Minggu, Maret 7, 2021

Mengenal Karl Marx Melalui Literasi

Pemindahan Ibu Kota Bukan Sekedar Isu Politik

Pemindahan Ibu Kota Indonesia bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat. Berbagai fakta sejarah menceritakan bahwa Ibu Kota Indonesia pernah berpindah ke daerah Bukittinggi...

Prabowo Sebut Elite Pendukungnya Diancam, Hoaks atau Fakta?

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebutkan bahwa sejumlah elite pendukungnya diancam oleh pihak-pihak tertentu. "Saya sering kedatangan elite entah pakai gelar ini,...

Quo Vadis Masa Depan Ilmu Sosial

Pandangan Saidiman Ahmad yang menampikan analisa kritis atas stereotipe masyarakat yang memandang sebelah mata ilmu sosial sungguh layak dijadikan diskursus tersendiri. Peneliti Politik dan...

Kebebasan Berpendapat dan Taruhan Nyawa

Kembali teror di alamatkan kepada para penggiat atau aktivis, hal ini sungguh menjadi perhatian bersama, mengingat kebebasan berpendapat adalah hal lumrah dilakukan di negara...
Lukman Hakim Dalimunthe
Pendiri sekaligus penggagas Perpus Rakyat

Siapa yang tidak mengenal Karl Marx? Tokoh komunis satu ini telah melahirkan banyak perubahan melalui bukunya yang berjudul “Das Kapital”. Tidak boleh kita pungkiri, bahwa salah satu karya termashur itu menjadi rujukan kalangan pergerakan dalam membela kelas proletar.

Kemarin sore, saya (perpusrakyat) beserta teman-teman pegiat literasi lainnya seperti; Perpustakaan Garuda, Jari Menari, KOMBES, HMI dan beberapa pecinta ilmu lainnya membedah buku “Das Kapital” karangan Karl Marx tersebut yang difasilitasi oleh Omah Literasi.

Momentum ini sangatlah jarang dijumpai di Provinsi Jambi. Setelah lebih dari dua tahun berada di Jambi, baru kali ini saya jumpai ada diskusi pemikiran para tokoh yang ikut serta merubah peradaban dunia.

Tidak tanggung-tanggung, Omah Literasi menghadirkan doktor muda bidang politik yaitu, Dori Effendi, Ph. D. Beliau adalah satu dosen Fisipol Universitas Jambi yang menolak tawaran empat universitas ternama. (Ceritanya).

Karl Marx adalah kita, dia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. Dia adalah salah satu masyarakat kelas menengah di Jerman. Tetapi, ketika ia diusir dari negaranya sendiri, ia menjadi miskin. Istri dan anak nya pun menerima kematian yang diakibatkan kemiskinan itu.

Karl Marx memiliki pemikiran (karya) itu bukan suatu hal mudah, ia menggeluti dan mendalami kesengsaraan kelas proletar yang dikapitalisasi kelas borjuis. Suatu fenomena kehidupan dan penindasan yang sampai saat ini masih langgeng.

Karl Marx memiliki sahabat karib yang menemaninya hingga akhir hayat. Sahabat karibnya bernama Engels. Engels lah yang membiayai semua percetakan buku-buku karya nya. Tanpa Engels, mungkin karya tersebut tidak bisa kita nikmati. Saya ucapkan terima kasih kepada Engels.

Karl Marx hidup melalui hasil penjualan tulisan nya kepada media cetak masa itu. Ia hidup dengan susah payah. Kita lebih parah dari Karl Marx. Kita dari kecil sampai dewasa pun masih meminta kepada orang tua. Mengemis kepada keluarga untuk bisa makan. Dengan dalih “kelaparan”.  Karl Marx tidak melakukan itu, ia mandiri dan mencari kehidupan yang halal untuk dikonsumsi.

Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Marxis, Lenin dan sejenisnya telah diharamkan di negeri ini. Suatu fenomena kebobrokan intelektual. Padahal, apa salahnya mempelajari buku (pemikiran)?

Pemikiran Karl Marx pun tidak bisa diamini begitu saja, ia harus selalu dikritik agar menjadi sempurna. Namanya juga manusia biasa, pasti ada kesalahan. Sudah barang tentu (kritikan) itu sudah dilakukan oleh beberapa kalangan. Seperti lahirnya Neo-Marxis dan lain-lain.

Gaya penindasan di dunia perlahan-lahan berubah, kapitalisme belajar dari kritikan Karl Marx. Membenahi diri agar menjadi sempurna. Banyak negara yang berkiblat pada paham komunis, tapi saat ini sudah berkiblat pada kapitalisme.

Ada empat poin penting yang saya tangkap ketika bedah buku kemarin; 1. Komoditi, 2. Nilai, 3. Uang, 4. Kapital.

Kiranya, ruang-ruang intelektual seperti ini dapat terbuka dan menjamur. Kita membutuhkan diskusi mengenai pemikiran-pemikiran tokoh berpengaruh di dunia. Melalui itu, pemikiran kita pun terbuka. Dapat menerima perbedaan sesuai dengan kodrat Tuhan.

Sembari merubah keadaan ini, ikutlah bergabung dengan kami. Dengarkan keluh kesah (kami) yang kalian anggap “sesat” ini.

Salam Literasi!

Lukman Hakim Dalimunthe
Pendiri sekaligus penggagas Perpus Rakyat
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.