OUR NETWORK

Mengenal Karl Marx Melalui Literasi

Momentum ini sangatlah jarang dijumpai di Provinsi Jambi. Setelah lebih dari dua tahun berada di Jambi, baru kali ini saya jumpai ada diskusi pemikiran para tokoh yang ikut serta merubah peradaban dunia.

Siapa yang tidak mengenal Karl Marx? Tokoh komunis satu ini telah melahirkan banyak perubahan melalui bukunya yang berjudul “Das Kapital”. Tidak boleh kita pungkiri, bahwa salah satu karya termashur itu menjadi rujukan kalangan pergerakan dalam membela kelas proletar.

Kemarin sore, saya (perpusrakyat) beserta teman-teman pegiat literasi lainnya seperti; Perpustakaan Garuda, Jari Menari, KOMBES, HMI dan beberapa pecinta ilmu lainnya membedah buku “Das Kapital” karangan Karl Marx tersebut yang difasilitasi oleh Omah Literasi.

Momentum ini sangatlah jarang dijumpai di Provinsi Jambi. Setelah lebih dari dua tahun berada di Jambi, baru kali ini saya jumpai ada diskusi pemikiran para tokoh yang ikut serta merubah peradaban dunia.

Tidak tanggung-tanggung, Omah Literasi menghadirkan doktor muda bidang politik yaitu, Dori Effendi, Ph. D. Beliau adalah satu dosen Fisipol Universitas Jambi yang menolak tawaran empat universitas ternama. (Ceritanya).

Karl Marx adalah kita, dia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. Dia adalah salah satu masyarakat kelas menengah di Jerman. Tetapi, ketika ia diusir dari negaranya sendiri, ia menjadi miskin. Istri dan anak nya pun menerima kematian yang diakibatkan kemiskinan itu.

Karl Marx memiliki pemikiran (karya) itu bukan suatu hal mudah, ia menggeluti dan mendalami kesengsaraan kelas proletar yang dikapitalisasi kelas borjuis. Suatu fenomena kehidupan dan penindasan yang sampai saat ini masih langgeng.

Karl Marx memiliki sahabat karib yang menemaninya hingga akhir hayat. Sahabat karibnya bernama Engels. Engels lah yang membiayai semua percetakan buku-buku karya nya. Tanpa Engels, mungkin karya tersebut tidak bisa kita nikmati. Saya ucapkan terima kasih kepada Engels.

Karl Marx hidup melalui hasil penjualan tulisan nya kepada media cetak masa itu. Ia hidup dengan susah payah. Kita lebih parah dari Karl Marx. Kita dari kecil sampai dewasa pun masih meminta kepada orang tua. Mengemis kepada keluarga untuk bisa makan. Dengan dalih “kelaparan”.  Karl Marx tidak melakukan itu, ia mandiri dan mencari kehidupan yang halal untuk dikonsumsi.

Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Marxis, Lenin dan sejenisnya telah diharamkan di negeri ini. Suatu fenomena kebobrokan intelektual. Padahal, apa salahnya mempelajari buku (pemikiran)?

Pemikiran Karl Marx pun tidak bisa diamini begitu saja, ia harus selalu dikritik agar menjadi sempurna. Namanya juga manusia biasa, pasti ada kesalahan. Sudah barang tentu (kritikan) itu sudah dilakukan oleh beberapa kalangan. Seperti lahirnya Neo-Marxis dan lain-lain.

Gaya penindasan di dunia perlahan-lahan berubah, kapitalisme belajar dari kritikan Karl Marx. Membenahi diri agar menjadi sempurna. Banyak negara yang berkiblat pada paham komunis, tapi saat ini sudah berkiblat pada kapitalisme.

Ada empat poin penting yang saya tangkap ketika bedah buku kemarin; 1. Komoditi, 2. Nilai, 3. Uang, 4. Kapital.

Kiranya, ruang-ruang intelektual seperti ini dapat terbuka dan menjamur. Kita membutuhkan diskusi mengenai pemikiran-pemikiran tokoh berpengaruh di dunia. Melalui itu, pemikiran kita pun terbuka. Dapat menerima perbedaan sesuai dengan kodrat Tuhan.

Sembari merubah keadaan ini, ikutlah bergabung dengan kami. Dengarkan keluh kesah (kami) yang kalian anggap “sesat” ini.

Salam Literasi!

Pendiri sekaligus penggagas Perpus Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…