Minggu, Januari 24, 2021

Menilai 3 Tahun kerja Puan Maharani, Luar Biasa!

Politik Anak Muda dan Demokrasi Kita

Mebicarakan peranan anak muda di Indonesia dalam konteks politik saat ini memang tidak bisa terlepas dari pembahasan proses perjalanan sosio-hisotrisnya. pasalnya, pemuda merupakan golongan...

Jangan Menghakimi ? Bolehkah Orang Kristen Melakukannya ? (2)

Yesus sama sekali tidak melarang untuk menghakimi, hanya saja untuk menghakimi itu tidak sembarangan. Sejak ayat pertama dari pasal ini, Yesus memberi peringatan untuk...

Menempatkan Identitas Perempuan di Tengah Wabah

Hidup diawali dengan menghirup udara dan diakhiri dengan mengembuskan udara. Maka proses bernapas yang dilakukan merupakan peringatan nyata bahwa hidup begitu singkat. Sesingkat jeda...

Pentingnya Sistem Mitigasi Pra-Bencana di Indonesia

Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia mengalami ribuan kali bencana gempa bumi, baik skala besar maupun kecil. Karena Indonesia berada di jalur gempa teraktif...
Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...

Membaca judul ini, mungkin sebagian orang (terutama yang kurang banyak membaca berita) akan terkejut, heran, dan terkaget-kaget. Apalagi jika dalam pikirannya sudah ada “penilaian mutlak”, bahwa Puan Maharani tidak bekerja, titipan, dan tidak menggebrak. Tapi, judul ini dibuat berdasarkan fakta, angka yang berbicara. Setidaknya, itu lebih objektif dibandingkan dengan penilain subjektif, yang biasanya didasarkan pada kasus per kasus.

Karena Puan Maharani “membersamai” Jokowi-JK dan tergabung dalam Kabinet Kerja sejak pertama kali dibentuk, maka menilai Puan Maharani juga menjadi bagian dari penilaian tentang kerja Jokowi-JK.

Berdasarkan angka-angka, data, dan fakta yang telah ditelisik melalui penelitian yang bisa dipertanggung-jawabkan, ternyata selama 3 tahun Puan Maharani menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kabudayaan (Menko PMK) telah dihasilkan beberapa capaian yang luar biasa.

liputan6.com

Beberapa tugas penting yang diembankan kepadanya, berhasil dicapai dengan baik, meski nyaris tanpa pemberitaan yang “menggebrak” seperti Susi Pudjiastuti yang selalu “menjual” keberaniannya menenggelamkan kapal-kapal. Pada konteks ini, kerja Puan Maharani lebih mirip menteri dari kalangan profesional ketimbang menteri yang berasal dari dunia politik (partai). Fokus bekerja, mencapat target pembangunan yang ditentukan. Soal penilaian, belakangan!

“Secara makro, capaian di bidang PMK meliputi Indeks Pembangunan Manusia, yang meliputi sektor pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, Indeks Gini, dan Program Bantuan Sosial Pemerintah. Selama tiga tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Indeks Kesejahteraan Rakyat meningkat,” ujar Menko PMK saat dalam konferensi pers laporan kinerja capaian tiga tahun bidang PMK, Minggu (22/10) di Kantor Staf Presiden Jakarta (liputan6.com).

Jadi, mari kita mulai membiasakan diri untuk menilai sebuah kinerja berdasarkan data dan fakta, bukan asumsi-subjektif belaka. Jika hal pertama yang menjadi pilihan, maka seharusnya tak perlu ada lagi keraguan untuk mengatakan, bahwa kinerja Puan Maharani selama 3 tahun menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang PMK adalah hebat dan luar biasa. Setidaknya jika berdasarkan pada beberapa fakta berikut ini:

liputan6.com

Pertama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus meningkat, dari 68.9 pada 2014 menjadi 70.1 pada 2016.

Kedua, kesejahteraan masyarakat meningkat. Puan Maharani menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan terjadi seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dari 40 persen masyarakat terbawah. Sementara itu, Program Beras untuk Rakyat Sejahtera (Rastra) diketahui bahwa kemampuan pengeluaran konsumsi penduduk miskin jangka pendek didukung oleh program Rastra dan BPNT yang menjangkau lebih dari 15,5 juta keluarga penerima manfaat (liputan6.com).

Ketiga, angka kemiskinan menurun.  Seperti diketahui, bahwa selama tiga tahun perjalanan pemerintahan, telah berhasil menekan angka kemiskinan, turun dari sekitar 11.25 persen di awal pemerintahan menjadi 10,64 persen di tahun 2017. Keberhasilan ini dicapai, menurut Puan Maharani, dengan meningkatkan cakupan program-program bansos, perbaikan ketepatan sasaran program melalui pemanfaatan data PBDT yang lebih baik.

Keempat, pemerintah telah berhasil menekan ketimpangan pendapatan masyarakat. Koefisien Gini turun dari 0,414 pada September 2014 menjadi 0,393 pada tahun 2017 dan terus turun ke angka 0,393 di Maret 2017.

Kelima, dalam konteks pendidikan, tercatat, Kartu Indonesia Pintar (KIP) telah terdistribusi dengan tepat sasaran kepada lebih dari 17,9 juta siswa. Pemerintah juga telah merehabilitasi 67.253 unit ruang belajar, membangun 1.250 unit sekolah baru dan 27.982 unit ruang kelas baru. Menurut Puan Maharani program Pemberdayaan Masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu meningkatkan penerima Beasiswa Bidik Misi terus meningkat menjadi 340 ribu mahasiswa (2017), merevitalisasi pendidikan vokasi, dimana sejak 2015, orientasi SMK diubah menjadi demand-driven (liputan6.com). Kurikulum dan silabus juga telah diselaraskan sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur serta penyusunan modul pembelajaran untuk 25 kompetensi keahlian.

Keenam, keberhasilan pemerintah yang telah mensertifikasi 395.394 tenaga kerja dan membangun 22 science and techno park sampai tahun 2017 ini. Sedangkan terkait pembangunan desa, Menko PMK menyatakan bahwa Pemerintah telah membangun sebanyak 21.811 unit BUMDes (liputan6.com).

liputan6.com

Semua penjelasan ini berdasarkan data, sebuah fakta, sebagai bagian dari membangun manusia dan kebudayaan Indonesia, yang telah dilakukan oleh Puan Maharani sebagai Kemenko PMK, bekerjasama secara koordinatif dengan Kementeri-kementerian yang ada di bawah garis koordinasinya. Lalu?

 Tak ada kesimpulan lain, bahwa ternyata Puan Maharani mempunyai kinerja dan etos kerja yang tinggi. Hal itu sudah terbukti, telah dirasakan manfaatnya oleh Masyarakat di pelosok negeri.

Indah Sastra D.
Pembaca, dan sesekali menulis saja...
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.