Minggu, Oktober 25, 2020

Aktivis, Sains, dan Kemajuan Peradaban Manusia

Penolakan Acara Muslim United dan Upaya Deradikalisasi

Tepat hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2019, Yogyakarta digemparkan dengan berita bahwa acara pengajian akbar tahunan ‘Muslim United’ harus dipindah lokasikan dikarenakan adanya mal-administrasi. Opini-opini...

Mbah Moen: Kyai Bangsa Pengayom Umat

Tidak semua orang pintar itu benar, tidak semua orang benar itu pintar. Banyak orang yang pintar tapi tidak benar, dan banyak orang benar meskipun...

Menyematkan Kembali Sebutan Negara Agraris

Indonesia impor beras lagi. Padahal negara yang subur makmur ini, dulu pernah memproklamirkan dirinya sebagai negara agraris atau negara pertanian. Sebutan itu tidak lain...

Stop Persekusi Wartawan

Beberapa waktu lalu kita sering mendengar kabar bahwa persekusi terhadap wartawan kerap terjadi di Indonesia, padahal wartawan memiliki pekerjaan yang amat mulia. Wartawan dalam...
MohAlfarizqy
Political sociology student who interested in the nexus of social movements, democracy and education | IG @moh.alfarizqy

Setiap kali para pejuang HAM dan pembela masyarakat yang tertindas melakukan aksi, ada saja orang yang nyir-nyir:

“Ngapain sih berdiri-berdiri ga jelas,”

“Aduh, ngapain repot-repot,”

“BUBAR WOY!”

Ada yang menganggap kehidupan yang lebih baik memang hanya dapat diwujudkan dengan mengorbankan beberapa orang/lingkungan. Untuk mencapai harga barang yang murah, ya dalam nalar mereka, kita harus merusak alam dan mengacaukan pemukiman penduduk.

Jadi, wajar dalam nalar mereka jika kita harus mengorbankan sebagian hutan yang kita lindungi lalu membuang label “paru-paru dunia”. Kita perlu mengganti julukan itu dengan “kanker dunia” karena asap-asap yang masif itu.

Begitu pun dengan mengusik kehidupan penduduk yang damai untuk menata keindahan di Kota Surabaya. Meski tanpa sosialisasi terlebih dahulu. Begitu pun dengan lahan kosong yang harus diberikan kepada para pengembang sehingga kita kehabisan ruang terbuka hijau. Toh, untuk “kemajuan” dalam kehidupan kita.

Dan oleh karena itu, untuk melahirkan kehidupan yang lebih demokratis dan nyaman ya perlu menculik dan membunuh sejumlah orang. Jadi wajar bagi mereka kalau ada yang namanya pelanggaran HAM. Toh, Hak Asasi ada batasnya. ATAS NAMA KEBAIKAN MAYORITAS, perlu ada yang dikorbankan.

Pertanyaan saya cuma satu: bagaimana bisa semua itu dianggap wajar kalau jelas-jelas itu adalah masalah? Mengganggu kehidupan orang lain, apakah bukan masalah? Menculik, apalagi membunuh, apakah bukan masalah?

Semua itu adalah masalah. Apapun ormas dan agamanya, saya yakin, tetaplah dianggap masalah. Tapi kok bisa masalah diterima begitu saja dan dianggap wajar?

Aktivisme itu awal kemajuan

Kalau pergi ke toko dan beli sekotak susu cair disana, coba baca sesekali kemasannya. Disitu ada tulisan Pasteurisasi, kan? Tau sejarahnya?

Istilah Pasteurisasi itu asalnya dari nama Louis Pasteur, seorang saintis asal Perancis. Sebelum dikenal dalam hal itu, Pasteur menemukan adanya keabnormalan pada fermentasi anggur dan bir.

Temuan masalah itu tidak lantas dia simpan sendiri dan dilupakan. Bukan juga sekedar memaafkan mikroorganismenya. Dia menggunakan ilmu untuk memahami lebih mendalam tentang masalah itu lalu mengajukan penyelesaian masalah.

Penyelesaiannya bermanfaat pada susu yang ada dihadapanmu: dengan memanaskannya pada derajat tertentu, Mycobacterium tuberculosis dan makhluk kecil lainnya hancur.

Berkat Pasteur, orang-orang bisa jualan susu. Dan kamu juga bisa mengonsumsi susu dengan aman. Jadi, ada manfaat berantai yang dapat disebut sebagai amal jariyah.

Bisakah kamu bayangkan apa jadinya kalau ada sekelompok manusia yang tiba-tiba datang, menghina, dan melarang penelitian yang dilakukan oleh Pasteur pada masa itu?

Maka mengonsumsi susu akan dimaknai sebagai menganiaya diri sendiri. Alih-alih menjadi sehat, malah terancam kesehatan dan nyawanya.

