak ngotot untuk mendesak AS memberikan penjelasan motif di balik pencekalan Jenderal Gatot.

Pemerintah Indonesia tampaknya merasa cukup hanya dengan permintaan maaf dari Kedutaan Besar Amerika di Indonesia atau dari Kementerian Luar Negeri AS di Washington DC. Sikap Indonesia dalam menghadapi negara mitra memang selalu ramah dan santun. Apalagi mitra sekelas AS yang adidaya. Pemerintah tentu tak bernyali untuk berkeras kepada AS.

Padahal, jika ditilik lebih jauh, posisi tawar Indonesia di mata AS sebenarnya lebih kuat. Amerika-lah yang sangat berkepentingan besar dengan Indonesia. Sekali pun pemerintah keukeuh meminta penjelasan soal pencekalan Jenderal Gatot, AS tak akan keberatan dengan hal itu. AS pastinya tidak rela merusak hubungannya dengan Indonesia. Ingat, negeri ini adalah negara muslim terbesar di dunia. Indonesia juga negara demokrasi ketiga sesudah AS dan India. Indonesia juga adalah negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, setelah, China, India, dan AS sendiri. Indonesia juga adalah negeri yang punya sumber kekayaan alam melimpah yang di dalamnya banyak bercokol perusahan-perusahan multinasional asal Amerika Serikat.

Namun, dalam banyak kesempatan, pemerintah amat jarang menunjukkan posisi tawarnya. Sehingga, ketegasannya di mata negara-negara besar, seperti Amerika Serikat selalu urung. Indonesia seolah-olah negara yang lemah, tak punya wibawa, dan kehormatan untuk “unjuk gigi.”

Karena itu, berharap tegas pada Amerika soal motif mengapa Jenderal Gatot dicekal barangkali tak masuk di akal. Negeri jiran, Malaysia, saja yang barangkali kekuatan militernya di bawah kita, pemerintah selalu bersikap ramah dan santun atas tindakan mereka yang kerap memandang remeh serta merendahkan Indonesia.

Inilah sikap politik luar negeri Indonesia yang selalu ramah, santun, dan baik hati kepada sesama negara mitra.   

Hidayat Doe
Peminat isu hubungan internasional, alumnus Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin, Makassar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.