Sabtu, Oktober 31, 2020

Menghidupkan Spirit Lebaran

Pekerja Informal di Tengah Gegap Gempita May Day

Pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya kita dan pekerja sejagad memperingati hari buruh atau May Day. Dalam perjalanan sejarahnya, gerakan buruh dan kesadaran berserikat...

KPK yang Independen dan Harun Masiku

Harun Masiku dan lingkaran kejahatan korupsi yang menyeret Wahyu Setiawan, mantan Komisioner KPU-RI untuk kasus suap memperlancar Pergantian Antar-Waktu (PAW) Rizky Aprillia telah memasuki...

Awas, Mafia Korona!

Alam selalu menyajikan dua hal yang bertolak belakang, mungkin juga untuk saling melengkapi: siang-malam, hitam-putih, kaya-miskin, sempit-luas. Begitu juga akibat yang ditimbulkan oleh Covid-19 (Untuk...

Kebijakan Pseudo Populis Ala Anies-Sandi

Kebijakan Pemda DKI Jakarta menjadikan jalan di depan stasiun Tanah Abang sebagai lokasi berjualan bagi pedagang kali lima (PKL) menuai pro dan kontra. Bagi yang...
sigitpriatmoko
Dosen Prodi PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota Departemen Riset dan Kajian Lakpesdam PCNU Lamongan, Ketua komunitas menulis KBM Bojonegoro, Anggota FLP Lamongan, kontributor www.kampusdesa.or.id

Sebagaimana hari-hari besar Islam lainnya, Idul Fitri juga mengalami pendistorsian makna. Spirit agung yang dibawanya banyak dilupakan umat Islam. Akibatnya, lebaran hanyalah seremonial belaka.

Kedatangan lebaran selalu kita sambut dengan gegap gempita. Bahkan jauh-jauh hari persiapan untuk menyambutnya sudah dimulai. Biasanya di separuh bulan Ramadan atau bahkan sebelumnya.

Puncaknya, pada pagi hari tanggal 1 Syawal, umat Islam tumpah ruah di jalan, masjid, musala, lapangan, rumah sanak keluarga dan tetangga. Semua bersuka cita. Semua menjalankan tradisi yang hanya dilakukan setahun sekali. Kontradiksi dan distorsi ini menyebabkan spirit lebaran tak lagi hadir di tengah-tengah kaum muslimin

Sebagai sebuah tradisi, lebaran terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Meski muatan dan spirit yang dibawanya tetap sama, namun dalam tataran praktiknya, lebaran telah banyak mengalami kontradiksi hingga distorsi.

Kontradiksi dan distorsi ini menyebabkan spirit lebaran tak lagi hadir di tengah-tengah kaum muslimin. Jikapun hadir, ia hanya temporal dan seremonial belaka.

Di antara spirit lebaran adalah mengajak umat Islam menjadi pribadi yang sadar diri dan besar hati. Di antara spirit lebaran adalah mengajak umat Islam menjadi pribadi yang sadar diri dan besar hati.

Keduanya merupakan deretan kunci agar umat Islam mampu mencapai goal dari puasa yang telah mereka jalankan selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Goal itu adalah takwa. Sehingga kita benar-benar menjadi pribadi yang fitri (suci).

Lebaran mengajak umat Islam untuk menyadari siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Inilah mengapa ada tradisi mudik pada saat lebaran. Umat Islam (khususnya di Indonesia) diajak untuk kembali menyadari sangkan paraning dumadi-nya. Bahwa kehadirannya di dunia ini berasal dari kedua orangtua yang mendapatkan amanah dari Tuhan.

Maka, pulang ke kampung halaman untuk sungkem kepada kedua orangtua dan sanak keluarga tidaklah sebatas meminta maaf atas segala kesalahan. Tetapi merupakan sarana agar umat Islam menyadari bahwa ia berasal dari Tuhan dan hanya akan kembali kepada-Nya.

Lebaran juga mengajak umat Islam untuk menjadi pribadi yang memiliki kebesaran hati, yaitu yang mampu kadzimin al-ghaida wal afiina an al-nas (menahan amarah dan memaafkan kepada sesama). Sikap besar hati atau lapang dada merupakan sikap terpuji yang kian meluruh dari kita.

Semakin hari, kita semakin sulit menahan amarah. Apalagi memaafkan dan meminta maaf. Seperti kita lihat akhir-akhir ini, terutama menjelang dan pasca kontestasi pemilu. Pertikaian di antara kita kian meruncing saja.

Setiap lebaran kita disibukkan dengan berbagai hal yang berbau ‘kulit’ saja. Kita lupa pada hal-hal yang esensi. Namun sungguh disayangkan, spirit agung dari lebaran ini belum menjadi fokus utama kita. Setiap lebaran kita disibukkan dengan berbagai hal yang berbau ‘kulit’ saja. Kita lupa pada hal-hal yang esensi.

Kita sibuk menyiapkan busana baru, sajian kue kering dan kawan-kawannya, makanan, pokoknya apa saja supaya kita terlihat ‘wah’ dan bahagia. Lebaran menjadi semacam panggung drama.

Selepas berhalal bi halal pun, bibir kembali disibukkan dengan ghibah, fitnah, dan mengujarkan kebencian. Tabiat sebelum dan sesudah Ramadan sama sekali tak ada beda. Bahkan lebih buruk lagi. Inilah akibat dari perlakuan kita pada lebaran. Ia hanya kita maknai sebagai ritual seremonial belaka. Tanpa ada kemauan menggali hikmah di dalamnya. Tanpa mau menghidupkan spirit agung yang diusungnya.

Malang, 10 Juni 2019

sigitpriatmoko
Dosen Prodi PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota Departemen Riset dan Kajian Lakpesdam PCNU Lamongan, Ketua komunitas menulis KBM Bojonegoro, Anggota FLP Lamongan, kontributor www.kampusdesa.or.id
Berita sebelumnyaPemberian dan Lebaran
Berita berikutnyaMenghargai Perokok Pasif
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.