Dengan temuan masalah dan penyelesaian Pasteur, manusia bisa melampaui masalah pengonsumsian dan mendapatkan kebaikan yang sangat bermanfaatbagi generasi-generasi berikutnya.

Nah, sejatinya para aktivis tidak jauh berbeda dari Pasteur dan rekan-rekan saintis lainnya. Mereka menemukan masalah, tidak lantas mencatat lalu melupakannya. Menolak lupa.

Masalah dikaji oleh orang-orang yang berilmu, tidak hanya sekedar terjun di lapangan. Seringkali mereka adalah bagian dari beragam lembaga non-pemerintahan dengan fokus yang berbeda.

Kalau setiap penemuan dan pendalaman masalah adalah langkah awal dan (paling) penting bagi perkembangan kehidupan manusia, lantas kenapa aksi para aktivis dihalang-halangi?

Harusnya mereka disambut dengan suka cita, kan?

Aktivis adalah kunci untuk kehidupan yang lebih baik. Aktivis lah yang memberi garis start perbaikan dan pembaharuan pada tatanan sosial-politik kita.

Sebaliknya, orang-orang yang menolak aktivis sama halnya dengan orang yang menolak munculnya teknologi, menolak ilmu baru, menolak keberadaan sekolah dan semua inovasi-inovasi manusia. Karena mereka masa bodoh dengan masalah sosial-politik.

Padahal, sejak SMA selalu diajarkan tentang perumusan masalah sebelum melangkah pada tahap-tahap berikutnya. Kuliah pun begitu. Lomba karya tulis ilmiah juga begitu, dan banyak yang juara dalam lomba itu.

Tapi kenapa sedikit yang menerima aktivisme? Saya curiga ilmu yang didapatkannya itu tidak terserap mendalam dan sekedari dijadikan alat untuk mencapai keuntungan pribadi maupun kelompok kecil.

Alam punya IPA, Masyarakat punya IPS

Setiap kali membaca artikel jurnal ilmiah yang berkualitas baik, saya sering menemukan bagian yang menyatakan kelebihan dan kekurangan penelitian. Lalu disusul oleh masalah-masalah baru yang dapat ditelusuri oleh peneliti berikutnya.

Peneliti dan pegiat pada bidang tersebut meresponnya dengan beragam cara. Ada yang memperdalam masalahnya, ada juga yang membuat model-model penyelesaian masalah (misalnya, pendidikan alternatif untuk memulihkan kejiwaan anak pasca-bencana).

Lebih jauh, ada yang melaporkan penerapan model-model itu untuk dievaluasi dan direkomendasikan pelaksanaannya. Begitu pun harusnya praktik lebih lanjut dari aktivisme.

Kalangan akademisi ilmu sosial dan ilmu politik harus bekerja sama dengan para aktivis untuk mendalami dan menyelesaikan masalah. Nah, kalangan akademis juga jangan terpaku sama CSR dan riset akademis saja. Bekerja sama lah.

Keduanya adalah aset penting yang dimiliki oleh masyarakat sipil. Keduanya tidak perlu takut tak bisa hidup enak. Bekerja sama dengan masyarakat sipil lalu membentuk perekonomian komunitas adalah alternatif yang baik untuk memajukan masyarakat tanpa perlu abai pada ekonomi.

Kalau bukan kepada para aktivis dan akademisi, kepada siapa lagi masyarakat bergantung?

Mereka yang bisanya nyir-nyir sana-sini boleh jadi malah menjaga kerusakan. Ironinya, mereka merasa telah berjasa untuk NKRI.

Jika para pemuda masih merasa bahwa nyir-nyir lalu bekerja pada perusahaan besar/menjadi PNS sudah cukup untuk memajukan Indonesia, meh, pikirkan lagi. Kalian bertolak belakang dengan kemajuan.

Justru para aktivis jauh lebih peduli dengan negara. Jauh lebih peduli dengan masyarakat. Jauh lebih nasionalis. Bukan sekedar hafal Pancasila dan pembukaan UUD 1945. Jadi daripada duduk diam atau bermain gim, lebih baik berdiri setiap kamis untuk mengingatkan dan berkata,

“Indonesia tidak sedang baik-baik saja dan kita perlu segera menyelesaikan segudang masalahnya!”

Kalau bisa, ilmu sosial dan ilmu politik itu dipakai untuk memahami masalah secara lebih mendalam dan rinci serta merumuskan penyelesaian masalah. Sistem alternatif? Kenapa tidak!

Menolak lupa, Merawat ingatan.

MohAlfarizqy
Political sociology student who interested in the nexus of social movements, democracy and education | IG @moh.alfarizqy
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.