Rabu, Oktober 21, 2020

Mengubur Politik Kebencian

Catatan Halaqah Kebangsaan: Menjadi Payung Besar Minoritas

Umat Islam Indonesia harus memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, mampu menjadi payung (pelindung), memberikan kenyamanan, ketentraman dan keamanan bagi kalangan minoritas. Meskipun berbeda suku,...

Anak Muda Itu Konstruksi Sosial

Anak muda tidak lahir dan hidup begitu saja tanpa nilai yang membentuknya. Mungkin sebagian dari kita, meyakini bahwa menjadi anak muda merupakan proses alamiah...

Membela Perppu Ormas: Ketika YLBHI Akan Menggugat Perppu Ormas

“Koalisi masyarakat sipil berencana menggugat perppu ormas ke mahkamah konstitusi.” (Tempo, Minggu, 13 Agustus 2017) Terhadap berita tersebut, Saya tercengang atas sepirit penggugatan perppu ormas. Mereka...

Koperasi, Gerakan Tanpa Refleksi

Banyak yang gelisah kenapa dari dulu jenis usaha koperasi, kalau tidak simpan pinjam ya konsumsi. Belum pernah tersiar ada bisnis kafé, hotel, bengkel, atau...
Nanang Suryana
Masih tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Ilmu Politik FISIP UNPAD. Juga aktif menjadi peneliti muda pada Pusat Studi Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran (PSPK UNPAD)

Peristiwa teror di dua masjid Christchurch kembali menghentak publik. Lebih-lebih, peristiwa itu disinyalir dilatarbelakangi persoalan isu rasial. Supremasi identitas yang menyelinap menjadi sebab tindakan biadab.

Kebencian terhadap yang berbeda bukan sesuatu yang baru dalam sejarah manusia. Namun, mengapa sejarah selalu berulang. Rasa terancam yang dirasa sekelompok manusia, kerap membuat mereka bertindak dengan menanggalkan rasa kemanusiaannya.

Peristiwa Christchurch mungkin hanya puncak gunung es dari kondisi peradaban kita. Saat laju perkembangan zaman berlari begitu cepat, ada banyak ingatan purba manusia yang berhenti karena kadung tertanam dalam: endapan rasa benci yang menunggu waktu untuk keluar memuntahkan lava keputusasaan.

Tragedi Christchurch mengingatkan kita tentang bahaya laten kebencian manusia. Tak mesti berkaca jauh ke New Zealand sebenarnya. Coba saja kita buka rayapan pesan-pesan berantai di grup-grup percapakan maya. Atau, sedikit saja meluangkan waktu mendengar obrolan-obrolan di lingkungan terdekat.

Betapa, hanya karena alasan kebencian, banyak dari kita yang sudah tak mau menimbang benar dan tidak informasi yang didapat. Seumpama kudapan, mentah-mentah saja ditelan. Tak perlu kritis, karena kita tak butuh lagi yang benar, yang kita butuh alasan-alan yang menguatkan rasa benci, juga jiji.

Sialnya, dalam situasi yang sangat kompetitif seperti pemilu, rasa benci itu bukan hanya dirawat, namun difabrikasi. Demi menuju tangga kemenangan, strategi dirancang sampai harus meniupkan angina agar api kebecian semakin membesar. Tujuannya jelas: dengan membeci lawan, pilihan mereka akan berlabuh pada jaring suara yang telah disiapkan.

Bisa dibayangkan betapa banalnya politik kita. Hanya karena soal-soal pertarungan kuasa, pemain politik rela mengoyak jalinan tenun bangsa. Mereka seolah tak peduli jika kebencian semacam ini dapat berubah menjadi tindakan teror, yang mereka butuhkan hanya sebatas kemenangan di palagan politik yang penuh kecurangan.

Demi kekuasaan, manusia rela menanggalkan kemanusiannya. Demi suara, manusia rela melucuti nalurinya. Jika kemenangan politik direbut dengan cara-cara seperti ini, harapan macam apa yang bisa diharapkan ketika mereka berkesemapatan menjalankan kekuasaan.

Bukankan politik sejatinya adalah media mendistribusikan kesejahteraan, tentu kita ridak rela politik dijadikan kendaraan penyebar kebencian.

Demokrasi menghendaki partisipasi. Dari kewarasan publik, saatnya mengumandangkan ajakan mengubur dalam-dalam kebencian. Jika tidak, tak usah berharap kita akan sampai pada cita-cita bernegara. Tak usah berharap kita menjadi Indonesia yang seutuhnya.

Nanang Suryana
Masih tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Ilmu Politik FISIP UNPAD. Juga aktif menjadi peneliti muda pada Pusat Studi Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran (PSPK UNPAD)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.