Sabtu, Maret 6, 2021

Mengulang Kemajuan Bangsa Eropa di Indonesia Melalui Agama

Natal, Tahun Baru, Puji-pujian, dan Kembang Api

Umat Kristiani merayakan Hari Natal dan Tahun Baru. Sudah menjadi kebiasaan umum perayaan umat Kristiani ini sering diisi berbagai habitus. Salah satu yang hemat...

Harun Masiku dalam Wajah Pemberantasan Korupsi Kita

Kasus korupsi yang menjerat Harun Masiku sejauh ini tidak menemui titik terang. Secara tiba-tiba, Harun Masiku hilang tanpa diketahui keberadaannya oleh penyidik KPK. Keberadaan...

Bom Hari Ini: Revolusi Kognitif dan Overdosis Imajinasi

Ternyata revolusi kognitif 70.000 tahun lalu yang menurut para pengkaji biologi evolusioner diduga jadi faktor utama sapiens dapat bertahan berkembang-biak dan meninggalkan neandertal dalam...

Fahri Pernah Sebut Jokowi Sinting Karena Tetapkan Hari Santri

Bangga rasanya akhirnya santri diakui dan dibanggakan. Ya, dua tahun yang lalu, pada tanggal 22 Oktober 2015, Jokowi resmi mengeluarkan Keppres nomor 22 tahun...
Hasanul Banna227
Mahasiswa Sosiologi Fisip UIN Jakarta Pecinta Diskusi, Pembenci Tradisi

Beberapa tahun lalu, Indonesia memiliki musim tambahan, musim panas, musim hujan dan musim politik. Setiap musim memiliki fenomenanya masing-masing yang sudah dimaklumi tiap tahunnya. Musim panas dengan kekeringannya, musim hujan dengan kebanjirannya dan musim politik dengan menjamurnya gerakan fundamentalis.

Fenomena-fenomena yang telah disebutkan pasti dianggap sebagai masalah, pun dengan fundamentalisme. Konotasi negatif selalu menghiasi ketika gerakan ini dilakukan, isu perpecahan, intoleransi, rasis sangat inheren dengan gerakan fundamentalis.

Padahal, hari ini kita harus sepakat bahwa gerakan fundamentalis merupakan anugrah yang membuat demokrasi berkembang dan meningkat, bukan malah merosot tanpa kita sadari. Hal ini dibuktikan secara historis bagaimana fundamentalisme berdamai dengan demokrasi di negara maju.

Selain jumlah musim yang kian menyerupai Eropa, gerakan fundamentalis yang menjamur belakangan ini ternyata memiliki pola yang sama dengan Eropa empat abad lalu. Argumen ini didorong oleh penelitian yang dilakukan Michal Walzer (1965) “The Revolution of the Saints”, mencoba membuktikan gerakan fundamentalis dengan demokrasi. Hasilnya, kaum puritanisme berhasil sebagai ideologi transisi yang memiliki sifat fungsional pendorong modernisasi dan demokrasi di kala tata politik masyarakat Inggris saat itu di ujung tombak kehancuran.

Hari ini, warga dunia seakan bersikap ahistoris mengenai hubungan agama (fundamentalis) dan demokrasi, tak terkecuali di Eropa. Kebanyakan literasi bahkan mencoba menilai agama sebagai variabel terkuat penghancur demokrasi dan agama Islam yang paling banyak disalahkan hari ini.

Samuel P. Huntington (1996) menjadi eksponen tesis ketidaklarasan antara Islam dan demokrasi dengan judul bukunya “The Clash Of Civilization” menjelaskan, Islam sebagai tantangan terbesar bangsa barat karena nilai yang dimiliki bertolakbelakang dengan nilai yang kita gunakan hari ini, khususnya dalam sistem demokrasi. Perdebatan antara Islam dan demokrasi kerap mewarnai wacana diskursus, khususnya di dunia negara berkembang.

Aksi bela Islam 411, 212 dan belum lama ini kembali terjadi aksi bela tauhid 211 menjadi pertanda friksi antara agama dan politik belum selesai di Indonesia. Gerakan fundamentalis ini terbukti memberikan efek positif bagi demokrasi kita. Terbukti, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) meningkat dari 70,09 persen menjadi 72,11 persen.

Variabel yang paling meningkat adalah lembaga demokrasi naik 10,44 poin. Tidak heran, karena selama ini gerakan fundamentalis menyuarakan efektifitas kinerja institusi-institusi yang ada dalam negara, semisal menuntut kepolisian memproses kasus penistaan agama. Partisipasi politik juga meningkat drastis. Tahun 2016 di DKI Jakarta hanya 67 persen, sedangkan di tahun 2017 sekitar 77,1 persen. Baik secara langsung maupun tidak, aksi bela Islam menjadi variabel terkuat yang mendorong partisipasi politik di DKI.

Hal itu dilihat dari tingkat pemilih tertinggi berasal dari Kepulauan Seribu sekitar 81,4 persen, tempat di mana Ahok diduga menistakan Al-Quran.  Data di atas menunjukkan bahwa gerakan-gerakan fundamentalis yang dilakukan umat Islam mendorong tingkat demokrasi di Indonesia, bukan sebaliknya.

Data tersebut bukan bermaksud menganjurkan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok fundamental, tapi untuk merapikan konsepsi kita tentang fundamentalisme itu sendiri. Isu-isu intoleran, persekusi, perpecahan bahkan yang lebih ekstrem penegakkan negara Islam (khilafah) di Indonesia sering melekat dalam gerakan fundemantalis.

Persepsi yang buruk menutup kebenaran dan kenyataan dari gerakan ini yang ternyata membuat Indonesia selangkah mendekati Eropa. Tindakan dan sikap yang diambil pemerintah sering kali menguatkan persepsi buruk kita tentang gerakan ini. Hal yang sama dilakukan oleh oposisi, yang terlihat secara laten menunggangi gerakan fundamentalis demi kepentingan politis. Citra buruk yang dibangun oleh media-media tentang gerakan fundamentalis semakin menghantui pikiran kita.

Cara paling tepat mendekonstruksi pikiran tersebut adalah dengan menciptakan independensi dalam gerakan fundamentalis itu sendiri. Eropa berhasil karena gerakannya dimulai dari bawah (bottom-up), sehingga kuat fondasinya. Sedangkan kita memulai dari atas (top-down) sehingga kuat kepentingan politisnya.

Gerakan fundamentalis harus membuktikan independensinya dengan cara memperjuangkan sesuatu yang apolitis. Peran intelektual muslim, ulama dan tokoh agama diperlukan untuk menyusun nilai tersebut. Jadikan agama sebagai alat pembangun bangsa bukan sebagai pemanfaatan untuk kalkulasi politik. Kalau ini sudah dilakukan dan berhasil, maka sejarah kemajuan bangsa Eropa akan terulang kembali di Indonesia.

Hasanul Banna227
Mahasiswa Sosiologi Fisip UIN Jakarta Pecinta Diskusi, Pembenci Tradisi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.